28 Kecamatan Lebak Berpotensi Tanah Bergetar, Masyarakat Waspada
Dalam beberapa hari terakhir, 28 kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, berpotensi mengalami pergerakan tanah. Hal ini dikarenakan peningkatan curah hujan yang menyebabkan tekanan tanah meningkat.
Potensi pergerakan tanah tersebut terkait dengan geologi alam daerah, yaitu adanya perbukitan, pegunungan, dan sungai. Pemetaan daerah rawan bencana pergerakan tanah tersebut dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG) Bandung.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam untuk waspada dan siaga. Jika terjadi pergerakan tanah, maka masyarakat harus segera meninggalkan rumahnya dan mencari tempat yang aman.
Saat ini, sebanyak 146 rumah rusak ringan, sedang, dan berat akibat pergerakan tanah pada Desember 2025 sampai Senin (26/1/2026). Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Masyarakat di daerah rawan bencana alam harus terus waspada dan siaga agar tidak menimbulkan korban jiwa.
Seorang warga yang tinggal di Kampung Marga Mulya, Kecamatan Cikulur, mengaku khawatir kondisi rumahnya rusak berat dan hampir roboh akibat pergerakan tanah. Ia menyatakan bahwa jika curah hujan meningkat lagi, maka keluarganya harus menginap di rumah kerabat karena khawatir roboh.
Dalam beberapa hari terakhir, 28 kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, berpotensi mengalami pergerakan tanah. Hal ini dikarenakan peningkatan curah hujan yang menyebabkan tekanan tanah meningkat.
Potensi pergerakan tanah tersebut terkait dengan geologi alam daerah, yaitu adanya perbukitan, pegunungan, dan sungai. Pemetaan daerah rawan bencana pergerakan tanah tersebut dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG) Bandung.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam untuk waspada dan siaga. Jika terjadi pergerakan tanah, maka masyarakat harus segera meninggalkan rumahnya dan mencari tempat yang aman.
Saat ini, sebanyak 146 rumah rusak ringan, sedang, dan berat akibat pergerakan tanah pada Desember 2025 sampai Senin (26/1/2026). Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Masyarakat di daerah rawan bencana alam harus terus waspada dan siaga agar tidak menimbulkan korban jiwa.
Seorang warga yang tinggal di Kampung Marga Mulya, Kecamatan Cikulur, mengaku khawatir kondisi rumahnya rusak berat dan hampir roboh akibat pergerakan tanah. Ia menyatakan bahwa jika curah hujan meningkat lagi, maka keluarganya harus menginap di rumah kerabat karena khawatir roboh.