Putra Mahkota Reza Pahlavi mendukung aksi demonstrasi rakyat Iran. Siapa dia? Seorang anak dari Shah terakhir Iran yang runtuh pada 1979, sekarang banyak disorot di tengah unjuk rasa masyarakat Iran selama dua minggu terakhir.
Reza Pahlavi (65) lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960. Ia adalah putra tertua dari Mohammad Reza Shah Pahlavi yang kala itu menjabat sebagai pemimpin monarki Iran. Dalam Revolusi 1979, ayahnya digulingkan dan struktur negara Iran berubah.
Setelah revolusi terjadi, Reza Pahlavi berusia 17 tahun dan sedang menempuh pelatihan jadi pilot pesawat tempur di AS. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ilmu politik di University of Southern California.
Meskipun tempat kelahirannya sudah sepenuhnya berubah, Reza Pahlavi sejak muda ingin kembali ke Iran. Ia sempat mengajukan diri untuk bertempur untuk negaranya dalam perang Iran-Irak pada dekade 80-an, namun ditolak otoritas di Teheran.
Sejak itu, Pahlavi kemudian tinggal menetap di AS. Di sana, ia hidup bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan tiga anak perempuan mereka. Meskipun hidup di pengasingan, Reza Pahlavi rajin mempromosikan ide referendum dan perubahan kekuasaan kepada masyarakat Iran.
Pada 2023 lalu, Pahlavi melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Israel. Kedekatan ini, dipandang banyak pihak, berpotensi jadi batu pengganjal Pahlevi untuk kembali terlibat dalam politik dalam negeri Iran yang punya sentimen negatif ke Israel.
Sekarang di tengah situasi karut marut yang meluas di Iran, Reza Pahlavi mendapatkan momentum untuk terlihat jadi yang terlantang menyuarakan perlawanan.
Reza Pahlavi (65) lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960. Ia adalah putra tertua dari Mohammad Reza Shah Pahlavi yang kala itu menjabat sebagai pemimpin monarki Iran. Dalam Revolusi 1979, ayahnya digulingkan dan struktur negara Iran berubah.
Setelah revolusi terjadi, Reza Pahlavi berusia 17 tahun dan sedang menempuh pelatihan jadi pilot pesawat tempur di AS. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ilmu politik di University of Southern California.
Meskipun tempat kelahirannya sudah sepenuhnya berubah, Reza Pahlavi sejak muda ingin kembali ke Iran. Ia sempat mengajukan diri untuk bertempur untuk negaranya dalam perang Iran-Irak pada dekade 80-an, namun ditolak otoritas di Teheran.
Sejak itu, Pahlavi kemudian tinggal menetap di AS. Di sana, ia hidup bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan tiga anak perempuan mereka. Meskipun hidup di pengasingan, Reza Pahlavi rajin mempromosikan ide referendum dan perubahan kekuasaan kepada masyarakat Iran.
Pada 2023 lalu, Pahlavi melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Israel. Kedekatan ini, dipandang banyak pihak, berpotensi jadi batu pengganjal Pahlevi untuk kembali terlibat dalam politik dalam negeri Iran yang punya sentimen negatif ke Israel.
Sekarang di tengah situasi karut marut yang meluas di Iran, Reza Pahlavi mendapatkan momentum untuk terlihat jadi yang terlantang menyuarakan perlawanan.