Dua puluh sembilan (29) desa di wilayah Aceh dan Sumatra Utara dinyatakan hilang akibat bencana banjir dan longsor. Desa-desa tersebut menjadi teralih fungsinya sebagai aliran sungai. "Nah, ini desa-desanya ada yang jadi sungai, Pak Ketua! Jadi, banyak desa yang selama ini ada di sempadan sungai, ketika banjir, sungai pindah ke desa itu, sehingga desanya benar-benar hilang," ungkap Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta.
Meskipun ada desa yang hilang, warga setempat masih ada dan mereka harus terpaksa mengungsi. Kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi kementeriannya. "Tapi penduduknya, termasuk kepala desanya dan perangkat lainnya tetap ada, mengungsi, Pak Ketua! Jadi ini mungkin yang PR terberat di kami," lanjutnya.
Dari total desa yang hilang, sebanyak 21 desa berada di wilayah Aceh dan delapan desa di Sumatra Utara. Selain menjadi sungai, sejumlah desa juga tertimbun material lumpur akibat longsor. "Yaitu di Aceh ada 21 desa. Ini benar-benar hilang, Ketua! Ada yang tadi saya bilang ada jadi sungai, ada yang tertimbun lumpur, Pak Ketua! Jadi sudah, desanya sudah nggak ada," kata Yandri.
Kerusakan tersebut mencakup seluruh bangunan dan fasilitas pendukung desa. Untuk menangani persoalan ini, Kemendes PDT melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, serta melakukan pemetaan dan pembaruan data terkait desa-desa yang hilang. "Pertama, kami mengkoordinasikan dengan Kementerian/Lembaga, itu sudah pasti. Karena kami tetap mengacu kepada Keppres Nomor 1 Tahun 2026 di mana Pak Mendagri sebagai Ketua Satgas," ucap Yandri.
Selain itu, Kemendes PDT menyiapkan penyediaan lahan untuk relokasi desa yang hilang agar dapat berpindah ke lokasi yang lebih aman dari ancaman bencana. "Kemudian penyusunan perencanaan dan sebagainya. Penyediaan lahan, tadi sudah disinggung juga oleh Pak Menteri PKP, karena kami di bawah koordinasi beliau, untuk memastikan bahwa kalau terjadi relokasi, desanya aman, Pak Ketua. Tidak lagi terancam banjir atau longsor, sehingga itu menjadi desa yang aman dari bencana banjir yang akan datang," jelas Yandri.
Sebagai langkah akhir, Kemendes PDT akan melakukan rekonstruksi sarana dan prasarana dasar di desa terdampak, sekaligus mendorong pemulihan ekonomi masyarakat. "Yang kelima, rekonstruksi sarana dan prasarana dasar. Ini ada rumah, tentu ada kelengkapannya sarana air bersih, sarana pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya," kata Yandri.
"Pemulihan ekonomi, ini penting di tingkat desa nanti. Ada desa tematik, UMKM, BUMDes, Kopdes, dan tentu ada pasar desa," pungkasnya.
Meskipun ada desa yang hilang, warga setempat masih ada dan mereka harus terpaksa mengungsi. Kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi kementeriannya. "Tapi penduduknya, termasuk kepala desanya dan perangkat lainnya tetap ada, mengungsi, Pak Ketua! Jadi ini mungkin yang PR terberat di kami," lanjutnya.
Dari total desa yang hilang, sebanyak 21 desa berada di wilayah Aceh dan delapan desa di Sumatra Utara. Selain menjadi sungai, sejumlah desa juga tertimbun material lumpur akibat longsor. "Yaitu di Aceh ada 21 desa. Ini benar-benar hilang, Ketua! Ada yang tadi saya bilang ada jadi sungai, ada yang tertimbun lumpur, Pak Ketua! Jadi sudah, desanya sudah nggak ada," kata Yandri.
Kerusakan tersebut mencakup seluruh bangunan dan fasilitas pendukung desa. Untuk menangani persoalan ini, Kemendes PDT melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, serta melakukan pemetaan dan pembaruan data terkait desa-desa yang hilang. "Pertama, kami mengkoordinasikan dengan Kementerian/Lembaga, itu sudah pasti. Karena kami tetap mengacu kepada Keppres Nomor 1 Tahun 2026 di mana Pak Mendagri sebagai Ketua Satgas," ucap Yandri.
Selain itu, Kemendes PDT menyiapkan penyediaan lahan untuk relokasi desa yang hilang agar dapat berpindah ke lokasi yang lebih aman dari ancaman bencana. "Kemudian penyusunan perencanaan dan sebagainya. Penyediaan lahan, tadi sudah disinggung juga oleh Pak Menteri PKP, karena kami di bawah koordinasi beliau, untuk memastikan bahwa kalau terjadi relokasi, desanya aman, Pak Ketua. Tidak lagi terancam banjir atau longsor, sehingga itu menjadi desa yang aman dari bencana banjir yang akan datang," jelas Yandri.
Sebagai langkah akhir, Kemendes PDT akan melakukan rekonstruksi sarana dan prasarana dasar di desa terdampak, sekaligus mendorong pemulihan ekonomi masyarakat. "Yang kelima, rekonstruksi sarana dan prasarana dasar. Ini ada rumah, tentu ada kelengkapannya sarana air bersih, sarana pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya," kata Yandri.
"Pemulihan ekonomi, ini penting di tingkat desa nanti. Ada desa tematik, UMKM, BUMDes, Kopdes, dan tentu ada pasar desa," pungkasnya.