70 Anak di Indonesia Terpapar Grup Kekerasan Ekstremisme

Terkurung dalam dunia maya, anak-anak berusia 11-18 tahun di Indonesia terpapar paham ekstremisme yang bisa memicu kekerasan. Menurut Densus 88 Antiteror, ada 27 grup paham ekstremisme yang diikuti oleh anak-anak tersebut. Grup-grup ini berjejaring dalam multiplatform dan memiliki pemahaman kekerasan yang dianut.

Kombes Mayndra Eka Wardhana, juru bicara Densus 88 Antiteror, mengatakan bahwa grup-grup ekstremisme ini ditemukan dalam kurun waktu sepanjang 2025. Anak-anak tersebut tersebar di 19 provinsi di Indonesia dan banyak dari mereka yang memiliki latar belakang trauma, seperti perceraian orang tua atau bullying di sekolah.

"Perkembangan propaganda melalui media sosial membangkitkan semangat untuk menjadikan ideologi paham ekstremisme sebagai inspirasi," kata Mayndra dalam konferensi pers. Beberapa kasus yang ditangani oleh Densus 88 Antiteror karena melakukan aksi kekerasan adalah anak 14 tahun di Jepara, Jawa Tengah, yang mengunggah video kekerasan berupa rencana penembakan teman sekolahnya.

Selain itu, ada juga ledutan di SMAN 72 Jakarta Utara dan di Kalbar pada Desember 2025. Densus 88 Antiteror berhasil mencegah aksi kekerasan tersebut. Mayndra mengakui bahwa anak-anak yang terpapar paham ekstremisme memang kerap menyasar lingkungan sekolah dan pertemanannya.

"Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah," kata Mayndra.
 
Pokoknya paham ekstremisme ini sangat berbahaya banget! Anak-anak itu masih kecil-kecilan tapi sudah terkena ideologi yang bisa bikin mereka melakukan hal-hal yang salah dan berdampak pada orang lain 😱. Saya rasa perlu ada usaha lebih dari itu untuk mencegah anak-anak ini dari terkena propaganda seperti ini. Mungkin bisa dengan menguatkan pendidikan moral dan nilai-nilai di sekolah, serta membuat lingkungan di rumah dan masyarakat yang positif dan membantu 💡.
 
ini gue pikir apa itu paham ekstremisme yang nggak tepat banget kalau diikuti anak-anak usia 11-18 tahun. seru banget sih bagaimana anak-anak kecil itu bisa terpengaruh dengan hal itu, gimana caranya kalau mereka bilang 'aku mau membalas dendam' atau apa pun hal yang bisa berkeras? padahal mereka belum punya pengalaman nyata nih. tapi ayo kita jangan asyik cemas, karena sekarang ada Densus 88 Antiteror yang nggak sabar-sabar mencegah aksi kekerasan seperti itu. padahal gue pikir masih banyak cara lain untuk mengatasi trauma atau kekecewaan anak-anak, misalnya dengan bantuan dari orang tua atau konselor. tapi setidaknya Densus 88 Antiteror udah ada dan bekerja keras untuk mencegah aksi seperti itu... 😕
 
ini lagi apa? anak-anak kita lagi menjadi korban siapa lagi... tapi sengaja tidak disebutkan siapa yang salah ya? kenapa lagi harus menuduh anak-anak itu kalah dalam permainan propaganda media sosial? itu seperti memberi hak pada orang tua yang membiarkan anak-anak mereka terpapar hal-hal yang boleh tidak dihormati. kalau mau tahu sumber kekerasan, cari dulu di tempat keluarga atau sekolah ya, jangan lagi menuduh anak-anak yang terlalu muda!
 
ada yang bingung sih, apa salahnya kalau anak-anak itu ikut grup ekstremisme? malah kapan kalau mereka ngeluhin nge- bullying di sekolah, tapi ternyata di luar sekolah mereka jadi 'pembunuh' sendiri aja 🤔👀
 
😔 aku rasa ini bikin aku khawatir banget... anak-anak kita yang masih muda dan berisiko terpapar paham ekstremisme itu, mereka masih baya-baya aja 🤕 dan tidak tahu tentang kehidupan di dunia nyata. siapa yang nanti akan menjadi korban atau pelaku kekerasan? 🤷‍♂️ aku harap ada cara yang bisa menghilangkan paham ekstremisme itu dari mereka sebelum keterpurukaan semakin parah 😔
 
🤔 Masih aja nggak ada solusi yang efektif banget buat anak-anak yang terpapar paham ekstremisme di Indonesia. Mereka terus-terusan membangun komunitas online yang mempromosikan kekerasan dan ekstremisme. Apa pun cara kita coba, mereka tetap bisa memilih untuk melakukan hal yang salah.

Saya rasa perlu ada upaya yang lebih intensif dari pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan untuk mendeteksi anak-anak yang terpapar paham ekstremisme. Tapi apa pun itu, kita harus bisa memberikan alternatif positif buat mereka, seperti melalui program-program yang membantu mereka mengelola emosi dan membangun kepercayaan diri.

Saya juga penasaran kenapa banyak anak-anak di Indonesia yang memiliki latar belakang trauma, seperti perceraian orang tua atau bullying di sekolah. Kita harus bisa memberikan bantuan dan dukungan buat mereka, agar mereka tidak terus-terusan menjadi korban paham ekstremisme. 🤝
 
kembali
Top