Siswa SMP Kalbar Diamankan, Dugaan Korban Bully Muncul
Aksi pelemparan bom Molotov yang terjadi di lingkungan SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya (Kalbar), Selasa siang lalu, telah menimbulkan ketakutan di kalangan siswa dan guru. Terduga pelaku yang merupakan siswa tersebut sudah diamankan dan diperiksa polisi.
Pada Rabu ini, pihak sekolah menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) setelah insiden pelemparan bom molotov kemarin. Kebijakan ini diambil karena masih adanya rasa khawatir di kalangan siswa dan guru.
Menurut Kapolda Kalbar, Irjen Pipit Rismanto, aparat menemukan adanya tekanan psikologis yang cukup berat akibat kondisi keluarga. Anak tersebut sempat dalam pemantauan anak buahnya, namun pengawasan tidak lagi intensif seiring munculnya persoalan di lingkungan keluarga.
Kakek dan ayah anak tersebut diketahui sedang sakit, diduga memberikan beban mental yang berdampak pada kondisi kejiwaan terduga pelaku. Penanganan anak sebagai terduga pelaku pelempar bom molotov tidak semata dilihat dari aspek hukum, tapi juga difokuskan pada upaya pembinaan dan penelusuran akar masalah.
Sementara itu, dari kesaksian warga, muncul pula dugaan bahwa terduga pelaku pelemparan molotov merupakan korban perundungan di sekolah. Aksi molotov diduga merupakan bentuk pelampiasan atau upaya balas dendam.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kubu Raya, Syarif Muhammad Firdaus Alkadrie belum bersedia memberikan komentar lebih jauh terkait dugaan perundungan tersebut. Namun, Disdikbud berharap proses penyelidikan segera memberikan kejelasan, sehingga aktivitas belajar mengajar di SMPN 3 Sungai Raya dapat kembali berjalan normal tanpa mengganggu keamanan dan kondisi psikologis peserta didik.
Aksi pelemparan bom Molotov yang terjadi di lingkungan SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya (Kalbar), Selasa siang lalu, telah menimbulkan ketakutan di kalangan siswa dan guru. Terduga pelaku yang merupakan siswa tersebut sudah diamankan dan diperiksa polisi.
Pada Rabu ini, pihak sekolah menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) setelah insiden pelemparan bom molotov kemarin. Kebijakan ini diambil karena masih adanya rasa khawatir di kalangan siswa dan guru.
Menurut Kapolda Kalbar, Irjen Pipit Rismanto, aparat menemukan adanya tekanan psikologis yang cukup berat akibat kondisi keluarga. Anak tersebut sempat dalam pemantauan anak buahnya, namun pengawasan tidak lagi intensif seiring munculnya persoalan di lingkungan keluarga.
Kakek dan ayah anak tersebut diketahui sedang sakit, diduga memberikan beban mental yang berdampak pada kondisi kejiwaan terduga pelaku. Penanganan anak sebagai terduga pelaku pelempar bom molotov tidak semata dilihat dari aspek hukum, tapi juga difokuskan pada upaya pembinaan dan penelusuran akar masalah.
Sementara itu, dari kesaksian warga, muncul pula dugaan bahwa terduga pelaku pelemparan molotov merupakan korban perundungan di sekolah. Aksi molotov diduga merupakan bentuk pelampiasan atau upaya balas dendam.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kubu Raya, Syarif Muhammad Firdaus Alkadrie belum bersedia memberikan komentar lebih jauh terkait dugaan perundungan tersebut. Namun, Disdikbud berharap proses penyelidikan segera memberikan kejelasan, sehingga aktivitas belajar mengajar di SMPN 3 Sungai Raya dapat kembali berjalan normal tanpa mengganggu keamanan dan kondisi psikologis peserta didik.