Bulan Oktober-November 2025, Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia mengadakan survei dan menemukan bahwa program Kampung Nelayan Merah Putih masih fokus di Jawa. Asal-usulnya ada 65 Kampung Nelayan yang tersebar di seluruh Indonesia, tetapi terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih, hingga total 273 penyuluh.
Mengenai perkembangan program ini, Luthfian Haekal, Human Right Manager DFW, mengatakan bahwa Kampung Nelayan sangat mematangkan di Jawa. Bahkan ada daerah yang sama sekali belum memiliki program ini. Salah satunya adalah Kalimantan. Kemudian ada sejumlah kawasan yang tidak terinstal dengan jumlah yang banyak.
Misalnya, Papua dan Kepulauan Riau hanya memiliki sedikit Kampung Nelayan, yaitu 1-2 di Papua dan 3 di Kepulauan Riau. Jumlah itu berbanding terbalik dengan total Kampung Nelayan yang ada di Jawa.
Menurut Haekal, penyebaran program ini menunjukkan bahwa Pemerintah Pusat masih fokus pada pembangunan di daerah-daerah Jawa. Ini menunjukkan bahwa infrastrukturnya yang mapan itu masih dimaksimalkan di daerah-daerah tersebut dan bukan dimanfaatkan untuk daerah-daerah yang membutuhkan intervensi.
Selain itu, jumlah penyuluh di Kampung Nelayan yang terletak di luar Jawa juga sangat sedikit. Di Kepulauan Riau hanya ada tiga penyuluh untuk tiga Kampung Nelayan, sehingga hanya satu penyuluh untuk setiap Kampung Nelayan.
"Daerah dengan akses yang rendah, utamanya daerah timur, memiliki jumlah personel yang sangat terbatas. Fungsi pembinaan koperasi ini menjadi administratif saja dan tidak bisa berkembang secara proses penguatan kelembagaan," kata Haekal.
Mengenai perkembangan program ini, Luthfian Haekal, Human Right Manager DFW, mengatakan bahwa Kampung Nelayan sangat mematangkan di Jawa. Bahkan ada daerah yang sama sekali belum memiliki program ini. Salah satunya adalah Kalimantan. Kemudian ada sejumlah kawasan yang tidak terinstal dengan jumlah yang banyak.
Misalnya, Papua dan Kepulauan Riau hanya memiliki sedikit Kampung Nelayan, yaitu 1-2 di Papua dan 3 di Kepulauan Riau. Jumlah itu berbanding terbalik dengan total Kampung Nelayan yang ada di Jawa.
Menurut Haekal, penyebaran program ini menunjukkan bahwa Pemerintah Pusat masih fokus pada pembangunan di daerah-daerah Jawa. Ini menunjukkan bahwa infrastrukturnya yang mapan itu masih dimaksimalkan di daerah-daerah tersebut dan bukan dimanfaatkan untuk daerah-daerah yang membutuhkan intervensi.
Selain itu, jumlah penyuluh di Kampung Nelayan yang terletak di luar Jawa juga sangat sedikit. Di Kepulauan Riau hanya ada tiga penyuluh untuk tiga Kampung Nelayan, sehingga hanya satu penyuluh untuk setiap Kampung Nelayan.
"Daerah dengan akses yang rendah, utamanya daerah timur, memiliki jumlah personel yang sangat terbatas. Fungsi pembinaan koperasi ini menjadi administratif saja dan tidak bisa berkembang secara proses penguatan kelembagaan," kata Haekal.