Venezuela telah menjadi sorotan kekuatan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Operasi militer yang menggulingkan Presiden Nicolás Maduro, yang memicu gelombang kritik internasional dan menimbulkan spekulasi baru tentang target intervensi berikutnya.
Doktrin Monroe yang dikemukakan dua abad lalu oleh Monroe, yang potretnya tergantung di dekat meja Trump, kembali menjadi landasan retorika untuk mencaplok atau menekan negara-negara berdaulat lainnya. Pernyataan Donald Trump tentang AS "membutuhkan" Greenland untuk alasan keamanan nasional di kawasan Arktik juga menimbulkan ketegangan besar.
Kendati demikian, ada beberapa wilayah yang menjadi sasaran empuk Amerika Serikat kali ini. Pertama, Iran, yang memiliki hubungan ketat dengan AS dan telah menjadi sasaran kebijakan luar negeri Washington sejak Donald Trump menjabat. Kedua, Kolombia, yang telah menjadi sorotan kekuatan AS dalam beberapa tahun terakhir karena perjuangannya melawan narkoba kokain. Ketiga, Kuba, yang telah menjadi sasaran kebijakan luar negeri AS sejak revolusi 1959.
Namun, ada juga dua wilayah lain yang harus diwaspadai, yaitu Terusan Panama dan Meksiko. Terusan Panama adalah jalur penting perdagangan dunia yang akan memberi AS dominasi strategis atas jalur pelayaran global jika dikendalikan oleh Amerika Serikat. Sementara itu, Meksiko telah menjadi sorotan retorika Trump karena perjuangannya melawan kartel narkoba.
Pernyataan dan tindakan terbaru dari pemerintahan AS menunjukkan peningkatan retorika agresif di panggung global, yang dapat menimbulkan ketegangan lebih lanjut dengan berbagai negara berdaulat. Meski banyak dari ancaman ini masih berupa retorika politik, ancaman nyata terhadap kedaulatan dan stabilitas beberapa negara tak bisa diabaikan begitu saja.
Jadi, tidak akan ada jawaban pasti apakah AS akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap wilayah-wilayah tersebut. Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa peningkatan retorika agresif dari pemerintahan AS di panggung global harus menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat internasional.
Doktrin Monroe yang dikemukakan dua abad lalu oleh Monroe, yang potretnya tergantung di dekat meja Trump, kembali menjadi landasan retorika untuk mencaplok atau menekan negara-negara berdaulat lainnya. Pernyataan Donald Trump tentang AS "membutuhkan" Greenland untuk alasan keamanan nasional di kawasan Arktik juga menimbulkan ketegangan besar.
Kendati demikian, ada beberapa wilayah yang menjadi sasaran empuk Amerika Serikat kali ini. Pertama, Iran, yang memiliki hubungan ketat dengan AS dan telah menjadi sasaran kebijakan luar negeri Washington sejak Donald Trump menjabat. Kedua, Kolombia, yang telah menjadi sorotan kekuatan AS dalam beberapa tahun terakhir karena perjuangannya melawan narkoba kokain. Ketiga, Kuba, yang telah menjadi sasaran kebijakan luar negeri AS sejak revolusi 1959.
Namun, ada juga dua wilayah lain yang harus diwaspadai, yaitu Terusan Panama dan Meksiko. Terusan Panama adalah jalur penting perdagangan dunia yang akan memberi AS dominasi strategis atas jalur pelayaran global jika dikendalikan oleh Amerika Serikat. Sementara itu, Meksiko telah menjadi sorotan retorika Trump karena perjuangannya melawan kartel narkoba.
Pernyataan dan tindakan terbaru dari pemerintahan AS menunjukkan peningkatan retorika agresif di panggung global, yang dapat menimbulkan ketegangan lebih lanjut dengan berbagai negara berdaulat. Meski banyak dari ancaman ini masih berupa retorika politik, ancaman nyata terhadap kedaulatan dan stabilitas beberapa negara tak bisa diabaikan begitu saja.
Jadi, tidak akan ada jawaban pasti apakah AS akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap wilayah-wilayah tersebut. Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa peningkatan retorika agresif dari pemerintahan AS di panggung global harus menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat internasional.