LSF Baru Merilis Maskot Baru, Inilah Filosofinya!
Kabar yang menyinari mata ini kemarin siang hari, saat Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) meluncurkan maskot terbarunya. Nama Mama Culla menjadi semboyan mereka dalam rangka memperkuat budaya sensor mandiri. Maskot ini dipilih karena merupakan karakter badak Jawa yang berkebudayaan dan memiliki filosofi unik.
Ketua Umum LSF RI, Dr. Naswardi, mengatakan bahwa Mama Culla adalah sosok ibu milenial (gen Y) yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sementara itu, badak Jawa dipilih karena merupakan satwa endemik Indonesia yang dilindungi dunia dan merepresentasikan nilai-nilai budaya sensor mandiri.
Filosofi induk badak Jawa dalam melindungi anaknya juga menjadi inspirasi bagi LSF RI. Mereka ingin memperkuat kesadaran masyarakat untuk memilih tontonan yang sesuai dengan usia. Anak-anak perlu dijaga dari tontonan yang tidak sesuai usia, sedangkan orang dewasa dituntut memiliki kesadaran dalam memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia.
Dengan demikian, LSF RI berharap dapat mendorong budaya sensor mandiri lebih kuat. Mereka ingin melindungi masyarakat dari konten materi yang sensitif dan memberikan kesadaran yang lebih baik bagi penonton.
Kabar yang menyinari mata ini kemarin siang hari, saat Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) meluncurkan maskot terbarunya. Nama Mama Culla menjadi semboyan mereka dalam rangka memperkuat budaya sensor mandiri. Maskot ini dipilih karena merupakan karakter badak Jawa yang berkebudayaan dan memiliki filosofi unik.
Ketua Umum LSF RI, Dr. Naswardi, mengatakan bahwa Mama Culla adalah sosok ibu milenial (gen Y) yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sementara itu, badak Jawa dipilih karena merupakan satwa endemik Indonesia yang dilindungi dunia dan merepresentasikan nilai-nilai budaya sensor mandiri.
Filosofi induk badak Jawa dalam melindungi anaknya juga menjadi inspirasi bagi LSF RI. Mereka ingin memperkuat kesadaran masyarakat untuk memilih tontonan yang sesuai dengan usia. Anak-anak perlu dijaga dari tontonan yang tidak sesuai usia, sedangkan orang dewasa dituntut memiliki kesadaran dalam memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia.
Dengan demikian, LSF RI berharap dapat mendorong budaya sensor mandiri lebih kuat. Mereka ingin melindungi masyarakat dari konten materi yang sensitif dan memberikan kesadaran yang lebih baik bagi penonton.