70 Anak di Indonesia Terpapar Grup Kekerasan Ekstremisme

Banyak Anak di Indonesia Terpapar Ideologi Ekstremisme Melalui Media Sosial
Densus 88 Antiteror menemukan 27 grup paham ekstremisme yang diikuti 70 anak di bawah umur. Mereka berjejaring dalam berbagai platform media sosial dan memiliki pemahaman kekerasan yang dianutnya.

Grup-grup ini ditemukan dalam kurun waktu sepanjang 2025 dan anak-anak yang terpapar tersebut tersebar di 19 provinsi di Indonesia. Paling banyak paparan berada di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan lain-lain.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana, menyatakan bahwa anak-anak yang terpapar paham ekstremisme memang kerap menyasar lingkungan sekolah dan pertemanannya. Faktornya seperti perundungan, latar belakang tidak normal dalam kehidupan, perceraian orang tua, keluarga tidak harmonis, trauma dalam keluarga, atau kerap menyaksikan kekerasan di rumah.

Mayndra juga menyebutkan bahwa beberapa kasus yang ditangani karena melakukan aksi adalah anak 14 tahun di Jepara, Jawa Tengah, yang mengunggah video kekerasan berupa rencana penembakan teman sekolahnya, pada Oktober 2025. Kemudian, ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara, pada November 2025.

Densus 88 Antiteror juga menemukan bahwa anak-anak yang terpapar paham ekstremisme memang kerap menyasar lingkungan sekolah dan pertemanannya. Sehingga, perlu ada upaya untuk mengurangi paparan ideologi ekstremisme melalui media sosial dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya ideologi ekstremisme.

"Selanjutnya di Kalbar pada 8 Desember 2025 juga demikian, cepat terdeteksi dan dicegah. Di Jawa Timur, 17 Desember 2025, dicegah untuk tidak melakukan aksi. Dan kemudian pada tanggal 22 Desember 2025," ujar Mayndra.

Dengan mengedukasi anak-anak dan masyarakat tentang bahaya ideologi ekstremisme, kita dapat mengurangi paparan ideologi ekstremisme melalui media sosial.
 
Kita harus lebih berhati-hati banget kalau anak-anak kita bisa terpapar ideologi ekstremisme melalui media sosial 🚨. Karena kalau sudah terinfeksi, itu bisa jadi perubahan besar dalam pikirannya. Maka dari itu, kita harus meningkatkan kesadaran kita tentang bahaya ini dan juga berupaya untuk mengurangi paparnya di kalangan anak-anak kita 💡.
 
🤔 Kalo lihat situasi ini, rasa perlu kita buat kesadaran lebih tinggi kalau anak-anak di Indonesia ada yang terkena ideologi ekstremisme dari media sosial. Ada banyak faktor yang mempengaruhi anak-anak, misalnya perundungan, keluarga tidak harmonis, atau trauma dalam keluarga. Kita perlu berusaha mengurangi paparan mereka dengan cara edukasi yang tepat dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya ideologi ekstremisme. 📚💻
 
Anak2 kecil di Indonesia udah banyak terpapar ideologi ekstremisme dari media sosial ni... 😱 Kita harus hati-hati kalau anak-anak kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik, atau ada masalah di rumah, atau trauma yang terjadi... 🤕 Mereka bisa jadi diserang oleh grup-grup yang mempromosikan ideologi ekstremisme. Dan itu sangatlah berbahaya! 🚨
 
"Yaa, sepertinya anak-anak muda di Indonesia ini terlalu mudah tergoda oleh kekuatan media sosial yang tak beraturan 🤔. Mereka membutuhkan perhatian orang tua dan pendidikan yang lebih baik tentang konseptu kekerasan dan ekstremisme. Banyak faktor yang membuat mereka terpapar, seperti lingkungan sekolah yang tidak kondusif atau trauma di rumah 🏠. Tapi, aku rasa kita harus waspada dengan hal ini juga, karena media sosial itu bisa jadi alat yang sangat berkuasa dalam membawa ideologi ekstremisme ke kalangan masyarakat 💻. Aku harap pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan akan bekerja sama untuk mengurangi paparan ideologi ekstremisme melalui media sosial, agar kita bisa membuat generasi muda Indonesia yang lebih bijak dan tidak mudah tergoda oleh kekuatan negatif 🤞"
 
Paham banget sih, tapi apa yang bisa dilakukan? Aku rasa harus ada upaya dari orang tua atau penjaga anak-anak agar mereka tidak terpapar hal-hal negatif di internet. Karena sekarang anak-anak kita sangat aktif di media sosial dan mudah terinfluensi oleh orang lain 🤔
 
Ada masalah krisis keamanan di Indonesia lagi. Mereka bilang anak-anak 70 anak terpapar paham ekstremisme? Siapa yang bertanggung jawab? Menteri Pendidikan atau Kementerian Komunikasi dan Informatika? Jangan lupa, banyak anak muda di Indonesia yang kehilangan orang tuanya karena perang punya ayah. Mereka harus dibina kembali dengan cara yang tepat, bukan hanya dengan mengatur media sosial.
 
