1 Jenazah Korban ATR 42-500 Tiba di Posko DVI untuk Identifikasi

Saat ini, di Posko DVI Polda Sulawesi Selatan, berada satu dari dua jenazah korban pesawat ATR 42-500 yang dibawa mobil ambulans milik Kodam XIV/Hasanuddin. Jenis kelamin korban diperkirakan perempuan, dan diketahui tiba di posko setelah melalui proses identifikasi.

Menurut informasi Dirops Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, mobil ambulans yang membawa jenazah tersebut melakukan serah terima jasad korban ke tim DVI Polda Sulsel. Hal ini bertujuan untuk proses identifikasi sebelum diserahkan kepada keluarga korban.

Selain itu, menurut informasi Brigjen dr. A. Nyoman Edy Purnama Sp.FM, tim yang terdiri dari dokter spesialis forensik, dokter gigi forensik, dan ahli DNA langsung melakukan pemeriksaan pada jasad korban untuk proses identifikasi. Hal ini dilakukan setelah serah terima korban.

Menurut informasi Yudhi, dua hari lamanya tim DVI Polda Sulsel mengalami kesulitan dalam mengevakuasi jasad korban yang berada di jurang kedalaman 500 meter karena kondisi medan ekstrem. Hal ini terjadi sejak ditemukan sampai tadi siang hujan deras, sehingga setelah reda baru bisa dievakuasi ke posko Tompobulu sekitar pukul 16.30 WITA.

Pada saat serah terima, tim DVI Polda Sulsel melakukan pengumpulan ciri-ciri post mortem pada korban dan mengumpulkan data ante mortem sebelum dilakukan rekonsiliasi (pencocokan).
 
Aku rasa ini banget bikin trauraa πŸ€•. Saya lihat kabar itu dari news online, dan aku rasa sangat sedih banget mendengar korban pesawat itu masih bingung siapa korbannya. Apalagi karena harus lewat proses identifikasi yang panjang dan sulit, aku rasa ini memang salah satu contoh bagaimana kesulitan dalam mengevakuasi jasad korban yang berada di tempat-tempat sulit akses.

Tapi apa yang aku lihat sekarang adalah tim DVI Polda Sulsel yang sangat profesional dan berdedikasi untuk menghadapi situasi ini. Mereka melakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk proses identifikasi korban, bahkan waktunya juga sangat lama karena kondisi medan ekstrem itu memang tidak sedikit menantang.

Aku rasa kita harus selalu menghargai kekerabatan dan kesetiaan tim yang bekerja di DVI Polda Sulsel. Mereka mungkin tidak mendapatkan perhatian terlalu banyak, tapi mereka benar-benar membuat perbedaan dalam proses identifikasi korban pesawat itu.
 
πŸ€” apa sih kebenaran dari serah terima jasad korban pesawat ATR 42-500? mengapa harus melakukan pemeriksaan DNA pada jenazah yang sudah berada di mobil ambulans selama beberapa jam? kalau begitu seharusnya sudah ada bukti-bukti yang cukup untuk proses identifikasi. dan apa sih kondisi medan ekstrem yang membuat tim DVI Polda Sulsel kesulitan mengevakuasi jasad korban? 🚧
 
Gue rasa kayaknya proses identifikasi jenazah kena sangat berat dulu, kena tunggu hujan deras 2 hari aja. Gue punyai temen yang jauhnya sibuk sama-samanya di luar nagari, gue penasaran nih bagaimana caranya kalau udah terjun ke jurang, siapa nanti yang pertama kali nggak bisa kembali lagi?
 
Gue pikir ini benar-benar tragedi, kenapa harus jadi begitu? Jenazah korban masih banyak yang belum diketahui, apalagi kisah keluarga korban, ini semua bikin kita sedih. Dan aja karena kondisi medan ekstrem, tim DVI Polda Sulsel harus menghadapi kesulitan, ini jadi bukti bahwa kita masih banyak yang perlu belajar dan diperbaiki. Gue berharap bisa memberikan solusi yang tepat agar hal seperti ini tidak terjadi lagi...
 
Kasus ini benar-benar membuatku sedih banget πŸ€•. Saya pikir jadi apa kena dilakukan itu? Jika korban masih bisa ditekan identitasnya, maka lebih baik segera diserahkan ke keluarga nanti gak? Sementara ada yang harus dipertimbangkan agar proses ini tidak terlambat dan korban tidak diabaikan lagi. Mereka juga harus memperhatikan kondisi medan ekstrem itu dan bagaimana caranya bisa lebih aman untuk mengalirkan jasad ke arah benar πŸ€”.
 
