Keterampilan bertahan hidup dalam era digital, yakni "Critical Ignoring", sangat penting untuk menghadapi kebisingan informasi yang begitu melimpah dan tak berkualitas di internet. Istilah ini diperkenalkan oleh Sam Wineburg, seorang profesor emeritus pendidikan Universitas Stanford, pada 2021.
Critical Ignoring bukan berarti pengabaian total, tetapi lebih seperti penilaian kritis setelah mengevaluasi beberapa tanda awal. Ini adalah kemampuan untuk terus-menerus memantau kelemahan diri kita sendiri dan mengambil tindakan tepat waktu.
Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mempraktikkan Critical Ignoring adalah:
1. **Mengakui beban berpikir kritis**: Orang cerdas cenderung terlibat dengan informasi yang tidak penting, sehingga kita harus menginvestasikan pemikiran kritis pada sumber-sumber yang seharusnya diabaikan. Ini membantu kita untuk tidak terjebak pada informasi-informasi tak berguna.
2. **Perhatian adalah sumber daya langka**: Perhatian kita menjadi semakin lelah secara psikologis ketika kita menghabiskan waktu di depan layar, bahkan mengurangi kemampuan berolahraga. Oleh karena itu, kita perlu mengatur konsumsi media dan kebiasaan menggulir layar untuk mengurangi waktu yang dihabiskan.
3. **Bahaya "True Enough"**: Chatbot atau AI memiliki kecenderungan untuk berbohong, sehingga kita harus menggunakan alat yang tepat untuk menemukan kebenaran. Dengan demikian, kita dapat memperoleh manfaat dari internet tanpa terjebak pada informasi yang tidak nyata.
Dalam era digital, kita perlu belajar untuk mengelola informasi dengan bijak dan menggunakan teknologi untuk melawan diri sendiri, bukan untuk menjadi korban kekacauan yang dibuat oleh teknologi.
Critical Ignoring bukan berarti pengabaian total, tetapi lebih seperti penilaian kritis setelah mengevaluasi beberapa tanda awal. Ini adalah kemampuan untuk terus-menerus memantau kelemahan diri kita sendiri dan mengambil tindakan tepat waktu.
Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mempraktikkan Critical Ignoring adalah:
1. **Mengakui beban berpikir kritis**: Orang cerdas cenderung terlibat dengan informasi yang tidak penting, sehingga kita harus menginvestasikan pemikiran kritis pada sumber-sumber yang seharusnya diabaikan. Ini membantu kita untuk tidak terjebak pada informasi-informasi tak berguna.
2. **Perhatian adalah sumber daya langka**: Perhatian kita menjadi semakin lelah secara psikologis ketika kita menghabiskan waktu di depan layar, bahkan mengurangi kemampuan berolahraga. Oleh karena itu, kita perlu mengatur konsumsi media dan kebiasaan menggulir layar untuk mengurangi waktu yang dihabiskan.
3. **Bahaya "True Enough"**: Chatbot atau AI memiliki kecenderungan untuk berbohong, sehingga kita harus menggunakan alat yang tepat untuk menemukan kebenaran. Dengan demikian, kita dapat memperoleh manfaat dari internet tanpa terjebak pada informasi yang tidak nyata.
Dalam era digital, kita perlu belajar untuk mengelola informasi dengan bijak dan menggunakan teknologi untuk melawan diri sendiri, bukan untuk menjadi korban kekacauan yang dibuat oleh teknologi.