Kebutuhan Dasar dan Pemulihan Warga Aceh Tenggah Menjadi Tantangan Utama
Bumi Aceh yang kaya akan keindahan alam ini saat ini menghadapi tantangan besar setelah rangkaian bencana alam melanda pada akhir November 2025. Banjir bandang, luapan sungai, serta tanah longsor yang menerjang sejumlah daerah di bagian utara dan tengah Pulau Sumatera membuat ribuan warga masih menghadapi kesulitan pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan lingkungan tempat tinggal mereka.
Dua wilayah yang terdampak paling parah, yaitu Aceh Tamiang dan Aceh Utara, masih banyak keluarga yang bergantung pada bantuan untuk kebutuhan sehari-hari seperti pangan, air bersih, hingga perlengkapan tidur dan kebersihan diri. Aktivitas warga perlahan mulai kembali berjalan, namun kondisi di lapangan menunjukkan proses pemulihan belum sepenuhnya rampung.
Kerusakan rumah, fasilitas umum, serta persoalan sanitasi menjadi pekerjaan rumah utama. Menurut Direktur Utama PT Tiara Marga Trakindo (TMT), Muki Hamami, dampak bencana kali ini dirasakan sangat luas oleh masyarakat Aceh.
"Bencana ini berdampak sangat luas terhadap masyarakat. Karena itu melalui program ini, kami berharap dapat membantu meringankan beban warga dan mendukung proses pemulihan di Aceh agar masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan dengan lebih layak," ujar Muki dalam keterangannya.
Bantuan yang disalurkan mencakup berbagai kebutuhan esensial yang saat ini masih dibutuhkan warga terdampak. Mulai dari paket sembako, perlengkapan tempat tinggal darurat, alat masak, perlengkapan kebersihan diri, pakaian dalam, hingga perlengkapan tidur seperti kasur dan selimut.
Aspek kesehatan dan sanitasi menjadi perhatian utama dalam proses pemulihan. Menurut Corporate Communication TMT, Rani Hartanti, fokus utama mereka adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi secara menyeluruh, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan sanitasi.
"Kita harus memastikan bahwa warga mendapatkan akses terhadap air bersih, fasilitas kebersihan rumah yang baik, serta perawatan kesehatan yang memadai," kata Rani Hartanti.
Bumi Aceh yang kaya akan keindahan alam ini saat ini menghadapi tantangan besar setelah rangkaian bencana alam melanda pada akhir November 2025. Banjir bandang, luapan sungai, serta tanah longsor yang menerjang sejumlah daerah di bagian utara dan tengah Pulau Sumatera membuat ribuan warga masih menghadapi kesulitan pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan lingkungan tempat tinggal mereka.
Dua wilayah yang terdampak paling parah, yaitu Aceh Tamiang dan Aceh Utara, masih banyak keluarga yang bergantung pada bantuan untuk kebutuhan sehari-hari seperti pangan, air bersih, hingga perlengkapan tidur dan kebersihan diri. Aktivitas warga perlahan mulai kembali berjalan, namun kondisi di lapangan menunjukkan proses pemulihan belum sepenuhnya rampung.
Kerusakan rumah, fasilitas umum, serta persoalan sanitasi menjadi pekerjaan rumah utama. Menurut Direktur Utama PT Tiara Marga Trakindo (TMT), Muki Hamami, dampak bencana kali ini dirasakan sangat luas oleh masyarakat Aceh.
"Bencana ini berdampak sangat luas terhadap masyarakat. Karena itu melalui program ini, kami berharap dapat membantu meringankan beban warga dan mendukung proses pemulihan di Aceh agar masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan dengan lebih layak," ujar Muki dalam keterangannya.
Bantuan yang disalurkan mencakup berbagai kebutuhan esensial yang saat ini masih dibutuhkan warga terdampak. Mulai dari paket sembako, perlengkapan tempat tinggal darurat, alat masak, perlengkapan kebersihan diri, pakaian dalam, hingga perlengkapan tidur seperti kasur dan selimut.
Aspek kesehatan dan sanitasi menjadi perhatian utama dalam proses pemulihan. Menurut Corporate Communication TMT, Rani Hartanti, fokus utama mereka adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi secara menyeluruh, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan sanitasi.
"Kita harus memastikan bahwa warga mendapatkan akses terhadap air bersih, fasilitas kebersihan rumah yang baik, serta perawatan kesehatan yang memadai," kata Rani Hartanti.