Pemblokiran YouTube terhadap siaran langsung Al Jazeera di Israel telah mengejutkan banyak orang. Penyebab utama pemblokiran ini adalah pemerintah Israel yang memperpanjang larangan operasi outlet media berbasis Qatar itu.
Saat ini, penayangan siaran langsung Al Jazeera Arabic, Al Jazeera English, dan Al Jazeera Mubasher di YouTube tidak dapat diakses oleh penduduk Israel. Pemblokiran ini telah diterima oleh YouTube setelah pemerintah Israel memerintahkan perpanjangan larangan tersebut.
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Israel menyatakan larangan penutupan operasi Al Jazeera di Israel, karena menganggap outlet berita itu sebagai "ancaman terhadap keamanan nasional". Kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga telah menetapkan beleid ini.
Pada bulan Desember lalu, parlemen Israel telah menyetujui perpanjangan masa beleid tersebut selama dua tahun. Oleh karena itu, pemerintah Israel memerintahkan penutupan operasi Al Jazeera di wilayah pendudukan mereka untuk sebulan lagi.
Tapi sepertinya YouTube tidak mau mengikuti kebijakan pemerintah Israel. Mereka memblokir tayangan outlet berita ini di Israel, dan itu telah mengejutkan banyak orang.
Redaksi Al Jazeera juga sangat menentang pemblokiran ini. Menurut mereka, YouTube telah menjadi instrumen rezim yang tidak menghormati kebebasan. "Jaringan [Al Jazeera] mengecam YouTube karena gagal menjunjung tinggi Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia," tulis keterangan Al Jazeera.
Sebelumnya, beberapa jurnalis Al Jazeera telah tewas dalam tugas peliputan genosida Israel di Gaza. Kini, pemblokiran YouTube terhadap siaran langsung Al Jazeera di Israel telah menimbulkan perdebatan tentang hak-hak jurnalis dan kebebasan berekspresi.
Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa pemblokiran YouTube terhadap siaran langsung Al Jazeera di Israel adalah contoh bagaimana pemerintah bisa merendahkan kebebasan berekspresi dan hak-hak jurnalis.
Saat ini, penayangan siaran langsung Al Jazeera Arabic, Al Jazeera English, dan Al Jazeera Mubasher di YouTube tidak dapat diakses oleh penduduk Israel. Pemblokiran ini telah diterima oleh YouTube setelah pemerintah Israel memerintahkan perpanjangan larangan tersebut.
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Israel menyatakan larangan penutupan operasi Al Jazeera di Israel, karena menganggap outlet berita itu sebagai "ancaman terhadap keamanan nasional". Kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga telah menetapkan beleid ini.
Pada bulan Desember lalu, parlemen Israel telah menyetujui perpanjangan masa beleid tersebut selama dua tahun. Oleh karena itu, pemerintah Israel memerintahkan penutupan operasi Al Jazeera di wilayah pendudukan mereka untuk sebulan lagi.
Tapi sepertinya YouTube tidak mau mengikuti kebijakan pemerintah Israel. Mereka memblokir tayangan outlet berita ini di Israel, dan itu telah mengejutkan banyak orang.
Redaksi Al Jazeera juga sangat menentang pemblokiran ini. Menurut mereka, YouTube telah menjadi instrumen rezim yang tidak menghormati kebebasan. "Jaringan [Al Jazeera] mengecam YouTube karena gagal menjunjung tinggi Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia," tulis keterangan Al Jazeera.
Sebelumnya, beberapa jurnalis Al Jazeera telah tewas dalam tugas peliputan genosida Israel di Gaza. Kini, pemblokiran YouTube terhadap siaran langsung Al Jazeera di Israel telah menimbulkan perdebatan tentang hak-hak jurnalis dan kebebasan berekspresi.
Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa pemblokiran YouTube terhadap siaran langsung Al Jazeera di Israel adalah contoh bagaimana pemerintah bisa merendahkan kebebasan berekspresi dan hak-hak jurnalis.