Proyek DME Batu Bara Tertunda, Kita Harus Siap-Siap
Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara dan kepala BP BUMN, mengonfirmasi bahwa penundaan proyek hilirisasi Dimethyl Ether (DME) dari batubara di lokasi PT Bukit Asam. Penundaan ini terjadi karena perlu dilakukan kajian mendalam untuk menentukan teknologi yang akan digunakan dalam proyek tersebut.
Pemilihan teknologi merupakan langkah kritis dalam proyek DME, agar produk akhir memiliki harga yang kompetitif dan dapat diserap pasar dengan baik. Dony menyatakan bahwa teknologi yang dipilih harus memiliki output yang kompetitif dan tidak membuat gas hasilnya tidak diserap oleh pasar.
Penundaan groundbreaking ini juga mengikuti arahan CEO Danantara, Rosan Roeslani, untuk melakukan kajian yang sangat detail sebelum proyek dimulai. Dony menyatakan bahwa proses ini penting untuk memastikan kelayakan dan keberlanjutan proyek DME di lokasi PT Bukit Asam.
Meski tertunda, Dony memberikan sinyal optimis bahwa proses persiapan akan segera tuntas. Ia memproyeksikan pengumuman resmi dan pelaksanaan groundbreaking dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Proyek DME merupakan bagian dari program hilirisasi batubara dalam negeri yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor elpiji. Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi LPG nasional akan mencapai 10 juta metrik ton pada 2026, sementara produksi domestik hanya sebesar 1,3-1,4 juta mt.
Enam proyek yang mulai dibangun meliputi fasilitas pengolahan bauksit, alumina, dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat; Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) 2 di Mempawah, Kalimantan Barat; pabrik bioetanol Glenmore fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur; pabrik biorefinery (bioavtur) di Cilacap, Jawa Tengah; proyek peternakan unggas terintegrasi di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB); serta pabrik garam di Sampang-Madura.
Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara dan kepala BP BUMN, mengonfirmasi bahwa penundaan proyek hilirisasi Dimethyl Ether (DME) dari batubara di lokasi PT Bukit Asam. Penundaan ini terjadi karena perlu dilakukan kajian mendalam untuk menentukan teknologi yang akan digunakan dalam proyek tersebut.
Pemilihan teknologi merupakan langkah kritis dalam proyek DME, agar produk akhir memiliki harga yang kompetitif dan dapat diserap pasar dengan baik. Dony menyatakan bahwa teknologi yang dipilih harus memiliki output yang kompetitif dan tidak membuat gas hasilnya tidak diserap oleh pasar.
Penundaan groundbreaking ini juga mengikuti arahan CEO Danantara, Rosan Roeslani, untuk melakukan kajian yang sangat detail sebelum proyek dimulai. Dony menyatakan bahwa proses ini penting untuk memastikan kelayakan dan keberlanjutan proyek DME di lokasi PT Bukit Asam.
Meski tertunda, Dony memberikan sinyal optimis bahwa proses persiapan akan segera tuntas. Ia memproyeksikan pengumuman resmi dan pelaksanaan groundbreaking dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Proyek DME merupakan bagian dari program hilirisasi batubara dalam negeri yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor elpiji. Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi LPG nasional akan mencapai 10 juta metrik ton pada 2026, sementara produksi domestik hanya sebesar 1,3-1,4 juta mt.
Enam proyek yang mulai dibangun meliputi fasilitas pengolahan bauksit, alumina, dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat; Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) 2 di Mempawah, Kalimantan Barat; pabrik bioetanol Glenmore fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur; pabrik biorefinery (bioavtur) di Cilacap, Jawa Tengah; proyek peternakan unggas terintegrasi di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB); serta pabrik garam di Sampang-Madura.