Nilai tukar rupiah terus melengkung ke level Rp16.760 per dolar AS pada Kamis pagi ini, melemah 38 poin atau 0,23 persen dari posisi sebelumnya. Pergerakan ini dilandasi oleh sejumlah mata uang Asia yang turut bergerak dalam zona merah, seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand yang melengkung melebar ke level 3.927 dan 31.185 per dolar AS masing-masing.
Dalam keadaan yang sama, dolar Singapura menguat tipis sebesar 0,13 persen menjadi Rp1.264 per dolar AS, sedangkan won Korea Selatan melengkung naik 0,55 persen hingga Rp1.428,3 per dolar AS. Sedangkan yen Jepang dan yuan Cina tetap stabil di kisaran Rp153.28 dan Rp6,95 per dolar AS masing-masing.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang melanda pasar keuangan global, yaitu agenda tarif Presiden AS Donald Trump. Ia menyatakan bahwa ancaman tarif 25 persen dari Seoul oleh Presiden AS ini mendorong nilai tukar Dolar AS melemah.
Selain itu, meningkatnya kekhawatiran penutupan pemerintahan AS menjelang tenggat pendanaan pada 30 Januari juga mempengaruhi pergerakan pasar. Kondisi ini mendorong aliran dana ke aset lindung nilai, seperti emas.
Pertemuan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari pukul 02.00 WIB juga menentukan fokus pasar hari ini. Pasar memperkirakan bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50-3,75 persen.
Dalam negeri, pasar merespons positif kebijakan fiskal pemerintah yang diluncurkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Empat program stimulus 2025 dijadwalkan dilanjutkan pada 2026, termasuk PPh Final UMKM 0,5 persen hingga 2029 dan diskon iuran JKK dan JKM bagi peserta bukan penerima upah.
Dalam keadaan yang sama, dolar Singapura menguat tipis sebesar 0,13 persen menjadi Rp1.264 per dolar AS, sedangkan won Korea Selatan melengkung naik 0,55 persen hingga Rp1.428,3 per dolar AS. Sedangkan yen Jepang dan yuan Cina tetap stabil di kisaran Rp153.28 dan Rp6,95 per dolar AS masing-masing.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang melanda pasar keuangan global, yaitu agenda tarif Presiden AS Donald Trump. Ia menyatakan bahwa ancaman tarif 25 persen dari Seoul oleh Presiden AS ini mendorong nilai tukar Dolar AS melemah.
Selain itu, meningkatnya kekhawatiran penutupan pemerintahan AS menjelang tenggat pendanaan pada 30 Januari juga mempengaruhi pergerakan pasar. Kondisi ini mendorong aliran dana ke aset lindung nilai, seperti emas.
Pertemuan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari pukul 02.00 WIB juga menentukan fokus pasar hari ini. Pasar memperkirakan bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50-3,75 persen.
Dalam negeri, pasar merespons positif kebijakan fiskal pemerintah yang diluncurkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Empat program stimulus 2025 dijadwalkan dilanjutkan pada 2026, termasuk PPh Final UMKM 0,5 persen hingga 2029 dan diskon iuran JKK dan JKM bagi peserta bukan penerima upah.