Masuknya sebuah perusahaan ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dianggap sebagai prestasi besar yang memberikan akses ke pasar global. Ini bukan hanya soal harga saham yang menaik, melainkan juga membuka pintu bagi perusahaan untuk mendapatkan modal yang lebih mudah dan murah.
Keuntungan paling nyata dari masuknya sebuah perusahaan ke dalam indeks MSCI adalah arus dana asing yang bermunculan. Indeks MSCI menjadi kiblat utama bagi ribuan manajer investasi raksasa di seluruh dunia, sehingga banyak produk investasi seperti Reksa Dana Global dan Exchange Traded Fund (ETF) yang mandat investasinya hanya satu yaitu meniru komposisi indeks MSCI.
Ketika sebuah perusahaan baru resmi masuk ke dalam daftar indeks, para pengelola dana triliunan dolar ini memiliki kewajiban untuk membeli saham tersebut secara otomatis. Aksi beli masif inilah yang menciptakan permintaan besar dan mendorong harga saham terbang.
Selain itu, masuknya perusahaan ke dalam indeks MSCI juga memicu minat dari investor aktif. Saham yang tadinya mungkin luput dari pantauan, kini masuk ke dalam radar analisa investor asing non-ETF, sehingga basis investor perusahaan diwujudkan secara berskala global.
Harga saham akan terdongkrak ketika permintaan naik drastis sementara suplai saham tetap, namun seringkali diikuti oleh re-rating atau penilaian ulang terhadap valuasi perusahaan. Pasar cenderung memberikan toleransi valuasi yang lebih premium kepada emiten penghuni MSCI karena dianggap telah "naik kelas" dan memiliki stabilitas lebih baik dibandingkan saham second liner.
Di sisi lain, likuiditas saham di pasar sekunder akan meningkat tajam. Dengan banyaknya pemain besar atau Big Fund yang bertransaksi, volume perdagangan harian akan melonjak. Bagi investor institusi, likuiditas adalah raja, sehingga mereka membutuhkan pasar yang "dalam" agar bisa masuk dan keluar dengan dana besar tanpa menyebabkan guncangan harga yang ekstrem.
Kemudahan dalam mencari fundraising juga menjadi hal penting bagi manajemen perusahaan. Status sebagai penghuni indeks MSCI secara tidak langsung menurunkan biaya modal atau Cost of Equity, sehingga perusahaan dapat menetapkan harga pelaksanaan rights issue yang lebih tinggi dan meraup target dana yang besar dengan hanya menerbitkan jumlah lembar saham yang lebih sedikit.
Terakhir, masuk MSCI adalah bentuk validasi global. MSCI memiliki kriteria seleksi yang sangat ketat, mencakup kapitalisasi pasar, porsi saham publik (free float), hingga likuiditas. Lolos dari saringan ini memberikan sinyal kuat kepada dunia bahwa perusahaan tersebut memiliki tata kelola yang baik, skala bisnis yang masif, dan aman untuk dijadikan tempat investasi jangka panjang.
Secara keseluruhan, bagi sebuah emiten, masuk ke dalam indeks MSCI bukan hanya soal harga saham yang hijau. Ini adalah tentang membuka pintu akses ke modal global yang lebih murah, meningkatkan reputasi, dan memperkuat fondasi pemegang saham.
Keuntungan paling nyata dari masuknya sebuah perusahaan ke dalam indeks MSCI adalah arus dana asing yang bermunculan. Indeks MSCI menjadi kiblat utama bagi ribuan manajer investasi raksasa di seluruh dunia, sehingga banyak produk investasi seperti Reksa Dana Global dan Exchange Traded Fund (ETF) yang mandat investasinya hanya satu yaitu meniru komposisi indeks MSCI.
Ketika sebuah perusahaan baru resmi masuk ke dalam daftar indeks, para pengelola dana triliunan dolar ini memiliki kewajiban untuk membeli saham tersebut secara otomatis. Aksi beli masif inilah yang menciptakan permintaan besar dan mendorong harga saham terbang.
Selain itu, masuknya perusahaan ke dalam indeks MSCI juga memicu minat dari investor aktif. Saham yang tadinya mungkin luput dari pantauan, kini masuk ke dalam radar analisa investor asing non-ETF, sehingga basis investor perusahaan diwujudkan secara berskala global.
Harga saham akan terdongkrak ketika permintaan naik drastis sementara suplai saham tetap, namun seringkali diikuti oleh re-rating atau penilaian ulang terhadap valuasi perusahaan. Pasar cenderung memberikan toleransi valuasi yang lebih premium kepada emiten penghuni MSCI karena dianggap telah "naik kelas" dan memiliki stabilitas lebih baik dibandingkan saham second liner.
Di sisi lain, likuiditas saham di pasar sekunder akan meningkat tajam. Dengan banyaknya pemain besar atau Big Fund yang bertransaksi, volume perdagangan harian akan melonjak. Bagi investor institusi, likuiditas adalah raja, sehingga mereka membutuhkan pasar yang "dalam" agar bisa masuk dan keluar dengan dana besar tanpa menyebabkan guncangan harga yang ekstrem.
Kemudahan dalam mencari fundraising juga menjadi hal penting bagi manajemen perusahaan. Status sebagai penghuni indeks MSCI secara tidak langsung menurunkan biaya modal atau Cost of Equity, sehingga perusahaan dapat menetapkan harga pelaksanaan rights issue yang lebih tinggi dan meraup target dana yang besar dengan hanya menerbitkan jumlah lembar saham yang lebih sedikit.
Terakhir, masuk MSCI adalah bentuk validasi global. MSCI memiliki kriteria seleksi yang sangat ketat, mencakup kapitalisasi pasar, porsi saham publik (free float), hingga likuiditas. Lolos dari saringan ini memberikan sinyal kuat kepada dunia bahwa perusahaan tersebut memiliki tata kelola yang baik, skala bisnis yang masif, dan aman untuk dijadikan tempat investasi jangka panjang.
Secara keseluruhan, bagi sebuah emiten, masuk ke dalam indeks MSCI bukan hanya soal harga saham yang hijau. Ini adalah tentang membuka pintu akses ke modal global yang lebih murah, meningkatkan reputasi, dan memperkuat fondasi pemegang saham.