Dalam survei baru yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI), diperoleh data menarik terkait penolakan masyarakat terhadap wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) lewat DPRD. Dari hasil survei tersebut, diperoleh bahwa lebih dari 84% responden generasi Z menolak secara mendadak ide tersebut.
Peneliti LSI, Ardian Sopa menyatakan bahwa penolakan wacana Pilkada oleh DPRD tidak hanya terjadi pada masyarakat yang berpendapatan rendah. Namun, kelompok masyarakat dengan pendapatan lebih tinggi juga menunjukkan tingkat penolakan yang besar. Data menunjukkan bahwa kebanyakan generasi memiliki opini yang sama dalam menolak ide tersebut.
Menurut Ardian, dalam survei ini diperoleh jawaban yang bervariasi dari berbagai kelompok masyarakat. Dari sisi laki-laki dan perempuan, warga desa maupun kota, bahkan kelompok ekonomi bawah dan atas semua menolak wacana tersebut.
Selain itu, peneliti juga menyatakan bahwa dampak penolakan ini sangat besar dan mengakar pada berbagai segmen masyarakat. Penolakan yang dihimpunkan oleh generasi Z terhadap wacana Pilkada oleh DPRD tidak hanya terjadi di perkotaan tetapi juga di daerah desa.
Data menunjukkan bahwa perbedaan penolakan antara kelompok masyarakat berpendapatan lebih tinggi dan yang kurang. Peneliti menyatakan bahwa kebanyakan generasi memiliki opini yang sama dalam menolak ide tersebut.
Peneliti LSI, Ardian Sopa menyatakan bahwa penolakan wacana Pilkada oleh DPRD tidak hanya terjadi pada masyarakat yang berpendapatan rendah. Namun, kelompok masyarakat dengan pendapatan lebih tinggi juga menunjukkan tingkat penolakan yang besar. Data menunjukkan bahwa kebanyakan generasi memiliki opini yang sama dalam menolak ide tersebut.
Menurut Ardian, dalam survei ini diperoleh jawaban yang bervariasi dari berbagai kelompok masyarakat. Dari sisi laki-laki dan perempuan, warga desa maupun kota, bahkan kelompok ekonomi bawah dan atas semua menolak wacana tersebut.
Selain itu, peneliti juga menyatakan bahwa dampak penolakan ini sangat besar dan mengakar pada berbagai segmen masyarakat. Penolakan yang dihimpunkan oleh generasi Z terhadap wacana Pilkada oleh DPRD tidak hanya terjadi di perkotaan tetapi juga di daerah desa.
Data menunjukkan bahwa perbedaan penolakan antara kelompok masyarakat berpendapatan lebih tinggi dan yang kurang. Peneliti menyatakan bahwa kebanyakan generasi memiliki opini yang sama dalam menolak ide tersebut.