Tirto.id melaporkan, terdapat pro dan kontra dalam kalangan pengamat terkait masuknya Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Nama Wakil Menteri Keuangan tersebut masuk dalam bursa Deputi Gubernur Bank Indonesia, membuat banyak orang khawatir dengan keberadaannya.
Menurut Nailul Huda, pengamat ekonomi Center of Economics and Law Studies, Thomas Djiwandono merupakan orang yang berasal dari partai politik. Ia khawatir bahwa kehadiran Thomas dalam bursa Deputi Gubernur Bank Indonesia tersebut akan menimbulkan buruk bagi independensi BI.
Nailul berpendapat, BI adalah instansi yang sangat penting dan bebas dari campur tangan pemerintah pusat atau pihak lainnya. Ia juga menyatakan bahwa ketika Pemerintah Pusat memiliki kebijakan fiskal yang buruk, sektor moneter dapat menopang kebijakan tersebut.
Namun, Nailul khawatir dengan kehadiran Thomas dalam bursa Deputi Gubernur Bank Indonesia tersebut. Ia berpendapat bahwa Thomas telah gagal dalam mengelola kebijakan fiskal dan telah menjadi Wamenkeu.
Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komiditas juga memiliki pendapat yang berbeda tentang masuknya Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia menyatakan bahwa Thomas mempunyai figur yang sangat baik dalam masalah keuangan.
Ibrahim Assuaibi percaya bahwa Thomas kemungkinan besar dipersiapkan untuk menjadi Gubernur BI dalam lima tahun ke depan. Meski memiliki latar belakang eks parpol, Thomas disebut merupakan seorang profesional yang memiliki kemampuan untuk mengelola Bank Indonesia.
Sementara itu, menurut Nailul Huda, Thomas Djiwandono harus terlebih dahulu memprovesi dirinya sebagai Wamenkeu sebelum dipertimbangkan sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia berpendapat bahwa langkah tersebut tidak logis dan hanya dapat dianggap sebagai kepentingan pribadi dan partai Gerindra saja.
Sementara itu, Ibrahim Assuaibi menolak pendapat yang menyatakan Thomas Djiwandono adalah penyebab Rupiah melemah. Ia berpendapat bahwa Rupiah melemah disebabkan oleh berbagai faktor internal maupun eksternal.
Menurut Nailul Huda, pengamat ekonomi Center of Economics and Law Studies, Thomas Djiwandono merupakan orang yang berasal dari partai politik. Ia khawatir bahwa kehadiran Thomas dalam bursa Deputi Gubernur Bank Indonesia tersebut akan menimbulkan buruk bagi independensi BI.
Nailul berpendapat, BI adalah instansi yang sangat penting dan bebas dari campur tangan pemerintah pusat atau pihak lainnya. Ia juga menyatakan bahwa ketika Pemerintah Pusat memiliki kebijakan fiskal yang buruk, sektor moneter dapat menopang kebijakan tersebut.
Namun, Nailul khawatir dengan kehadiran Thomas dalam bursa Deputi Gubernur Bank Indonesia tersebut. Ia berpendapat bahwa Thomas telah gagal dalam mengelola kebijakan fiskal dan telah menjadi Wamenkeu.
Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komiditas juga memiliki pendapat yang berbeda tentang masuknya Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia menyatakan bahwa Thomas mempunyai figur yang sangat baik dalam masalah keuangan.
Ibrahim Assuaibi percaya bahwa Thomas kemungkinan besar dipersiapkan untuk menjadi Gubernur BI dalam lima tahun ke depan. Meski memiliki latar belakang eks parpol, Thomas disebut merupakan seorang profesional yang memiliki kemampuan untuk mengelola Bank Indonesia.
Sementara itu, menurut Nailul Huda, Thomas Djiwandono harus terlebih dahulu memprovesi dirinya sebagai Wamenkeu sebelum dipertimbangkan sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia berpendapat bahwa langkah tersebut tidak logis dan hanya dapat dianggap sebagai kepentingan pribadi dan partai Gerindra saja.
Sementara itu, Ibrahim Assuaibi menolak pendapat yang menyatakan Thomas Djiwandono adalah penyebab Rupiah melemah. Ia berpendapat bahwa Rupiah melemah disebabkan oleh berbagai faktor internal maupun eksternal.