Paham ekstremisme yang tergabung dalam komunitas The True Crime Community telah menjangkiti 70 anak di bawah umur, dengan 27 grup paham tersebut ditemukan bergerak di seluruh Indonesia. Dengan kemampuan berbagai multiplatform dan membangun propaganda melalui media sosial yang menarik, mereka berhasil menarik anak-anak muda ke dalam ideologi paham ekstremisme.
Banyak dari mereka terpapar karena perundungan dan latar belakang keluarga tidak normal. Beberapa di antara korban bullying di sekolah atau lingkungan masyarakat, sementara yang lain mengalami trauma dalam keluarga atau menyaksikan kekerasan di rumah. Sehingga mereka lebih rentan terhadap propaganda paham ekstremisme.
Densus 88 Antiteror telah menemukan adanya 27 grup paham ekstremisme tersebut, yang ditemukan bergerak selama kurun waktu sepanjang 2025. Anak-anak yang terpapar tersebut tersebar di 19 provinsi di Indonesia, dengan jumlah anak yang terkena paparan ini termasuk dari DKI Jakarta hingga Sultra.
Kombes Mayndra Eka Wardhana, Juru Bicara Densus 88 Antiteror, menyebutkan bahwa faktor utama yang membuat anak-anak muda terpapar paham ekstremisme adalah perundungan dan latar belakang keluarga tidak harmonis. "Rata-rata korban bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah," katanya.
Banyak dari mereka yang juga memiliki latar belakang trauma dalam keluarga atau menyaksikan kekerasan di rumah. Sehingga mereka lebih rentan terhadap propaganda paham ekstremisme yang menawarkan solusi untuk masalah-masalah tersebut.
Banyak dari mereka terpapar karena perundungan dan latar belakang keluarga tidak normal. Beberapa di antara korban bullying di sekolah atau lingkungan masyarakat, sementara yang lain mengalami trauma dalam keluarga atau menyaksikan kekerasan di rumah. Sehingga mereka lebih rentan terhadap propaganda paham ekstremisme.
Densus 88 Antiteror telah menemukan adanya 27 grup paham ekstremisme tersebut, yang ditemukan bergerak selama kurun waktu sepanjang 2025. Anak-anak yang terpapar tersebut tersebar di 19 provinsi di Indonesia, dengan jumlah anak yang terkena paparan ini termasuk dari DKI Jakarta hingga Sultra.
Kombes Mayndra Eka Wardhana, Juru Bicara Densus 88 Antiteror, menyebutkan bahwa faktor utama yang membuat anak-anak muda terpapar paham ekstremisme adalah perundungan dan latar belakang keluarga tidak harmonis. "Rata-rata korban bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah," katanya.
Banyak dari mereka yang juga memiliki latar belakang trauma dalam keluarga atau menyaksikan kekerasan di rumah. Sehingga mereka lebih rentan terhadap propaganda paham ekstremisme yang menawarkan solusi untuk masalah-masalah tersebut.