Sibolga Terisolir, Korban Jiwa 33 Orang Tewas dan Puluhan Lainnya Hilang dalam Bencana Banjir Bandang dan Longsor
Bulan November ini, kota Sibolga di Sumatra Utara masih terisolir setelah bencana banjir bandang dan longsor besar memutus akses jalan menuju wilayah tersebut. Menurut Kombes Ferry Walintukan, dari Humas Polda Sumut, jumlah korban jiwa yang meninggal dunia di Sibolga sebanyak 33 orang. Banyaknya korban jiwa dan puluhan warga yang belum ditemukan membuat proses pencarian menjadi prioritas utama seluruh tim SAR di lapangan.
Kombes Ferry mengakui bahwa upaya evakuasi korban menghadapi kendala terbesar yaitu akses menuju lokasi. Longsor hebat yang terjadi di beberapa ruas utama membuat jalur bantuan fisik dan mobilisasi personel tertahan. Ia juga menyebutkan bahwa tim SAR gabungan dari Brimob, Polres jajaran, Basarnas, TNI, BPBD, relawan, serta warga lokal menyisir sungai, lereng bukit, dan pemukiman yang tertimbun material longsor.
Cuaca yang berubah cepat, derasnya arus air, serta potensi longsor susulan masih menjadi tantangan di lapangan. Komunikasi darurat terus diupayakan berjalan menggunakan perangkat yang tersedia, sementara jalur logistik dicari melalui berbagai rute alternatif. Kombes Ferry juga menyebutkan bahwa tim kepolisian daerah Sumatera Utara turut berbuka cita dan melakukan upaya untuk dapat melakukan evakuasi terhadap korban-korban di sana.
Jumlah korban jiwa yang meninggal dunia di Sibolga masih banyak, dan puluhan warga yang belum ditemukan. Oleh karena itu, proses pencarian tetap dilanjutkan dengan berbagai upaya untuk mencapai lokasi-lokasi yang tidak bisa dijangkau kendaraan.
Bulan November ini, kota Sibolga di Sumatra Utara masih terisolir setelah bencana banjir bandang dan longsor besar memutus akses jalan menuju wilayah tersebut. Menurut Kombes Ferry Walintukan, dari Humas Polda Sumut, jumlah korban jiwa yang meninggal dunia di Sibolga sebanyak 33 orang. Banyaknya korban jiwa dan puluhan warga yang belum ditemukan membuat proses pencarian menjadi prioritas utama seluruh tim SAR di lapangan.
Kombes Ferry mengakui bahwa upaya evakuasi korban menghadapi kendala terbesar yaitu akses menuju lokasi. Longsor hebat yang terjadi di beberapa ruas utama membuat jalur bantuan fisik dan mobilisasi personel tertahan. Ia juga menyebutkan bahwa tim SAR gabungan dari Brimob, Polres jajaran, Basarnas, TNI, BPBD, relawan, serta warga lokal menyisir sungai, lereng bukit, dan pemukiman yang tertimbun material longsor.
Cuaca yang berubah cepat, derasnya arus air, serta potensi longsor susulan masih menjadi tantangan di lapangan. Komunikasi darurat terus diupayakan berjalan menggunakan perangkat yang tersedia, sementara jalur logistik dicari melalui berbagai rute alternatif. Kombes Ferry juga menyebutkan bahwa tim kepolisian daerah Sumatera Utara turut berbuka cita dan melakukan upaya untuk dapat melakukan evakuasi terhadap korban-korban di sana.
Jumlah korban jiwa yang meninggal dunia di Sibolga masih banyak, dan puluhan warga yang belum ditemukan. Oleh karena itu, proses pencarian tetap dilanjutkan dengan berbagai upaya untuk mencapai lokasi-lokasi yang tidak bisa dijangkau kendaraan.