Amerika Serikat mengusulkan pembentukan badan baru bernama Board of Peace, yang bertujuan untuk mendorong penyelesaian konflik global dan mempromosikan perdamaian dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri akan menjabat sebagai ketua pertama dewan ini.
Tugas utama Board of Peace adalah memfasilitasi dialog serta penyelesaian konflik antarnegara, serta memberikan suara pada anggaran, kebijakan, dan penunjukan senior. Dalam struktur tata kelola, ada tiga lapisan: dewan eksekutif pendiri, dewan eksekutif, dan ketua dengan wewenang yang luas.
Dewan eksekutif pendiri akan memberikan suara pada anggaran, kebijakan, dan penunjukan senior. Sementara itu, dewan eksekutif terdiri dari tujuh anggota yang bertanggung jawab untuk melaksanakan misi tersebut. Anggota dewan ini termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan menantu Trump Jared Kushner.
Ketua dewan adalah Trump sendiri yang memiliki hak veto atas keputusan-keputusan penting, termasuk pencabutan keanggotaan dan tindakan dewan eksekutif. Selain itu, ketua juga bertanggung jawab untuk mengawasi portofolio yang penting untuk stabilisasi dan keberhasilan jangka panjang Gaza.
Selain itu, ada tiga komponen lain dalam struktur tata kelola Board of Peace: dewan eksekutif Gaza, komite nasional Gaza, dan militer. Dewan eksekutif Gaza bertugas melakukan koordinasi regional dan didukung oleh perwakilan dari negara-negara Arab.
Komite nasional untuk administrasi Gaza dipimpin oleh Ali Shaath, mantan wakil menteri Otoritas Palestina. Sedangkan militer dipimpin oleh Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers sebagai komandan pasukan stabilisasi internasional dengan mandat yang mencakup "pelucutan senjata permanen".
Penganggotaan di Board of Peace terbatas pada negara-negara yang diundang oleh ketua, yaitu Amerika Serikat. Negara-negara anggota harus berkontribusi pada operasi sesuai dengan hukum domestik mereka.
Saat ini, ada sekitar 35 negara yang menyatakan komitmen bergabung dalam Board of Peace. Di antara mereka adalah Indonesia.
Tugas utama Board of Peace adalah memfasilitasi dialog serta penyelesaian konflik antarnegara, serta memberikan suara pada anggaran, kebijakan, dan penunjukan senior. Dalam struktur tata kelola, ada tiga lapisan: dewan eksekutif pendiri, dewan eksekutif, dan ketua dengan wewenang yang luas.
Dewan eksekutif pendiri akan memberikan suara pada anggaran, kebijakan, dan penunjukan senior. Sementara itu, dewan eksekutif terdiri dari tujuh anggota yang bertanggung jawab untuk melaksanakan misi tersebut. Anggota dewan ini termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan menantu Trump Jared Kushner.
Ketua dewan adalah Trump sendiri yang memiliki hak veto atas keputusan-keputusan penting, termasuk pencabutan keanggotaan dan tindakan dewan eksekutif. Selain itu, ketua juga bertanggung jawab untuk mengawasi portofolio yang penting untuk stabilisasi dan keberhasilan jangka panjang Gaza.
Selain itu, ada tiga komponen lain dalam struktur tata kelola Board of Peace: dewan eksekutif Gaza, komite nasional Gaza, dan militer. Dewan eksekutif Gaza bertugas melakukan koordinasi regional dan didukung oleh perwakilan dari negara-negara Arab.
Komite nasional untuk administrasi Gaza dipimpin oleh Ali Shaath, mantan wakil menteri Otoritas Palestina. Sedangkan militer dipimpin oleh Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers sebagai komandan pasukan stabilisasi internasional dengan mandat yang mencakup "pelucutan senjata permanen".
Penganggotaan di Board of Peace terbatas pada negara-negara yang diundang oleh ketua, yaitu Amerika Serikat. Negara-negara anggota harus berkontribusi pada operasi sesuai dengan hukum domestik mereka.
Saat ini, ada sekitar 35 negara yang menyatakan komitmen bergabung dalam Board of Peace. Di antara mereka adalah Indonesia.