Korban pesawat yang jatuh di jurang itu... rasanya kayaknya ada sesuatu yang belom terjawab oleh jiwa manusia. Apa itu bahaya alam yang kita hadapi? Kita harus bersikap siap sebelum tiba-tiba badai deras datang tanpa peringatan. Kadang-kadang kita pikir kita sudah siap, tapi nyanyi ketakutan saat hujan deras memukul wajah kita 🌨️.

Dan apa itu identitas seseorang? Apa yang membuat kita ingin tahu siapa korban itu? Mungkin kita tidak bisa mengenalnya, tapi kita tetap ingin mengetahuinya. Ini adalah keinginan kita untuk memberi makna pada hidup ini... πŸ’€
 
Pagi-pagi kabar gembira sih, kalau ada yang pernah ke Sulawesi, pasti nggak asyik banget sama jero jurang. Ngga bisa dipikirkan aja bahwa ada korban pesawat yang terjebak di situ. Jadi kayaknya tim DVI Polda Sulsel harus selalu siap-siap dan memiliki rencana cadangan, kalau tidak bisa ambil korban sama-sama dulu. Dan jelas-jelas ini bukan mainan, kalau ada kesalahan pasti korban yang lebih banyak lagi yang terjebak. Jadi, semoga kecelakaan ini bisa dipelajari dan tidak akan terulang lagi di masa depan πŸ™πŸ’”
 
[![GIF: Jenazah pesawat jatuh ke jurang](https://example.com/jenazah-pesawat-jatuh-ke-jurang.gif)](https://example.com/jenazah-pesawat-jatuh-ke-jurang.gif)

Mobil ambulans yang membawa jenazah korban pasti perlu udara segar deh πŸŒ³πŸš‘

[![GIF: Tim DVI Polda Sulsel melakukan pemeriksaan jasad](https://example.com tim-dvi-polda-sulsel.gif)](https://example.com/tim-dvi-polda-sulsel.gif)

Tim DVI Polda Sulsel pasti paling serius banget dalam proses identifikasi korban πŸ€”πŸ’€

[![GIF: Hujan deras di jurang](https://example.com/hujan-deras-di-jurang.gif)](https://example.com/hujan-deras-di-jurang.gif)

Hujan deras itu pasti membuat kesulitan banget bagi tim DVI Polda Sulsel πŸŒ‚πŸ’¦
 
Gue curiga nih, serakah nggak bikin kehilangan jenazah dulu? Dua hari lamanya tim DVI Polda Sulsel kesulitan aja mengevakuasi jasad korban karena kondisi medan ekstrem, tapi nggak pernah bercanda tentang keamanan jenazah? Gue pikir kalau ini serasa seperti main game survival, bukan proses identifikasi yang normal.

Dan apa dengan mobil ambulans yang dibawa jasad korban? Gue rasa ini kayak mobil penumpang biasa, tapi diisi sama dokter dan ahli DNA. Kalau gue pernah duduk di mobil ambulans dengan bingung, aku pun nggak tahu apa yang terjadi.
 
Korban pesawat ATR 42-500 itu benar-benar berdarah banyak πŸ€•. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga korban saat tahu ibunya/akunya sudah meninggal πŸ€•. Proses identifikasi itu juga cukup sulit, terutama karena kondisi medan ekstrem di jurang kedalaman 500 meter 😱. Saya harap tim DVI Polda Sulsel berhasil menyelesaikan proses ini dengan cepat dan tepat πŸ’―. Akan tetapi, saya masih ragu-ragu tentang kualitas jasa ambulance yang digunakan karena mobil ambulans itu tampaknya sudah lepas waktu πŸ€”.
 
Gue rasa ini kayak2 permainan survival saja aja, kalau gak ada hujan deras siapa yang mau dievakuasi ke tempat yang berada di jurang? 🀣 Lalu apa yang dilakukan tim DVI Polda Sulsel nih? Mereka juga harus mengingatkan korban tentang keselamatan, ya kan?

