Survei Jobstreet: Pekerja RI Paling Bahagia di Asia, 43% Burnout

Pekerja Indonesia tercatat sebagai orang yang paling bahagia di Asia, tapi masih banyak mengalami kelelahan kerja. Menurut survei Jobstreet 2025-2026, 37% dari responden mengatakan bahwa mereka sangat bahagia saat bekerja, dan 45% mengatakan bahwa mereka bahagia dengan pekerjaannya.

Tapi, di balik kebahagiaan yang tinggi ini masih banyak tekanan mental. Banyak pekerja Indonesia mengalami burnout, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami kelelahan kerja dan tidak dapat lagi melakukan tugas-tugas kerja secara efektif. Burnout di Indonesia tercatat mencapai 43%, yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia.

Sesuai laporan, faktor utama yang menyebabkan burnout ini adalah beban kerja yang berat dan budaya bekerja lembur. Selain itu, banyak pekerja Indonesia masih memiliki kekhawatiran terhadap keamanan kerja, seperti kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih.

Menurut Acting Managing Director Jobstreet Indonesia, Wisnu Dharmawan, untuk mencapai kebahagiaan yang berkelanjutan di tempat kerja, perusahaan harus menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan mental karyawan. Wisnu mengatakan bahwa angka burnout sebesar 43 persen dan kekhawatiran terhadap AI merupakan "alarm" bagi para pemberi kerja untuk bertindak proaktif.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan kerja yang relatif tinggi. Namun, masih banyak pekerja Indonesia mengalami tekanan mental dan burnout. Perusahaan harus bertindak cepat untuk mengatasi masalah ini dan menjamin kesejahteraan mental karyawan.
 
aku pikir kayaknya ada 2 hal yang perlu di perhatikan oleh perusahaan agar pekerja tidak terluka dari burnout.

di satu sisi, mereka harus menyesuaikan beban kerja yang berat dengan kebutuhan keseharian pekerja. misalnya, pekerja hanya memiliki waktu kerja 8 jam, tapi masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. itu seperti mencoba mengendus api dengan tangan sendiri. 🙅‍♂️

di sisi lain, perusahaan harus lebih terbuka dan jujur tentang risiko kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja. misalnya, mereka harus memberitahu karyawan bahwa AI tidak akan menggantikan pekerja mereka, tapi lebih seperti alat yang membantu mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas kerja.

jika perusahaan bisa melakukan 2 hal itu, aku pikir kita bisa mengurangi angka burnout di Indonesia. 🤞
 
Gue pikir gue harus mulai sapaan sih, kalo tidak ada konsegi kayaknya bakal ngeleleh 🤣. Tapi jadi aja, kalau pemerintah Indonesia punya rencana untuk mengatasi tekanan mental dan burnout di tempat kerja, kita harus mendukung mereka. Karena kalau gue lihat di survey itu, 43% dari orang Indonesia masih memiliki kelelahan kerja yang serius 🤕. Gue pikir perusahaan harus memberikan upah yang lebih tinggi agar karyawan tidak merasa lemah 💸. Selain itu, mereka juga harus memberikan waktu istirahat yang cukup dan memperhatikan kesehatan mental karyawan 💆‍♀️. Jika gue lihat di negara-negara lain, mereka sudah memiliki kebijakan yang lebih baik untuk mengatasi masalah ini 🤝. Jadi, Indonesia harus ikut mendahuluinya ya! 😃
 
ini penting banget, gue pikir 43% orang Indonesia alah burnout, itu sangat tinggi! tapi apa yang bisa kita lakukan? kayaknya perusahaan harus membuat jadwal kerja yang lebih santai, biar karyawan tidak terlalu capek. dan gue rasa perusahaan juga harus memberikan uang tambahan untuk karyawan yang bekerja lembur, biar mereka bisa relaks aja. tapi yang paling penting, kita harus mengerti bahwa kebahagiaan kerja bukan hanya tentang uang atau promosi, tapi juga tentang keseimbangan dalam hidup
 
ini serius kan? jadi kita bahagia di kerja tapi masih banyak yang kelelahan dan stres! aku pikir perusahaan harus lebih paham dengan karyawan, bukan cuma fokus pada uang aja... seperti apa caranya sih nih membuat kerja nyaman? harus ada more free time, atau lebih gaji, atau apa lagi?

aku juga keberatan kalau banyak karyawan masih khawatir tentang AI, itu kayaknya tidak masalah deh! kalau mau buat sistem yang baik, kita bisa melakukannya dengan cara yang lebih adil dan transparan. tapi aku rasa perusahaan harus lebih berhati-hati dalam menghadapi tekanan dari teknologi...
 
ini salah satu masalah yang serius banget di kalangan perusahaan di indonesia. 43% dari pekerja mencapai burnout, itu sudah terlalu banyak lah. harus ada solusi yang cepat untuk mengatasinya. misalnya seperti memberikan waktu liburan yang lebih lama atau membuat kebijakan kesehatan mental yang baik. juga harus ada penyesuaian budaya kerja agar pekerja tidak terlalu lelah dan stres. saya ingat saat ini banyak perusahaan yang fokus sekedar pada uang, tapi itu tidak berarti dengan pekerjaan kita di sini.
 
kembali
Top