Aceh masih dalam tahap pascabencana. Hingga kini delapan kabupaten/kota di Aceh menjadi fokus penanganan pemerintah karena banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada penghujung November 2025.
Menurut Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, hanya satu daerah saja yang dinyatakan pulih sepenuhnya, yaitu Kabupaten Aceh Besar. Sementara itu, sembilan kabupaten/kota lainnya tercatat sudah mendekati kondisi normal. "Aceh ini kami memang perlu bekerja lebih keras lagi karena di Aceh ini yang normal baru satu, yaitu Kabupaten Aceh Besar," ujar Tito.
Tio menyebut wilayah dataran tinggi Aceh masih menjadi perhatian utama, khususnya Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah. Di daerah-daerah tersebut, masih terdapat ruas jalan dan jembatan yang terputus akibat longsor. Jika tidak menggunakan jembatan sementara, warga harus menggunakan jalan alternatif.
Kondisi tersebut berdampak pada distribusi logistik masyarakat, terutama di wilayah dataran tinggi. Menurut Tito, warga tetap harus menyalurkan hasil produksi pertanian meski berada dalam situasi pascabencana. Di daerah highland, mereka harus mengeluarkan produk-produk seperti kopi dan cabai. Itu terus (diproduksi), meskipun sudah bencana kan tetap panen.
Sementara itu, wilayah dataran rendah Aceh juga masih menghadapi persoalan, terutama endapan lumpur. Daerah yang disebut masih terdampak antara lain Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.
Aceh Tamiang, kabupaten ini yang sebelumnya lumpuh total kini sudah mulai berangsur aktif dan bersih kembali. Menurut Tito, hanya dua daerah saja di Sumatera Barat yang masih memerlukan perhatian khusus karena banjir bandang dan tanah longsor. Dua daerah tersebut adalah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.
Tio menyebut Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara adalah dua wilayah yang memerlukan atensi khusus meskipun tidak menafikan tentunya yang lain. Kondisi di kedua daerah ini masih berat karena hambatan pemulihan dan penyebaran sedimentasi.
Menurut Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, hanya satu daerah saja yang dinyatakan pulih sepenuhnya, yaitu Kabupaten Aceh Besar. Sementara itu, sembilan kabupaten/kota lainnya tercatat sudah mendekati kondisi normal. "Aceh ini kami memang perlu bekerja lebih keras lagi karena di Aceh ini yang normal baru satu, yaitu Kabupaten Aceh Besar," ujar Tito.
Tio menyebut wilayah dataran tinggi Aceh masih menjadi perhatian utama, khususnya Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah. Di daerah-daerah tersebut, masih terdapat ruas jalan dan jembatan yang terputus akibat longsor. Jika tidak menggunakan jembatan sementara, warga harus menggunakan jalan alternatif.
Kondisi tersebut berdampak pada distribusi logistik masyarakat, terutama di wilayah dataran tinggi. Menurut Tito, warga tetap harus menyalurkan hasil produksi pertanian meski berada dalam situasi pascabencana. Di daerah highland, mereka harus mengeluarkan produk-produk seperti kopi dan cabai. Itu terus (diproduksi), meskipun sudah bencana kan tetap panen.
Sementara itu, wilayah dataran rendah Aceh juga masih menghadapi persoalan, terutama endapan lumpur. Daerah yang disebut masih terdampak antara lain Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.
Aceh Tamiang, kabupaten ini yang sebelumnya lumpuh total kini sudah mulai berangsur aktif dan bersih kembali. Menurut Tito, hanya dua daerah saja di Sumatera Barat yang masih memerlukan perhatian khusus karena banjir bandang dan tanah longsor. Dua daerah tersebut adalah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.
Tio menyebut Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara adalah dua wilayah yang memerlukan atensi khusus meskipun tidak menafikan tentunya yang lain. Kondisi di kedua daerah ini masih berat karena hambatan pemulihan dan penyebaran sedimentasi.