Dalam sidang World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Prabowo Subianto kembali mengungkapkan visinya terhadap ekonomi Indonesia dengan menggunakan istilah Greedonomics. Istilah ini seringkali diartikan sebagai "ekonomi keserakahan" yang menekankan pentingnya penegakan hukum dan keadilan dalam praktik usaha.
Dalam sidang tersebut, Prabowo juga mengulas masa awal kepemimpinannya di Indonesia. Dia berhasil mengungkap kasus korupsi penyalahgunaan tata kelola BBM dan menyita 4 juta hektare perkebunan sawit ilegal. Dengan demikian, dia menunjukkan kemampuan untuk mengambil tindakan yang konstruktif terhadap praktik-praktik korupsi.
Prabowo juga menyinggung istilah "robber barons" yang populer digunakan di beberapa negara pada abad ke-19. Menurutnya, makna kalimat tersebut sama dengan Greedonomics. Ia yakin bahwa tidak ada iklim investasi yang diciptakan tanpa penegakan hukum yang adil.
Kepala Negara ini menekankan bahwa tidak ada seorang pun akan datang untuk berinvestasi di negara yang tidak taat hukum. Oleh karena itu, dia bertekad untuk memastikan penegakan hukum di atas kepentingan pribadi dan korporasi.
Prabowo juga mengungkapkan bahwa Greedonomics bukan hanya tentang ekonomi perusahaan, tapi juga tentang keseimbangan antara kemakmuran rakyat dengan kemajuan teknologi. Dia berharap dapat menciptakan ekonomi yang lebih adil dan baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Dengan menggunakan istilah Greedonomics, Prabowo Subianto menunjukkan komitmen untuk meningkatkan keadilan dan kesetaraan dalam praktik usaha di Indonesia. Dia berharap dapat menciptakan ekonomi yang lebih adil dan baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Dalam sidang tersebut, Prabowo juga mengulas masa awal kepemimpinannya di Indonesia. Dia berhasil mengungkap kasus korupsi penyalahgunaan tata kelola BBM dan menyita 4 juta hektare perkebunan sawit ilegal. Dengan demikian, dia menunjukkan kemampuan untuk mengambil tindakan yang konstruktif terhadap praktik-praktik korupsi.
Prabowo juga menyinggung istilah "robber barons" yang populer digunakan di beberapa negara pada abad ke-19. Menurutnya, makna kalimat tersebut sama dengan Greedonomics. Ia yakin bahwa tidak ada iklim investasi yang diciptakan tanpa penegakan hukum yang adil.
Kepala Negara ini menekankan bahwa tidak ada seorang pun akan datang untuk berinvestasi di negara yang tidak taat hukum. Oleh karena itu, dia bertekad untuk memastikan penegakan hukum di atas kepentingan pribadi dan korporasi.
Prabowo juga mengungkapkan bahwa Greedonomics bukan hanya tentang ekonomi perusahaan, tapi juga tentang keseimbangan antara kemakmuran rakyat dengan kemajuan teknologi. Dia berharap dapat menciptakan ekonomi yang lebih adil dan baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Dengan menggunakan istilah Greedonomics, Prabowo Subianto menunjukkan komitmen untuk meningkatkan keadilan dan kesetaraan dalam praktik usaha di Indonesia. Dia berharap dapat menciptakan ekonomi yang lebih adil dan baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.