Penyebab prokrastinasi adalah karena otak kita sudah "membaca" konteks sebagai pekerjaan tidak menyenangkan dan menekan dorongan untuk mulai dari jauh. Jika seseorang ingin mengatasi penundaan, maka harus mengubah cara pandang dan berpikir tentang tugas yang akan dikerjakan tersebut.
Untuk mengalahkan prokrastinasi, kita tidak boleh hanya menggunakan pendekatan manajemen waktu seperti membuat daftar tugas dan jadwal. Pada fase awal sebuah pekerjaan, penundaan terjadi karena sistem emosional mengambil alih dan memikirkan "apa manfaat mengerjakan tugas ini?" yang kemudian diikuti oleh rasa malu dan takut gagal.
Saat kita tidak mau mulai, otak kita sudah mempertimbangkan semua kemungkinan kegagalan dan hambatan yang akan timbul. Jika kita ingin mengalahkan prokrastinasi, maka kita harus mengubah cara pandang dan berpikir tentang tugas tersebut.
Prokrastinasi adalah respons emosional, bukan kegagian manajemen waktu. Kita tidak boleh menggunakan pendekatan yang hanya memperbesar rasa terancam di awal. Sebaliknya, kita harus menggunakan strategi yang sepele tetapi logis untuk mengatasi penundaan.
Strategi pertama adalah memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil sehingga tidak lagi utuh dan menakutkan. Kedua, kita harus membuat komitmen minimal untuk mulai sesuatu, bukan hanya menyelesaikan tugas secara keseluruhan.
Selain itu, kita juga harus mengingat bahwa penundaan cenderung berulang karena emosi negatif dari kegagalan sebelumnya. Oleh karena itu, keberhasilan kecil di fase awal dapat berfungsi sebagai pemutus rantai kegagalan.
Untuk mengalahkan prokrastinasi, kita tidak boleh hanya menggunakan pendekatan manajemen waktu seperti membuat daftar tugas dan jadwal. Pada fase awal sebuah pekerjaan, penundaan terjadi karena sistem emosional mengambil alih dan memikirkan "apa manfaat mengerjakan tugas ini?" yang kemudian diikuti oleh rasa malu dan takut gagal.
Saat kita tidak mau mulai, otak kita sudah mempertimbangkan semua kemungkinan kegagalan dan hambatan yang akan timbul. Jika kita ingin mengalahkan prokrastinasi, maka kita harus mengubah cara pandang dan berpikir tentang tugas tersebut.
Prokrastinasi adalah respons emosional, bukan kegagian manajemen waktu. Kita tidak boleh menggunakan pendekatan yang hanya memperbesar rasa terancam di awal. Sebaliknya, kita harus menggunakan strategi yang sepele tetapi logis untuk mengatasi penundaan.
Strategi pertama adalah memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil sehingga tidak lagi utuh dan menakutkan. Kedua, kita harus membuat komitmen minimal untuk mulai sesuatu, bukan hanya menyelesaikan tugas secara keseluruhan.
Selain itu, kita juga harus mengingat bahwa penundaan cenderung berulang karena emosi negatif dari kegagalan sebelumnya. Oleh karena itu, keberhasilan kecil di fase awal dapat berfungsi sebagai pemutus rantai kegagalan.