Untuk Direnungkan para Fans Real Madrid

Mereka yang mengatakan sepak bola dan politik tidak boleh dicampuradukkan justru menjadi resep sempurna untuk korupsi. Menurut Profesor Alan Tomlinson, sejarawan sepak bola cum sosiolog tersebut, sepak bola adalah turunan dari kebudayaan manusia yang sudah pasti berkelindan dengan politik.

Namun, hingga kini, wacana "sepak bola dan politik tak boleh dicampuradukkan" masih menguar bebas, bahkan di tatanan puncak FIFA. Berkali-kali mereka memakai senjata itu untuk melarang kampanye tertentu—yang tidak sesuai dengan nilai-nilai FIFA. Tapi, sudah menjadi rahasia umum bahwa semua itu hanyalah omong kosong.

FIFA secara gamblang mendukung Ukraina pascaserangan Rusia. Mereka bahkan memboikot Rusia di Piala Dunia 2022. Namun, dalam kasus Israel, mereka diam dan mengeluarkan kartu sakti itu.

Real Madrid yang Condong di Sisi Zionis

Pada bulan September 2025 lalu, petugas keamanan Stadion Santiago Bernabeu melarang masuk penggemar Marseille yang membawa bendera Palestina. Itu terjadi sesaat sebelum laga Real Madrid vs Marseille digelar, dalam lanjutan Liga Champions Eropa 2025-2026.

Pihak Real Madrid mengklaim sikap itu sebagai "ketegasan dalam menegakkan aturan agar tetap netral". Tapi, jelas itu bualan belaka, sebab di balik jubah megah Los Merengues tercecer darah di mana-mana.

Kesuksesan Real Madrid di masa lalu lahir dari bantuan Jenderal Franco. Klub ini berhasil merengkuh lima gelar Piala Champions secara beruntun (1956-1961), empat trofi La Liga, dan satu Piala Interkontinental.

Salah satu suksesor Real Madrid masa itu, Alfredo Di Stefano, berhasil didatangkan ke Santiago Bernabéu berkat campur tangan Franco. Kala itu, sang jenderal "meminta" Josep Samitier, kepala pemandu bakat Barcelona, untuk mengatur agar klub ibu kota tersebut bisa memperoleh jasa si pemain tanpa banyak pesaing.

Menurut Nick Fitzgerald, dalam kolomnya yang terbit di These Football Times, mendakwa kesuksesan Real Madrid berkaitan langsung dengan campur tangan Franco adalah sikap gegabah. Namun, fakta bahwa sang jenderal cawe-cawe tak bisa dielakkan.

Borok kemanusiaan telah menggerogoti Real Madrid dari dalam. Kapten lapangan hijau Los Merengues saat ini, Dani Carvajal, merupakan pendukung Vox, partai sayap kanan mentok di Spanyol, yang secara terang-terangan berdiri di sisi Israel.

Hal itu terlihat dari unggahan media sosial juru bicara Vox, Isabel Pérez Moñino, dengan takarir lugas: "Hari ini kami dengan bangga menghadiri penyerahan Medali Emas Komunitas Madrid kepada Dani Carvajal, di mana bukan hanya seorang olahragawan hebat yang diakui, tetapi juga teladan bagi nilai-nilai yang membangun bangsa yang kuat".

Sebelumnya, bek sayap Los Merengues tersebut juga kedapatan pernah mengundang Santiago Abascal, pemimpin Vox, untuk menonton pertandingan di VIP Box Stadion Santiago Bernabéu.

Tidak hanya Carvajal yang secara tak langsung mendukung zionis Israel. Penjaga gawang nomor satu Real Madrid, Thibaut Courtois, bahkan secara gamblang menunjukkan keberpihakannya kepada aktor genosida.

Gurita Bisnis si Presiden yang Berlumur Darah

Sejak menjadi alat politik jenderal diktator Franco, Real Madrid tidak terbiasa kalah. Sifat "mengerahkan segalanya demi mendapatkan hal yang diinginkan" sudah kadung menurun dan barangkali telah menjadi DNA Real Madrid era modern.

Pengaruh ACS, perusahaan konstruksi milik Florentino Pérez, dalam tatanan puncak kekuasaan Spanyol sangat besar. Ia bahkan menjadi salah satu perusahaan konstruksi terbesar di dunia, dengan pendapatan terbanyak (kalau dilihat dari keuntungan yang diraup dari luar wilayah asalnya, Spanyol).

Dalam kontroversi pérez dan Real Madrid pimpinannya, PBB memasukkan beberapa perusahaan milik Pérez ke dalam daftar hitam karena beroperasi di wilayah Palestina yang diokupasi oleh Israel.
 
