Pemerintah, lagi-lagi memutuskan mengurangi produksi komoditas batu bara dan nikel di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya tahun 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah ingin mendorong harga batu bara kembali naik dengan memangkas target produksi menjadi kurang-lebih 600 juta ton untuk sektor batu bara, yang berarti menurun 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Menurut Bahlil, Indonesia sendiri menyuplai sekitar 514 juta ton batu bara atau 43% dari total volume perdagangan dunia. Kesempatan ini memungkinkan pemerintah untuk mengatur kembali produksi batu bara dan nikel di Indonesia agar tidak terganggu oleh harga komoditas yang naik.
Selain itu, pemerintah juga akan menyesuaikan target produksi nikel menjadi sekitar 250-260 juta ton, dibandingkan dengan target 379 juta ton pada tahun 2025. Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tri Winarno mengatakan penyesuaian dilakukan berdasarkan kebutuhan smelter di dalam negeri.
Penyesuaian produksi nikel ini ditujukan untuk mendorong kenaikan harga nikel, yang sempat menembus US$ 18.000 per ton setelah rencana diterapkan. Tri Winarno mengakui proses evaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya masih berlangsung, namun secara umum seluruh proses berjalan dengan baik dan dapat digunakan hingga Maret.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah ingin mendorong harga batu bara kembali naik dengan memangkas target produksi menjadi kurang-lebih 600 juta ton untuk sektor batu bara, yang berarti menurun 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Menurut Bahlil, Indonesia sendiri menyuplai sekitar 514 juta ton batu bara atau 43% dari total volume perdagangan dunia. Kesempatan ini memungkinkan pemerintah untuk mengatur kembali produksi batu bara dan nikel di Indonesia agar tidak terganggu oleh harga komoditas yang naik.
Selain itu, pemerintah juga akan menyesuaikan target produksi nikel menjadi sekitar 250-260 juta ton, dibandingkan dengan target 379 juta ton pada tahun 2025. Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tri Winarno mengatakan penyesuaian dilakukan berdasarkan kebutuhan smelter di dalam negeri.
Penyesuaian produksi nikel ini ditujukan untuk mendorong kenaikan harga nikel, yang sempat menembus US$ 18.000 per ton setelah rencana diterapkan. Tri Winarno mengakui proses evaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya masih berlangsung, namun secara umum seluruh proses berjalan dengan baik dan dapat digunakan hingga Maret.