Dua hari kemarin, badai tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat menewaskan puluhan korban. Perkembangan terbaru terkait penanganan korban bencana ini dinyatakan oleh Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, yang menyatakan bahwa dalam operasi pencarian dan pertolongan yang sudah dilaksanakan, tim SAR gabungan telah menemukan 47 kantong jenazah.
"Kita sudah mengevakuasi puluhan kantong jenazah dari lokasi bencana," katanya di Gedung DPR RI, Jakarta. "Saya sampaikan bahwa jumlah kantong jenazah yang kita temukan sekarang sudah 47. Ini sudah kita serah terimakan."
Dalam perjalanan menuju tempat kejadian longsor, tim SAR gabungan menghadapi kondisi yang sangat sulit, namun mereka tidak menyerah. Mereka melanjutkan upaya pencarian dengan menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi tertimbunnya korban yang belum ditemukan.
Namun, proses identifikasi korban masih terus dilakukan bersamaan dengan penyerahan jenazah kepada pihak keluarga. Pihak Basarnas juga menyatakan bahwa ada 23 anggota TNI Angkatan Laut yang menjadi bagian dari korban terdampak di lereng Gunung Burangrang.
Kini, tim SAR gabungan masih melanjutkan upaya pencarian dengan memeriksa puluhan personel militer yang berada di lokasi saat bencana longsor terjadi. Operasi evakuasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, relawan, hingga warga setempat.
Jumlah dampak bencana juga lebih besar daripada yang sebelumnya dilaporkan. Sebanyak 35 rumah dilaporkan hancur tersapu material longsor, namun setelah dilakukan pendataan ulang di lapangan, jumlah dampak bencana diketahui lebih besar. Sebanyak 155 warga terdampak akibat longsor, di mana 75 warga dapat diselamatkan.
Sementara itu, dalam proses identifikasi sepenuhnya diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri dan pihak TNI. Namun, kini pihak Basarnas belum bisa memastikan apakah 47 kantong jenazah yang telah ditemukan tersebut sudah termasuk para prajurit TNI atau murni masyarakat sipil.
"Kita tidak bisa mendeklir apakah itu murni masyarakatnya. Kemudian apakah di situ ada anggota. Tentunya teman-teman dari DVI maupun nanti dari informasi yang diberikan oleh pihak TNI yang akan bisa menyampaikan," kata Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.
"Kita sudah mengevakuasi puluhan kantong jenazah dari lokasi bencana," katanya di Gedung DPR RI, Jakarta. "Saya sampaikan bahwa jumlah kantong jenazah yang kita temukan sekarang sudah 47. Ini sudah kita serah terimakan."
Dalam perjalanan menuju tempat kejadian longsor, tim SAR gabungan menghadapi kondisi yang sangat sulit, namun mereka tidak menyerah. Mereka melanjutkan upaya pencarian dengan menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi tertimbunnya korban yang belum ditemukan.
Namun, proses identifikasi korban masih terus dilakukan bersamaan dengan penyerahan jenazah kepada pihak keluarga. Pihak Basarnas juga menyatakan bahwa ada 23 anggota TNI Angkatan Laut yang menjadi bagian dari korban terdampak di lereng Gunung Burangrang.
Kini, tim SAR gabungan masih melanjutkan upaya pencarian dengan memeriksa puluhan personel militer yang berada di lokasi saat bencana longsor terjadi. Operasi evakuasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, relawan, hingga warga setempat.
Jumlah dampak bencana juga lebih besar daripada yang sebelumnya dilaporkan. Sebanyak 35 rumah dilaporkan hancur tersapu material longsor, namun setelah dilakukan pendataan ulang di lapangan, jumlah dampak bencana diketahui lebih besar. Sebanyak 155 warga terdampak akibat longsor, di mana 75 warga dapat diselamatkan.
Sementara itu, dalam proses identifikasi sepenuhnya diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri dan pihak TNI. Namun, kini pihak Basarnas belum bisa memastikan apakah 47 kantong jenazah yang telah ditemukan tersebut sudah termasuk para prajurit TNI atau murni masyarakat sipil.
"Kita tidak bisa mendeklir apakah itu murni masyarakatnya. Kemudian apakah di situ ada anggota. Tentunya teman-teman dari DVI maupun nanti dari informasi yang diberikan oleh pihak TNI yang akan bisa menyampaikan," kata Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.