Rupiah terus melemah, ditutup di Rp 16.876 per dolar AS. Ini adalah pengakuan Moody's yang menurunkan rating outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Pengamat mata uang mengatakan bahwa turunnya nilai rupiah ini merupakan hasil dari kebijasan yang sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola pemerintahan, dan meningkatnya ketidakpastian yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor.
Menurut pengamat mata uang, jika kondisi ini berlanjut, Moody's akan mengancam kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Pengamat juga menyebutkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026, mencapai Rp 154,6 triliun dolar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI.
Meski turun, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Namun, pengamat juga menyatakan bahwa melemahnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal, seperti peningkatan ketegangan militer di Timur Tengah dan perubahan pendapat antara AS dan Iran tentang subjek pembicaraan Jumat.
Pasar berharap bahwa pembicaraan antara Tehran dan Washington akan membantu meredakan beberapa ketegangan dan mencegah perang yang lebih luas. Namun, AS dan Iran terlihat berbeda pendapat mengenai subjek pembicaraan tersebut.
Menurut pengamat mata uang, jika kondisi ini berlanjut, Moody's akan mengancam kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Pengamat juga menyebutkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026, mencapai Rp 154,6 triliun dolar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI.
Meski turun, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Namun, pengamat juga menyatakan bahwa melemahnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal, seperti peningkatan ketegangan militer di Timur Tengah dan perubahan pendapat antara AS dan Iran tentang subjek pembicaraan Jumat.
Pasar berharap bahwa pembicaraan antara Tehran dan Washington akan membantu meredakan beberapa ketegangan dan mencegah perang yang lebih luas. Namun, AS dan Iran terlihat berbeda pendapat mengenai subjek pembicaraan tersebut.