Pokoknya sih FIFA masih jauh dari benar-benar netral kayak aja. Mereka punya omong kosong sendiri, tapi mereka nggak mau mengakui itu. Sementara itu, Real Madrid terus menunjukkan sikap yang agak susah untuk diprediksi. Sejak kala masa Franco, klub ini sudah jadi kelinci hitam yang nggak takut bocorin darah. Dan sekarang, kalau ada yang mendukung Zionis Israel, mereka langsung ikut-ikutan. Pokoknya perlu diawasi kayak giliran, bukannya terus aja memboikot orang lain... 🤔💬
 
Sepak bola dan politik benar-benar tidak bisa dipisahkan. FIFA dan Real Madrid ini terlalu dekat dengan kekuasaan politik, apalagi yang zionis. Mereka menggunakan senjata sepak bola untuk menyejahterakan mereka sendiri dan para sahabat mereka yang berbeda agama.

Saya tidak percaya jika pendapat Profesor Alan Tomlinson benar-benar benar. Sepak bola itu bagus apa pun, tapi kalau digunakan sebagai alat untuk membagi masyarakat dan memecah belah, itu tidak benar.

Tapi yang pasti, sepak bola ini bisa membuat kita bersatu dan bersemangat, bukan memisahkan kita. Saya harap Real Madrid dan FIFA akan lebih bijak dalam menggunakan senjata mereka, bukan untuk membagi masyarakat, tapi untuk membangun persahabatan dan kesatuan. 🤔🏆
 
Pikir saya kalau sepak bola dan politik itu jadi satu kesatuan tidak apa-apa, tapi yang terjadi kalau di campur aduk jadi korupsi... itu jadi masalah besar! FIFA kayaknya malah memanfaatkan senjata "sepak bola dan politik" untuk melarang kampanye tertentu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai mereka, tapi ternyata semua itu hanya omong kosong. Real Madrid yang condong ke sisi Zionis itu kayaknya bukti kalau sepak bola dan politik itu jadi salah satu resep sempurna untuk korupsi...
 
Aku pikir FIFA harus lebih bijak lagi dalam mengatur Liga Champions Eropa. Mereka memboikot Rusia tapi diam dan tidak ada tindakan terhadap Israel? Itu tidak adil, kayaknya harus sama-sama mengambil posisi. Sementara itu, Real Madrid yang mendukung Zionis dan telah digambarkan sebagai "klub zionis", itu jadi semacam wajah umum. Bolehkah kita percaya bahwa mereka benar-benar netral? 😐
 
Kalau kamu lihat sendiri bagaimana sepak bola dan politik selalu ikut campur dalam kasus ini, serasa sangat seperti membungkus api dengan kertas 😒. Sepak bola itu hanya hiburan, tapi politik itu apa-apa bisa berdampak pada kehidupan seseorang. Dan itu yang membuat saya bingung, mengapa kita tidak bisa mengelilingi hal ini dengan logika? 🤔
 
Sepak bola dan politik pasti tercampur aduk ya... apa yang salah dengan itu? Sepak bola hanya sebuah hiburan, tapi politik itu sudah masuk ke dalamnya sih. Saya nggak bisa percaya kalau FIFA begitu mudah terpengaruh oleh politiek. Mereka sama aja seperti orang yang mau membawa benda berharga di rindu sate kambing. Semua ini juga justru membuat saya penasaran mengenai apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh FIFA... 💭
 
Aku pikir sih kalau sepak bola dan politik itu bisa dipadukan. Seperti geng aku, aku suka nonton laga sepak bola sambil makan siomay 🍲🏀. Tapi, aku tahu sih bahwa ada orang-orang yang memikirkan politiknya di dalam hati. Aku berpikir kalau FIFA bisa membantu mengatur hubungan internasional dengan cara yang lebih netral. Misalnya, mereka bisa meminta kedua tim untuk tidak menunjukkan bendera tertentu di lapangan 💬👥. Aku juga pikir bahwa Real Madrid harus mau menerima kritik yang benar-benar benar, bukan hanya dibela oleh senjata politik 😊🏆
 
Maksudnya sepak bola dan politik tidak boleh dicampuradukkan kan? Nah, saya rasa itu justru cara untuk mengelabui orang lain. Seperti yang terjadi dengan Real Madrid, mereka sukses karena mendapatkan bantuan dari Jenderal Franco, tapi sekarang mereka punya masalah sama seperti dia. Atau apakah mereka hanya ingin membuat omong kosong tentang sepak bola dan politik tidak boleh dicampuradukkan? Saya ragu-ragu apa yang benar sebenarnya 🤔
 
