Selama ini, perdebatan di Iran mulai memunculkan ketegangan. Aksi demonstrasi yang berlangsung sejak Minggu (28/12/2025) waktu setempat telah menewaskan setidaknya 35 orang dan membuat lebih dari 1.200 lainnya ditahan aparat. Jumlah ini dikonfirmasi asosiasi pers yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA) pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat.
Demonstrasi tersebut telah meluas ke lebih dari 250 lokasi di 27 dari 31 provinsi di Iran. Ada dugaan aksi meningkat usai Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan ancaman kepada Iran pada Minggu (4/1) malam waktu setempat. "Kami memantau situasi ini dengan sangat ketat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang mereka lakukan di masa lalu, saya yakin mereka akan mendapat hukuman berat dari Amerika Serikat," kata Donald Trump kepada wartawan di Air Force One.
Di sisi lain, Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan bahwa otoritas akan mendengarkan protes dan kritik massa aksi secara sah dan wajar. Namun, mereka bakal bertindak tegas terhadap pendemo yang memanfaatkan situasi, memicu kerusuhan, dan mengganggu keamanan negara serta rakyat.
Protes terbaru Iran tersebut dimulai ketika para pedagang turun ke jalan-jalan Teheran untuk menyuarakan kemarahan mereka atas penurunan tajam nilai mata uang Iran terhadap dolar AS. Rial telah anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada Desember 2025, mencapai 1,4 juta rial per dolar AS dan inflasi melonjak hingga 40 persen akibat sanksi atas program nuklir Iran yang menekan ekonomi.
Mahasiswa segera bergabung dalam protes tersebut dan aksi protes mulai menyebar ke kota-kota lain. Demonstrasi terbaru ini menjadi yang terbesar di Iran sejak 2022 saat kematian Mahsa Amini. Namun, belum seluas dan seintensif yang terjadi seputar kematian Amini.
Gadis berusia 22 tahun ini ditahan karena tidak mengenakan hijab atau kerudung sesuai dengan keinginan otoritas kemudian meninggal dunia di dalam tahanan polisi.
Demonstrasi tersebut telah meluas ke lebih dari 250 lokasi di 27 dari 31 provinsi di Iran. Ada dugaan aksi meningkat usai Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan ancaman kepada Iran pada Minggu (4/1) malam waktu setempat. "Kami memantau situasi ini dengan sangat ketat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang mereka lakukan di masa lalu, saya yakin mereka akan mendapat hukuman berat dari Amerika Serikat," kata Donald Trump kepada wartawan di Air Force One.
Di sisi lain, Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan bahwa otoritas akan mendengarkan protes dan kritik massa aksi secara sah dan wajar. Namun, mereka bakal bertindak tegas terhadap pendemo yang memanfaatkan situasi, memicu kerusuhan, dan mengganggu keamanan negara serta rakyat.
Protes terbaru Iran tersebut dimulai ketika para pedagang turun ke jalan-jalan Teheran untuk menyuarakan kemarahan mereka atas penurunan tajam nilai mata uang Iran terhadap dolar AS. Rial telah anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada Desember 2025, mencapai 1,4 juta rial per dolar AS dan inflasi melonjak hingga 40 persen akibat sanksi atas program nuklir Iran yang menekan ekonomi.
Mahasiswa segera bergabung dalam protes tersebut dan aksi protes mulai menyebar ke kota-kota lain. Demonstrasi terbaru ini menjadi yang terbesar di Iran sejak 2022 saat kematian Mahsa Amini. Namun, belum seluas dan seintensif yang terjadi seputar kematian Amini.
Gadis berusia 22 tahun ini ditahan karena tidak mengenakan hijab atau kerudung sesuai dengan keinginan otoritas kemudian meninggal dunia di dalam tahanan polisi.