ini kayaknya bukan hal yang terlalu bingung kan? media sosial itu memang sangat berdampak baik atau buruk tergantung bagaimana kita gunakan. tapi jangan dibuat sembarangan ya, kita harus lebih teliti dengan apa yang kita lihat dan dibaca di sana. kalau anak-anak bisa menjadi korban dari ideologi ekstremisme itu bukan mainan, tapi kita harus peduli dan mengedukasi mereka tentang bahaya itu.

saya rasa pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan juga harus lebih proaktif dalam mencegah hal ini. karena kalau sudah terjadi, itu akan sulit untuk diatasi. kita perlu membuat kurikulum pendidikan yang lebih fokus pada mengedukasi anak-anak tentang keseimbangan hidup, toleransi, dan tidak membiarkan diri sendiri terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik.

dan kita juga harus mengawasi media sosial itu dengan lebih ketat, karena kalau tidak, itu bisa menjadi saluran bagi ideologi ekstremisme untuk menyebar. tapi jangan lupa, kita juga harus membiarkan anak-anak memiliki privasi dan kebebasan berbicara, karena itu juga bagian dari hak asasi manusia ya 😊
 
Kalau kalian dengerin kabar tentang anak-anak yang terpapar ideologi ekstremisme melalui media sosial? Itu benar-benar mengejutkan, kan? Mereka berjejaring dalam platform media sosial dan memiliki pemahaman kekerasan yang aneh. Saya rasa ini bukti bahwa kita harus lebih hati-hati dengan apa yang kita konsumsi di internet.

Saya ingat saat saya masih kecil, di rumah tidak ada wifi, jadi kami tidak bisa berhubungan dengan anak-anak lain melalui media sosial. Dan sekarang, ada banyak kasus anak-anak yang terpapar ideologi ekstremisme karena kesenangan mereka dalam mengunjungi platform online.

Mungkin kita harus membuat aturan lebih ketat untuk anak-anak di bawah umur agar tidak bisa berinteraksi dengan media sosial. Atau, kita harus lebih serius dalam memberikan edukasi tentang bahaya ideologi ekstremisme melalui sekolah dan komunitas. Kita harus membuat lingkungan yang aman dan sehat bagi anak-anak di Indonesia 😊
 
Paham aja kalau media sosial itu bisa bikin anak-anak keterguncian 🤣. Tapi serius, paham apa? Ada banyak anak yang terpapar ideologi ekstremisme di media sosial dan sekarang nanti kita harus khawatir siapa yang akan menjadi radicalis terbaru 😂.

Mengenai hal ini, saya pikir lebih baik kalau orang tua atau pengasuh anak-anak itu sudah tahu tentang media sosial dan bagaimana cara menghindarkannya. Sehingga anak-anak tidak bisa terlalu mudah terpapar ideologi ekstremisme. Kalau gak, kita harus siap untuk melihat anak-anak menjadi "radicalis" yang pintar 🤔.

Dan apa aja yang bisa dilakukan? Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya ideologi ekstremisme itu tidak main kecil 🤦‍♂️. Selain itu, kita juga harus edukasi anak-anak tentang media sosial dan bagaimana cara menggunakan internet dengan bijak.

Aku rasa ini bukan masalah serius banget, kalau gak karena kalau tidak ada yang tahu maka semua orang bisa menjadi "radicalis" 😅. Tapi aku juga harap semuanya bisa saling mengerti dan tidak membantu membiarkan anak-anak menjadi korban ideologi ekstremisme 🤝.
 
Pernah terbayang di dalam kepala kalau anak-anak kita bisa dipengaruhi oleh apa saja melalui media sosial... Sepertinya ini bukanlah masalah yang baru, tapi kayaknya harus diperhatikan juga. Kalau anak-anak kita bisa dipengaruhi oleh ideologi ekstremisme, itu berarti kita tidak bisa terlalu santai dengan cara kita mengatur media sosial kita. Kita harus lebih teliti, tapi bukan berarti kita harus membatasi kebebasan anak-anak kita juga... Kita harus jaga agar mereka bisa berpikir sendiri, tapi juga tidak pernah dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak baik...
 
Paparan ideologi ekstremisme pada anak-anak di Indonesia memang semakin sering terjadi 🤕. Aku pikir salah satu faktornya adalah karena banyak orang tua tidak jujur menghadapi masalah keluarga mereka, sehingga anak-anak akhirnya mengikuti grup-grup yang bergerak dalam ideologi ekstremisme 😔. Selain itu, paparan media sosial juga menjadi salah satu faktor utama, karena banyak anak-anak yang terpapar dengan konten-konten yang tidak pantas dan membuat mereka semakin jatuh pada ideologi ekstremisme 📱.

Aku juga pikir penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya ideologi ekstremisme. Maka dari itu, perlu ada upaya untuk mengedukasi anak-anak dan orang tua tentang isu ini, serta menemukan cara-cara baru untuk mencegah paparan ideologi ekstremisme pada anak-anak 📚.
 
kembali
Top