Pernahkah Anda berpikir tentang apakah Pilkada langsung benar-benar efisien? Banyak orang yang percaya bahwa sistem ini mahal dan tidak efektif dalam memilih kepala daerah. Mereka menyebutkan biaya politik yang tinggi sebagai alasan utama untuk mendorong pengembalian sistem Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada tidak langsung, melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Menurut mereka, biaya politik yang tinggi kembali dijadikan alasan utama untuk menghidupkan kembali opsi pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Mereka juga menilai bahwa Pilkada langsung dapat menyebabkan praktek transaksi politik yang lebih brutal dan elitis.
Pengamat politik, Arifki Chaniago, menilai bahwa dari sisi biaya formal negara, Pilkada melalui DPRD memang cenderung lebih murah. Namun, dia juga menyoroti bahwa di titik inilah ilusi efisiensi bekerja. Ketika biaya negara menurun, biaya politik justru berpindah tempat.
"Biaya kampanye untuk seorang calon kepala daerah, kita terbuka saja, itu angkanya prohibitif. Mahal," kata Ahdi Doli Kurnia Tandjung, Wakil Ketua Umum Partai Golkar.
Sementara itu, pengajar Bidang Studi Hukum Tata Negara, Titi Anggraini, menilai bahwa argumen tingginya biaya politik untuk mengembalikan Pilkada tidak langsung melalui DPRD, tak tepat. Ia menyebutkan bahwa praktik transaksi politik yang lebih brutal dan elitis sering kali terjadi dalam praktek Pilkada oleh DPRD.
"Menghapus Pilkada langsung dengan dalih efisiensi biaya justru menghindari akar persoalan dan berpotensi melegitimasi praktik politik transaksional," kata Titi Anggraini.
Dalam konteks ini, partisipasi publik berisiko tereduksi secara mendasar dan mekanisme <em>checks and balances</em> berubah menjadi relasi saling sandera kepentingan antara eksekutif daerah dan DPRD.
"Jalan konstitusional yang tepat adalah dengan memperbaiki kualitas Pilkada langsung, bukan menghapusnya," kata Titi Anggraini.
Menurut mereka, biaya politik yang tinggi kembali dijadikan alasan utama untuk menghidupkan kembali opsi pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Mereka juga menilai bahwa Pilkada langsung dapat menyebabkan praktek transaksi politik yang lebih brutal dan elitis.
Pengamat politik, Arifki Chaniago, menilai bahwa dari sisi biaya formal negara, Pilkada melalui DPRD memang cenderung lebih murah. Namun, dia juga menyoroti bahwa di titik inilah ilusi efisiensi bekerja. Ketika biaya negara menurun, biaya politik justru berpindah tempat.
"Biaya kampanye untuk seorang calon kepala daerah, kita terbuka saja, itu angkanya prohibitif. Mahal," kata Ahdi Doli Kurnia Tandjung, Wakil Ketua Umum Partai Golkar.
Sementara itu, pengajar Bidang Studi Hukum Tata Negara, Titi Anggraini, menilai bahwa argumen tingginya biaya politik untuk mengembalikan Pilkada tidak langsung melalui DPRD, tak tepat. Ia menyebutkan bahwa praktik transaksi politik yang lebih brutal dan elitis sering kali terjadi dalam praktek Pilkada oleh DPRD.
"Menghapus Pilkada langsung dengan dalih efisiensi biaya justru menghindari akar persoalan dan berpotensi melegitimasi praktik politik transaksional," kata Titi Anggraini.
Dalam konteks ini, partisipasi publik berisiko tereduksi secara mendasar dan mekanisme <em>checks and balances</em> berubah menjadi relasi saling sandera kepentingan antara eksekutif daerah dan DPRD.
"Jalan konstitusional yang tepat adalah dengan memperbaiki kualitas Pilkada langsung, bukan menghapusnya," kata Titi Anggraini.