Thomas Djiwandono, calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), adalah anak keponakan Presiden Prabowo Subianto. Ia lahir di Jakarta pada 7 Mei 1973 dan merupakan keturunan keluarga besar Djojohadikusumo. Thomas memulai karier sebagai jurnalis, kemudian menjadi analis finansial di Hong Kong sebelum kembali ke Indonesia.
Setelah masuk ke Partai Gerindra, Thomas meniti karier di partai tersebut dengan berbagai posisi mulai dari kader hingga bendahara umum. Ia juga ikut mendampingi pamannya Prabowo Subianto selama pencalonan presiden pada 2014 dan menjadi bendahara selama pemerintahan.
Thomas diproyeksikan akan mengisikan jabatan Deputi Gubernur BI, yang dianggap sebagai pertukaran dengan Juda Agung. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa independensi BI tidak akan goyah meski dimasuki keponakan presiden.
Thomas memiliki latar belakang ekonomi dan gelar S1 bidang sejarah dari Haverford College di Amerika Serikat. Ia juga pernah menjadi wartawan magang di Majalah Tempo dan wartawan Indonesia Business Weekly.
Selama masa jabatannya sebagai Wakil Menteri Keuangan, Thomas telah berkontribusi dalam pengelolaan keuangan negara dan terlibat dalam beberapa kebijakan moneter. Namun, kekhawatiran tentang independensi BI masih ada di kalangan investor setelah BI membuat kebijakan pembagian beban baru guna mendanai program pemerintah pada 2025 lalu.
"Kecuali nanti pada waktu ambil keputusan, ada intervensi langsung dari pemerintah. Selama ini kan enggak ada. Jadi, BI independen, kita jalankan fiskal, mereka jalankan moneter," kata Purbaya tentang kaitannya dengan independensi BI.
Dengan demikian, calon Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono memiliki latar belakang yang luas dalam ekonomi dan politik. Namun, apakah ia dapat menjaga independensi BI dan memastikan keberlangsungnya moneter Indonesia di masa depan?
Setelah masuk ke Partai Gerindra, Thomas meniti karier di partai tersebut dengan berbagai posisi mulai dari kader hingga bendahara umum. Ia juga ikut mendampingi pamannya Prabowo Subianto selama pencalonan presiden pada 2014 dan menjadi bendahara selama pemerintahan.
Thomas diproyeksikan akan mengisikan jabatan Deputi Gubernur BI, yang dianggap sebagai pertukaran dengan Juda Agung. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa independensi BI tidak akan goyah meski dimasuki keponakan presiden.
Thomas memiliki latar belakang ekonomi dan gelar S1 bidang sejarah dari Haverford College di Amerika Serikat. Ia juga pernah menjadi wartawan magang di Majalah Tempo dan wartawan Indonesia Business Weekly.
Selama masa jabatannya sebagai Wakil Menteri Keuangan, Thomas telah berkontribusi dalam pengelolaan keuangan negara dan terlibat dalam beberapa kebijakan moneter. Namun, kekhawatiran tentang independensi BI masih ada di kalangan investor setelah BI membuat kebijakan pembagian beban baru guna mendanai program pemerintah pada 2025 lalu.
"Kecuali nanti pada waktu ambil keputusan, ada intervensi langsung dari pemerintah. Selama ini kan enggak ada. Jadi, BI independen, kita jalankan fiskal, mereka jalankan moneter," kata Purbaya tentang kaitannya dengan independensi BI.
Dengan demikian, calon Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono memiliki latar belakang yang luas dalam ekonomi dan politik. Namun, apakah ia dapat menjaga independensi BI dan memastikan keberlangsungnya moneter Indonesia di masa depan?