Ada beberapa isu yang akan muncul di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pertama, perpanjangan masa jabatan presiden dan kedua, keinginan untuk mengembalikan pemilihan presiden lewat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Menurut Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, keduanya akan bergulir secara beriringan dengan wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kedua isu ini menggunakan alasan sama seperti keinginan sejumlah partai politik yang ingin mengembalikan pilkada tidak langsung, yaitu ongkos politik yang mahal dan masyarakat terbelah akibat pemilihan langsung.
Pertama-tama, perpanjangan masa jabatan presiden. Adi Prayitno menyatakan bahwa isu ini akan selalu terulang dekat dengan pilkada melalui DPRD. Keduanya menggunakan alasan sama, yaitu ingin mengurangi ongkos politik dan menghindari masyarakat terbelah akibat pemilihan langsung.
Kedua, keinginan untuk mengembalikan pemilihan presiden lewat MPR. Adi Prayitno menyatakan bahwa kedua isu ini akan bergulir secara beriringan dengan wacana pembahasan sistem pemilihan anggota legislatif secara proporsional terbuka ataupun terutup.
Saat ini, beberapa partai politik pendukung pemerintahan Prabowo Subianto sedang menggulirkan pilkada lewat DPRD. Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa merupakan pendukung agenda ini. Hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang menyatakan menolak pilkada tak langsung.
Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Indonesia Corruption Watch (ICW), dan beberapa koalisi masyarakat sipil menentang agenda tersebut. Mereka menilai alasan ongkos politik pilkada langsung mahal tidak relevan dan tidak tepat.
Saat ini, beberapa wacana untuk menggabungkan beberapa undang-undang terkait pemilu sedang terjadi. Rencana penggabungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam proses pemilihan.
Menurut Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, keduanya akan bergulir secara beriringan dengan wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kedua isu ini menggunakan alasan sama seperti keinginan sejumlah partai politik yang ingin mengembalikan pilkada tidak langsung, yaitu ongkos politik yang mahal dan masyarakat terbelah akibat pemilihan langsung.
Pertama-tama, perpanjangan masa jabatan presiden. Adi Prayitno menyatakan bahwa isu ini akan selalu terulang dekat dengan pilkada melalui DPRD. Keduanya menggunakan alasan sama, yaitu ingin mengurangi ongkos politik dan menghindari masyarakat terbelah akibat pemilihan langsung.
Kedua, keinginan untuk mengembalikan pemilihan presiden lewat MPR. Adi Prayitno menyatakan bahwa kedua isu ini akan bergulir secara beriringan dengan wacana pembahasan sistem pemilihan anggota legislatif secara proporsional terbuka ataupun terutup.
Saat ini, beberapa partai politik pendukung pemerintahan Prabowo Subianto sedang menggulirkan pilkada lewat DPRD. Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa merupakan pendukung agenda ini. Hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang menyatakan menolak pilkada tak langsung.
Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Indonesia Corruption Watch (ICW), dan beberapa koalisi masyarakat sipil menentang agenda tersebut. Mereka menilai alasan ongkos politik pilkada langsung mahal tidak relevan dan tidak tepat.
Saat ini, beberapa wacana untuk menggabungkan beberapa undang-undang terkait pemilu sedang terjadi. Rencana penggabungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam proses pemilihan.