"Aceh Masih Dalam Proses Pemulihan, Sementara Itu Sumatera Barat Mulai Bangkit"
Kondisi provinsi Aceh masih menjadi perhatian utama pemerintah setelah banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi akhir November 2025. Menurut Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, hingga saat ini delapan kabupaten/kota di Aceh masih memerlukan penanganan pemerintah. Baru satu daerah, yaitu Kabupaten Aceh Besar, sudah dinyatakan sepenuhnya pulih.
"Perlu kita fokus pada wilayah dataran tinggi, khususnya Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah," kata Tito. Di daerah-daerah tersebut masih terdapat ruas jalan yang terputus akibat longsor. Warga harus menggunakan jembatan sementara atau alternatif lain untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Namun, tidak hanya itu, wilayah dataran rendah Aceh juga masih menghadapi persoalan, seperti endapan lumpur. Daerah yang terdampak antara lain Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.
"Sedimentasi di Sungai Batang Tor dan Sungai Garoga menjadi perhatian utama pemerintah," kata Tito. Selain itu, hambatan pemulihan masih terjadi pada sejumlah ruas jalan provinsi di Tapanuli Selatan.
Dalam rapat yang sama, Tito juga memaparkan perkembangan penanganan bencana di Sumatera Barat. Dari 19 kabupaten/kota di provinsi tersebut, sebanyak 16 wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Lima daerah sudah kembali normal, yakni Kabupaten Solok Selatan, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
"Kondisi Aceh masih memerlukan atensi khusus, tetapi Sumatera Barat mulai bangkit," kata Tito. Di Tapanuli Utara, terdapat dua daerah yang memerlukan perhatian khusus karena kondisinya sangat buruk.
"Sedimentasi di sungai-sungai tersebut masih banyak dan memerlukan pemulihan segera," ujarnya.
Kondisi provinsi Aceh masih menjadi perhatian utama pemerintah setelah banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi akhir November 2025. Menurut Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, hingga saat ini delapan kabupaten/kota di Aceh masih memerlukan penanganan pemerintah. Baru satu daerah, yaitu Kabupaten Aceh Besar, sudah dinyatakan sepenuhnya pulih.
"Perlu kita fokus pada wilayah dataran tinggi, khususnya Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah," kata Tito. Di daerah-daerah tersebut masih terdapat ruas jalan yang terputus akibat longsor. Warga harus menggunakan jembatan sementara atau alternatif lain untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Namun, tidak hanya itu, wilayah dataran rendah Aceh juga masih menghadapi persoalan, seperti endapan lumpur. Daerah yang terdampak antara lain Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.
"Sedimentasi di Sungai Batang Tor dan Sungai Garoga menjadi perhatian utama pemerintah," kata Tito. Selain itu, hambatan pemulihan masih terjadi pada sejumlah ruas jalan provinsi di Tapanuli Selatan.
Dalam rapat yang sama, Tito juga memaparkan perkembangan penanganan bencana di Sumatera Barat. Dari 19 kabupaten/kota di provinsi tersebut, sebanyak 16 wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Lima daerah sudah kembali normal, yakni Kabupaten Solok Selatan, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
"Kondisi Aceh masih memerlukan atensi khusus, tetapi Sumatera Barat mulai bangkit," kata Tito. Di Tapanuli Utara, terdapat dua daerah yang memerlukan perhatian khusus karena kondisinya sangat buruk.
"Sedimentasi di sungai-sungai tersebut masih banyak dan memerlukan pemulihan segera," ujarnya.