Trump Mengancam Jerome Powell, Wadil Federal Reserve AS
Ketua Federal Reserve Amerika Serikat (AS), Jerome Powell, diperangkap oleh Presiden Donald Trump dalam ancaman pidana karena kesaksian di hadapan Komite Perbankan Senat pada bulan Juni lalu. Meskipun Powell menekankan bahwa ia menghormati hukum dan akuntabilitas, ancaman ini memicu pertanyaan tentang siapa Jerome Powell dan kenapa Trump mengancamnya.
Menurut sumber-sumber di AS, Jerome Hayden Powell adalah seorang bankir investasi, pengacara, dan pejabat publik Amerika Serikat yang dikenal luas sebagai Ketua Federal Reserve (bank sentral AS) sejak tahun 2018. Ia lahir pada 4 Februari 1953 di Washington, D.C., dari keluarga berlatar belakang hukum dan pendidikan.
Powell memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, termasuk menjabat sebagai pejabat senior di Departemen Keuangan AS pada era Presiden George H. W. Bush. Ia juga pernah bekerja di Dillon, Read & Co., kemudian menjadi mitra di Carlyle Group, salah satu perusahaan investasi besar dunia.
Namun, yang membuat Powell terancam adalah tentang proyek renovasi gedung-gedung Federal Reserve yang bersejarah. Trump menuduh Powell berlebihan dalam proyek ini, walaupun Powell menjelaskan bahwa renovasi itu penting untuk keamanan dan tidak ada fasilitas mewah seperti VIP dining room atau lift khusus.
Trump ingin Fed menurunkan suku bunga agar ekonomi bergerak lebih cepat, namun Fed harus menyeimbangkan antara menjaga harga barang tetap stabil dan menurunkan pengangguran. Powell dan timnya memilih pendekatan hati-hati, karena menurunkan suku bunga terlalu cepat bisa memicu inflasi di masa depan.
Tentunya, ancaman pidana ini bukan soal kesaksiannya atau renovasi gedung Fed, dan juga bukan masalah pengawasan Kongres. Semua informasi tentang proyek renovasi sudah disampaikan ke Kongres. Tuduhan ini hanyalah alasan untuk menekan Fed karena Fed membuat keputusan suku bunga berdasarkan kondisi ekonomi dan kepentingan publik, bukan mengikuti keinginan Presiden.
Akhirnya, apa yang harus kita lakukan? Mungkin saat ini adalah waktu bagi kita untuk memahami bahwa Jerome Powell hanya melakukan tugasnya sebagai Ketua Federal Reserve. Ia tidak memiliki pilihan lain selain membuat keputusan berdasarkan informasi dan data yang ada di depannya.
Ketua Federal Reserve Amerika Serikat (AS), Jerome Powell, diperangkap oleh Presiden Donald Trump dalam ancaman pidana karena kesaksian di hadapan Komite Perbankan Senat pada bulan Juni lalu. Meskipun Powell menekankan bahwa ia menghormati hukum dan akuntabilitas, ancaman ini memicu pertanyaan tentang siapa Jerome Powell dan kenapa Trump mengancamnya.
Menurut sumber-sumber di AS, Jerome Hayden Powell adalah seorang bankir investasi, pengacara, dan pejabat publik Amerika Serikat yang dikenal luas sebagai Ketua Federal Reserve (bank sentral AS) sejak tahun 2018. Ia lahir pada 4 Februari 1953 di Washington, D.C., dari keluarga berlatar belakang hukum dan pendidikan.
Powell memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, termasuk menjabat sebagai pejabat senior di Departemen Keuangan AS pada era Presiden George H. W. Bush. Ia juga pernah bekerja di Dillon, Read & Co., kemudian menjadi mitra di Carlyle Group, salah satu perusahaan investasi besar dunia.
Namun, yang membuat Powell terancam adalah tentang proyek renovasi gedung-gedung Federal Reserve yang bersejarah. Trump menuduh Powell berlebihan dalam proyek ini, walaupun Powell menjelaskan bahwa renovasi itu penting untuk keamanan dan tidak ada fasilitas mewah seperti VIP dining room atau lift khusus.
Trump ingin Fed menurunkan suku bunga agar ekonomi bergerak lebih cepat, namun Fed harus menyeimbangkan antara menjaga harga barang tetap stabil dan menurunkan pengangguran. Powell dan timnya memilih pendekatan hati-hati, karena menurunkan suku bunga terlalu cepat bisa memicu inflasi di masa depan.
Tentunya, ancaman pidana ini bukan soal kesaksiannya atau renovasi gedung Fed, dan juga bukan masalah pengawasan Kongres. Semua informasi tentang proyek renovasi sudah disampaikan ke Kongres. Tuduhan ini hanyalah alasan untuk menekan Fed karena Fed membuat keputusan suku bunga berdasarkan kondisi ekonomi dan kepentingan publik, bukan mengikuti keinginan Presiden.
Akhirnya, apa yang harus kita lakukan? Mungkin saat ini adalah waktu bagi kita untuk memahami bahwa Jerome Powell hanya melakukan tugasnya sebagai Ketua Federal Reserve. Ia tidak memiliki pilihan lain selain membuat keputusan berdasarkan informasi dan data yang ada di depannya.