Sepak bola dan politik benar-benar tidak boleh dicampuradukkan... tapi sepak bola dan politik justru menjadi resep sempurna untuk korupsi ya? Semua hanya omong kosong, dan FIFA tetap terus mengeksploitasi kelemahan sepak bola itu sendiri. Real Madrid yang mengaku netral, tapi ternyata memiliki hubungan dengan Zionis Israel yang sangat dekat. Kalau tidak ada perbedaan antara politik dan sepak bola, maka siapa yang akan menjadi pemenangnya? 🤔💬
 
Gampang aja dipahami kalau sekarang lagi semakin banyak bocoran korupsi dari Real Madrid 🤑. Sebenarnya sudah ada tanda-tandanya yang jelas bahwa klub sepak bola ini tidak bisa dijalankan tanpa campur tangan politik. Dari pendukung Zionis sampai ke pengaruh ACS, mereka semua sama-sama mencoba memanfaatkan diri dari apa pun yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan mereka 💸. Tapi sayangnya, FIFA lagi-lagi tidak bisa menjelajahi hal ini dengan bijak, jadi semuanya terus berlanjut tanpa penghakiman yang tegas 🤦‍♂️.
 
Wahh, sepak bola dan politik pasti bakalan selalu serumpun, kan? Saya pikir FIFA sendiri juga terlihat kaku gini, ya... Mereka sama-sama ingin memperoleh keuntungan dari sepak bola, tapi kalau ada suatu masalah yang melibatkan negara lain, mereka akan langsung menghindari itu. Tapi, siapa bilang kan bahwa sepak bola tidak pernah memiliki hubungan dengan politik? Saya pikir sepak bola bukan hanya tentang kemenangan dan skor, tapi juga tentang nilai-nilai seperti kesetiaan danSolidaritas...
 
Senyum palsu di antara penggemar Real Madrid 🤥. Itu yang terjadi saat mereka tidak ingin nonton pertandingan yang menghadirkan bendera Palestina. Saya pikir kalau mau memperlakukan orang lain dengan hormat, harus pula berlaku pada diri sendiri. Tapi, sepertinya Real Madrid lebih suka memakai senjata "sepak bola dan politik tak boleh dicampuradukkan" untuk melarang kritik terhadap Israel 🤷‍♂️.
 
Sekarang ini kalau kita lihat bagaimana sepak bola menjadi kincir manis korupsi, pasti akan bingung kan? Sepak bola sebagai salah satu olahraga paling populer di dunia, tapi di balik glorianya ada yang jujur mengatakan sepak bola adalah turunan dari kebudayaan manusia yang sudah berkelindan dengan politik.

Kalau kita lihat kesuksesan Real Madrid, mereka memang berhasil merengkuh beberapa gelar Liga Champions secara beruntun, tapi yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana mereka bisa mengakuisisi pemain-pemain terbaik tanpa banyak persaingan? Itu semua bisa disebabkan oleh campur tangan Franco yang tidak bisa dielakkan.

Sekarang ini kalau kita lihat kapten Real Madrid, Dani Carvajal, dia adalah pendukung Vox yang berdiri di sisi Israel. Itu menjadi pertanyaan bagaimana kapten tersebut bisa memiliki sikap seperti itu saat dia harus mempertahankan nilai-nilai sepak bola yang netral.

Dan yang paling mengesankan adalah media sosial juru bicara Vox, Isabel Pérez Moñino, yang menghadiri penyerahan Medali Emas Komunitas Madrid kepada Carvajal. Tapi, apa itu berarti ketika mereka memilih untuk mendukung nilai-nilai zionis Israel?

Saya rasa sepak bola tidak perlu di campur dengan politik, tapi sepak bola telah menjadi bagian dari politik. Dan sekarang ini kalau kita lihat bagaimana sepak bola digunakan sebagai alat untuk memperkuat sikap politik tertentu, pasti akan membuat kita berpikir twice.
 
Sepak bola dan politik tidak boleh dicampuradukkan, tapi siapa yang mengatakan itu benar-benar tidak memiliki hubungan dengan korupsi? Seperti FIFA yang terus memboikot Rusia karena serangan Ukraina, tapi sekarang juga diam saat Israel melakukan hal yang sama di Palestina. Real Madrid yang dulunya didukung oleh Jenderal Franco, yang menurut Nick Fitzgerald adalah sikap gegabah, tetapi siapa yang mengatakan bahwa kesuksesan mereka bukan hasil dari campur tangan yang berbahaya? 💡🔍
 
kembali
Top