Rupiah Terbang Kekacauan: Perdagangan Jumat Lalu Melemah Hingga Rp16.807 Per Dolar AS
Perdagangan rupiah Jumat lalu terjadi pergerakan ekstrem, dengan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp16.807 per dolar Amerika Serikat (AS), menurut data dari Tirto.id. Ini merupakan penurunan 52 poin atau 0,31 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp16.755 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa rupiah akan terus bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.750-Rp16.780 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Ia juga menekankan bahwa sentimen dalam negeri dan imbas dari vonis yang membekukan rebalancing indeks beberapa saham Indonesia mempengaruhi rontoknya rupiah.
Selain itu, Goldman Sachs Group Inc juga memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Ibrahim menambahkan bahwa dalam skenario terburuk, apabila status Indonesia diturunkan dari pasar negara berkembang menjadi pasar frontier, dana pasif berbasis indeks MSCI diperkirakan bisa melepas aset hingga 7,8 miliar dolar AS.
Tegangan geopolitik yang dipicu oleh pertimbangan Presiden AS mengenai opsi militer terhadap Iran juga menambahkan tekanan pada pasar keuangan dunia. Namun, tekanan ini masih relatif terbatas dibandingkan dengan dampak sentimen dalam negeri.
Perdagangan rupiah Jumat lalu terjadi pergerakan ekstrem, dengan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp16.807 per dolar Amerika Serikat (AS), menurut data dari Tirto.id. Ini merupakan penurunan 52 poin atau 0,31 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp16.755 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa rupiah akan terus bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.750-Rp16.780 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Ia juga menekankan bahwa sentimen dalam negeri dan imbas dari vonis yang membekukan rebalancing indeks beberapa saham Indonesia mempengaruhi rontoknya rupiah.
Selain itu, Goldman Sachs Group Inc juga memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Ibrahim menambahkan bahwa dalam skenario terburuk, apabila status Indonesia diturunkan dari pasar negara berkembang menjadi pasar frontier, dana pasif berbasis indeks MSCI diperkirakan bisa melepas aset hingga 7,8 miliar dolar AS.
Tegangan geopolitik yang dipicu oleh pertimbangan Presiden AS mengenai opsi militer terhadap Iran juga menambahkan tekanan pada pasar keuangan dunia. Namun, tekanan ini masih relatif terbatas dibandingkan dengan dampak sentimen dalam negeri.