Dan sepertinya mereka benar-benar tidak memikirkan hal2 lain seperti bagaimana mungkin korban bisa masih hidup apalagi setelah jatuh ke jurang dengan kedalaman 500 meter. Gue rasa ini sangat berisiko dan harus diwaspadai, tapi kayaknya gak ada yang mau mendengar kata-kata gue yang lebih aman, kan? 😬

Gue paham kalau mereka harus melakukan identifikasi pada jasad korban, tapi perlu diingat juga tentang keselamatan tim DVI Polda Sulsel itu sendiri ya. Mereka juga harus berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam proses identifikasi agar tidak ada kesalahan yang bisa menyebabkan lebih banyak bencana. 🚨
 
Gue pikir ini kayak perang yang panjang banget, pas ngelihat proses identifikasi dan evakuasi jenazah korban. 2 hari lamanya, gue ngalami kepanikan banget dengerin tentang kondisi medan ekstrem di jurang kedalaman 500 meter. 🚨

Menurut info, mobil ambulans yang membawa jenazah itu punya jarak tempuh yang panjang sekali, pas dari lokasi keberadaan korban sampai posko Tompobulu, itu kayak berjarak 100 km banget! πŸš—

Gue penasaran apa caranya tim DVI Polda Sulsel bisa mengatasi kesulitan tersebut dan bagaimana mereka bisa menyelesaikan proses identifikasi dengan cepat. πŸ€”

Data menunjukkan, jumlah korban pesawat ATR 42-500 yang turun di Sulawesi Selatan, per 2025, sudah mencapai 17 korban, menurut informasi dari Dirops Basarnas. πŸ“ˆ
 
🀯 sih udah kabar2 korban pesawat ATR 42-500 itu ditemukan di jurang kedalaman 500 meter, kalau gini bagus sekali tim DVI Polda Sulselnya yang bisa berani untuk mencari korban2 yang terjebak di situ! πŸ™Œ tapi sih kenapa harus ada kesulitan saat mengevakuasi jasad korban itu? πŸ€” sepertinya kondisi medan ekstrem di situ memang terlalu berat. tapi kalau gini sudah bisa dievakuasi ke posko Tompobulu, itu artinya tim DVI Polda Sulselnya yang sangat profesional! πŸ’―
 
Gini kabar ini memang sedih banget... Jadi, itu 2 korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Sulawesi Selatan. Kenapa mobil ambulans harus membawa jenazah ke posko DVI? Gak usah, kan? Itu bukan masalah nyata. Yang penting adalah tim DVI langsung melakukan identifikasi tanpa harus menunggu bantuan dari luar... Tapi, yang bikin saya penasaran adalah mengapa harus tunggu 2 hari sebelum bisa dievakuasi? Gak ada jalan di daerah itu yang bisa digunakan untuk kecepatan? Atau mungkin karena kondisi cuaca deras? Itu masalah operasional yang serius...
 
Maksudnya apa sih ya kalau kabar ini? Mereka masih sulit menangkap semua jenazah korban pesawat itu. Sip sah, kondisi medannya ekstrem dan hujan deras. Makanya beres-meres juga aja untuk dievakuasi. Jadi pengumpulan ciri-ciri post mortem dan data ante mortem, itu bagus juga ya. Maksudnya mereka ingin tahu siapa korban itu dan apa yang terjadi padanya sebelum kejadian kecelakaan. Tapi masih banyak hal yang tidak jelas, itu kayaknya penting untuk diinvestigasi lebih lanjut ya πŸ€”πŸ’‘
 
Hei, aku rasa gini juga, kan? Kenapa harus sampe di posko dulu sebelum diserahkan kepada keluarga korban? Aku pikir kalau bisa langsung dimasukkan ke rumah keluarga aja, tapi ya kalo ada proses identifikasi juga penting banget. Aku sih kurang fokus pada kesulitan tim DVI Polda Sulsel itu, 500 meter jurang ekstrem? Wah, itu jauh banget!
 
Mengenang korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di daerah yang begitu berbahaya, memang benar-benar terkesan. Kondisi ekstrem itu memang membuat kesulitan dalam mengevakuasi jasad korban. Saya rasa perlu diadakan peninjauan ulang proses evakuasi seperti ini agar dapat dilakukan dengan lebih efisien dan aman. Nah, mungkin juga perlu ada rencana cadangan untuk menghadapi kondisi medan yang tidak terduga lagi nanti.
 
kembali
Top