Pemain Aset Kripto di Indonesia, Banyaknya Gaji Di Bawah Rp 8 Juta
Aset kripto menjadi salah satu instrumen investasi yang paling populer di kalangan masyarakat usia produktif Indonesia. Menurut hasil riset LPEM FEB UI, kebanyakan investor aset kripto memiliki penghasilan kurang dari Rp 8 juta per bulan.
Data yang diterima LPEM menunjukkan bahwa nilai transaksi kripto di Indonesia telah melonjak 335% pada tahun 2024, menjadi Rp 650,61 triliun. Namun, kebanyakan investor ini memiliki penghasilan yang relatif rendah dan kurang dari Rp 8 juta per bulan.
Tim ekonom LPEM FEB UI mengingatkan bahwa transaksi kripto telah berubah status dari barang komoditi menjadi aset keuangan digital. Namun, perubahan ini juga meningkatkan risiko bagi investor yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang investasi kripto.
Majoritas investor aset kripto di Indonesia berusia di bawah 35 tahun dan memiliki pendidikan SMA atau lebih tinggi. Mereka juga berpendapatan kurang dari Rp 8 juta per bulan, dengan jumlah tersebut mencapai 1.093 investor.
Media sosial menjadi sumber informasi paling berpengaruh dalam membentuk persepsi dan kepercayaan pengguna pada platform perdagangan aset kripto. Kanal seperti Twitter, Telegram, dan Discord menempati posisi teratas dengan porsi 57,89% sangat mempengaruhi persepsi investor.
Peningkatan literasi keuangan digital dan perlindungan data juga diperlukan untuk membuat ekosistem kripto lebih sehat dan bertanggung jawab. LPEM menilai bahwa peningkatan ini dapat membuka akses investasi digital bagi masyarakat bermodal kecil, namun perlu diatasi dengan cepat untuk menghindari bahaya yang potensial.
Dengan demikian, pentingnya memahami risiko dan manfaat investasi kripto serta meningkatkan literasi keuangan digital untuk membuat ekosistem kripto lebih sehat dan bertanggung jawab.
Aset kripto menjadi salah satu instrumen investasi yang paling populer di kalangan masyarakat usia produktif Indonesia. Menurut hasil riset LPEM FEB UI, kebanyakan investor aset kripto memiliki penghasilan kurang dari Rp 8 juta per bulan.
Data yang diterima LPEM menunjukkan bahwa nilai transaksi kripto di Indonesia telah melonjak 335% pada tahun 2024, menjadi Rp 650,61 triliun. Namun, kebanyakan investor ini memiliki penghasilan yang relatif rendah dan kurang dari Rp 8 juta per bulan.
Tim ekonom LPEM FEB UI mengingatkan bahwa transaksi kripto telah berubah status dari barang komoditi menjadi aset keuangan digital. Namun, perubahan ini juga meningkatkan risiko bagi investor yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang investasi kripto.
Majoritas investor aset kripto di Indonesia berusia di bawah 35 tahun dan memiliki pendidikan SMA atau lebih tinggi. Mereka juga berpendapatan kurang dari Rp 8 juta per bulan, dengan jumlah tersebut mencapai 1.093 investor.
Media sosial menjadi sumber informasi paling berpengaruh dalam membentuk persepsi dan kepercayaan pengguna pada platform perdagangan aset kripto. Kanal seperti Twitter, Telegram, dan Discord menempati posisi teratas dengan porsi 57,89% sangat mempengaruhi persepsi investor.
Peningkatan literasi keuangan digital dan perlindungan data juga diperlukan untuk membuat ekosistem kripto lebih sehat dan bertanggung jawab. LPEM menilai bahwa peningkatan ini dapat membuka akses investasi digital bagi masyarakat bermodal kecil, namun perlu diatasi dengan cepat untuk menghindari bahaya yang potensial.
Dengan demikian, pentingnya memahami risiko dan manfaat investasi kripto serta meningkatkan literasi keuangan digital untuk membuat ekosistem kripto lebih sehat dan bertanggung jawab.