Kesulitan menemukan tenaga kerja yang berketerampilan tinggi di Indonesia terus membawa dampak besar bagi pembangunan ekonomi. Menurut hasil survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang dilakukan pada lebih dari 2.000 perusahaan, hampir 60 persen dari mereka mengeluhkan masalah serius dengan saluran bakat pekerja dalam negeri.
Kesulitan ini terjadi karena struktur tenaga kerja nasional yang dipimpin oleh lulusan pendidikan dasar. Sementara itu, industri menuntut keterampilan tinggi yang sulit ditemukan di kalangan para pekerja. Menurut Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani, ini merupakan salah satu kendala inti yang menghambat penciptaan lapangan kerja formal.
"Kita memiliki tenaga kerja berketerampilan rendah," kata Shinta dalam Indonesia Economic Summit 2026. "Jika kita melihat angkatan kerja, 36,5 persen hanya lulusan sekolah dasar. Ini benar-benar masalah besar karena kita memiliki tenaga kerja yang belum siap untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lebih kompleks."
Kesenjangan antara supply dan demand keterampilan ini memperparah tantangan ketenagakerjaan nasional. Kondisi ekonomi saat ini hanya mampu menyerap 2 hingga 4,5 juta pekerja baru per tahun, sementara kebutuhan dari pencari kerja mencapai 9 hingga 12 juta orang setiap tahunnya.
Masalah ini semakin kompleks dengan melemahnya sektor manufaktur yang sebelumnya menjadi tulang punggung penciptaan pekerjaan formal di era 90an. Pangsa manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menyusut dari sekitar 24 persen menjadi hanya 19 persen saat ini.
"Industri benar-benar melemah," kata Shinta. "Pangsa manufaktur terhadap PDB terus menurun."
Kesulitan ini terjadi karena struktur tenaga kerja nasional yang dipimpin oleh lulusan pendidikan dasar. Sementara itu, industri menuntut keterampilan tinggi yang sulit ditemukan di kalangan para pekerja. Menurut Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani, ini merupakan salah satu kendala inti yang menghambat penciptaan lapangan kerja formal.
"Kita memiliki tenaga kerja berketerampilan rendah," kata Shinta dalam Indonesia Economic Summit 2026. "Jika kita melihat angkatan kerja, 36,5 persen hanya lulusan sekolah dasar. Ini benar-benar masalah besar karena kita memiliki tenaga kerja yang belum siap untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lebih kompleks."
Kesenjangan antara supply dan demand keterampilan ini memperparah tantangan ketenagakerjaan nasional. Kondisi ekonomi saat ini hanya mampu menyerap 2 hingga 4,5 juta pekerja baru per tahun, sementara kebutuhan dari pencari kerja mencapai 9 hingga 12 juta orang setiap tahunnya.
Masalah ini semakin kompleks dengan melemahnya sektor manufaktur yang sebelumnya menjadi tulang punggung penciptaan pekerjaan formal di era 90an. Pangsa manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menyusut dari sekitar 24 persen menjadi hanya 19 persen saat ini.
"Industri benar-benar melemah," kata Shinta. "Pangsa manufaktur terhadap PDB terus menurun."