Saksi: Jurist Tan Dominasi Kewenangan saat Nadiem Jadi Menteri

Jurist Tan mengendalikan berbagai urusan strategis di kementerian dengan kuasa besar yang menakutkan para staf. Menurut Widyaprada Ahli Utama, Jurist Tan bukan sekadar penasihat, melainkan sosok sentral yang mengatur aspek vital seperti penganggaran, sumber daya manusia, dan penyusunan regulasi.

Saksi lain menyebutkan bahwa Jurist Tan memiliki kewenangan yang sangat luas, sehingga menciptakan atmosfer intimidasi di tingkat birokrasi. Para staf di kementerian merasa takut karena posisi Jurist Tan yang dianggap sebagai representasi langsung dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim.

Jurist Tan juga terlibat dalam proses pengadaan Chromebook, dengan berperan dominan dalam mengatur rekomendasi teknis. Menurut Sutanto, Jurist Tan sangat dominan mengatur di Kemenbud bahkan staf-staf di Kemenbud takut karena Nadiem Anwar Makarim selalu mengatakan apa yang dikatakan staf khusus Jurist Tan sama dengan yang saya katakan.

Nadiem sendiri sudah beberapa kali menyampaikan bahwa apa yang disampaikan Jurist Tan adalah apa yang saya omongkan. Meski awalnya kajian teknis tidak mengarah pada satu merek tertentu, arahan dari Jurist Tan dan tim teknologi diduga kuat membuat spesifikasi proyek tersebut akhirnya mengunci pada produk Chromebook.

Jurist Tan juga memiliki komunikasi yang lebih banyak dengan Menteri dibandingkan dengan menteri secara langsung dalam hal substansi pekerjaan. Sutanto menyatakan bahwa dia tidak pernah berduaan dengan Menteri, tapi hanya ketemu rapat, dan lebih banyak berkomunikasi dengan Jurist Tan.

Kasus ini menunjukkan bahwa kewenangan yang luas di kementerian dapat menciptakan atmosfer intimidasi dan mempengaruhi proses kebijakan.
 
Wah, kayaknya Jurist Tan gak main-main dalam ngatur urusan strategis di Kemenbud Ristek. Gue pikir dia kayaknya udah memiliki kuasa yang sangat luas sehingga membuat staf-staf di sana merasa takut. Gue suka banget kalau pemerintah bisa terbuka tentang kewenangan dan kekuasaan di dalam pemerintahan, tapi gak juga ingin melihat perbedaan antara mereka yang dianggap penting dan yang tidak.

Gue rasa ini kayaknya masih ada beberapa hal yang perlu kita ulas lebih lanjut tentang bagaimana pengelolaan kewenangan di Kemenbud Ristek ini. Apakah ini benar-benar membuat atmosfer intimidasi? Atau mungkin dia hanya memberikan arahan yang jelas dan efektif? Gue ingin tahu lebih banyak tentang cara dia bekerja sama dengan Menteri Nadiem Makarim. 🤔
 
Kalau lihat situasi di Kemenbud, aku pikir ada sesuatu yang perlu dibawa perhatian. Jurist Tan memang memiliki pengaruh besar di kementerian, tapi gak apa-apa jika dia hanya berfungsi sebagai penasihat? Namun, kalau dia memiliki kuasa yang sebesar itu dan berperan seperti sentral, maka itu membuat proses kebijakan menjadi tidak transparan. Kalau staf-staf di Kemenbud takut karena posisinya, itu bukan baik. Menteri harus jelas menjelaskan bagaimana kewenangan yang luas itu digunakan untuk memastikan bahwa kebijaksanaan yang diambil benar-benar melayani masyarakat 🤔
 
Makanya sih dia bisa nggak terkendali? Jadi dia punya pengaruh besar di kemenbud, tapi itu bikin para staf khawatir. Saya pikir seharusnya ada aturan yang jelas tentang bagaimana cara kerja di kemenbud. Yang penting ya adalah Menteri dan stafnya harus bisa bekerja sama dengan baik tanpa ada siapa pun yang terlalu dominan.
 
Gue pikir kalau ada tekanan yang salah di kemenbud, gak ada yang bisa berfungsi dengan baik 🤔. Jika Jurist Tan terlalu kuasa, itu juga bikin staf-staf lainnya tidak nyaman berbicara dengan Menteri langsung, padahal itu penting buat mendapatkan kebijakan yang tepat 📝. Gue ragu-ragu gak perlu Jurist Tan jadi penguasa setan di kemenbud, tapi sepertinya itu sudah terjadi... 😬
 
aku pikir kayaknya kurang enak banget kalau satu orang saja punya kuasa besar begitu saja di kementerian. sepertinya Jurist Tan sudah jauh berkuasa sehingga para staf di sana merasa takut dan tidak nyaman untuk mengekspresikan pendapat mereka. kayaknya harus ada aturan yang jelas dan transparan tentang kewenangan dan otoritas di dalam kementerian, ya?
 
Gue lupa kalau masih ada seperti jurist tan yang begitu dominant di dalam birokrasi nih, selama ini gue pikir sudah tidak ada lagi kalau semakin ngomongnya menteri kita semua udah tahu apa-apa yang akan dilakukan. tapi sekarang jurist tan jadi kunci untuk menentukan segala sesuatu di dalam kemenbud, itu bikin gak nyaman kan? gue rasa ini sama kayak ketika 2013-2014 gue masih nggampang banget mengeluarkan opini tentang hal-hal yang sedang berlangsung di kalangan anak muda Indonesia, dan kita semua udah tahu apa-apa yang akan terjadi setelah itu
 
kembali
Top