Banyak masyarakat terjebak pada janji "makan lebih sehat, hidup lebih lama" yang seringkali menyesatkan. Menurut dr. Ezekiel J. Emanuel, onkolog dan pakar kebijakan kesehatan dunia, rahasia hidup lebih lama dan sehat bukan hanya melalui pola makan tertentu, tetapi juga pada kebiasaan sederhana yang bisa dijalani bertahun-tahun.
"Assupan nutrisi yang baik itu tentang membangun kebiasaan yang dapat Anda pertahankan selama bertahun-tahun, bukan hanya dalam hitungan minggu," katanya, mengutip CNBC Internasional. Konsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola makan sangat dianjurkan karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda.
Berikut enam mitos nutrisi yang menurut Emanuel sebaiknya segera ditinggalkan:
1. **Camilan Selalu Buruk**: Makanan ringan ultra-proses seperti keripik, biskuit, dan kue kemasan dirancang agar membuat orang terus makan tanpa sadar. Sedangkan camilan sehat seperti buah, kacang, yogurt, hummus, dan sayuran membantu mengontrol rasa lapar dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.
2. **Kita Harus Makan Protein Lebih Banyak**: Kebutuhan protein rata-rata hanya sekitar 0,75-1 gram per kilogram berat badan. Jika Anda mendapat protein yang cukup dari makanan sehari-hari, maka Anda tidak membutuhkan suplemen protein.
3. **Suplemen Serat Sama Baiknya dengan Makanan Asli**: Hanya sekitar 7% orang dewasa yang memenuhi kebutuhan serat harian. Namun, suplemen serat tidak bisa menggantikan makanan alami karena buah, sayur, kacang, dan biji-bijian mengandung berbagai jenis serat yang bekerja lebih efektif bagi kesehatan usus.
4. **Susu Rendah Lemak Selalu Lebih Sehat**: Penelitian menunjukkan bahwa susu full cream tidak berkaitan dengan kenaikan berat badan. Sedangkan anak-anak yang minum susu full-fat justru cenderung memiliki risiko obesitas lebih rendah dibanding yang minum susu rendah lemak.
5. **Semua Lemak Itu Buruk**: Jika tidak, justru lemak sehat sangat dibutuhkan tubuh. Minyak zaitun, kacang-kacangan, alpukat, dan produk susu alami berhubungan dengan risiko penyakit yang lebih rendah.
6. **Olahraga Bisa Menghapus Dosa Makan**: Berat badan dan metabolisme lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang dimakan dibanding seberapa keras seseorang berolahraga.
"Assupan nutrisi yang baik itu tentang membangun kebiasaan yang dapat Anda pertahankan selama bertahun-tahun, bukan hanya dalam hitungan minggu," katanya, mengutip CNBC Internasional. Konsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola makan sangat dianjurkan karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda.
Berikut enam mitos nutrisi yang menurut Emanuel sebaiknya segera ditinggalkan:
1. **Camilan Selalu Buruk**: Makanan ringan ultra-proses seperti keripik, biskuit, dan kue kemasan dirancang agar membuat orang terus makan tanpa sadar. Sedangkan camilan sehat seperti buah, kacang, yogurt, hummus, dan sayuran membantu mengontrol rasa lapar dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.
2. **Kita Harus Makan Protein Lebih Banyak**: Kebutuhan protein rata-rata hanya sekitar 0,75-1 gram per kilogram berat badan. Jika Anda mendapat protein yang cukup dari makanan sehari-hari, maka Anda tidak membutuhkan suplemen protein.
3. **Suplemen Serat Sama Baiknya dengan Makanan Asli**: Hanya sekitar 7% orang dewasa yang memenuhi kebutuhan serat harian. Namun, suplemen serat tidak bisa menggantikan makanan alami karena buah, sayur, kacang, dan biji-bijian mengandung berbagai jenis serat yang bekerja lebih efektif bagi kesehatan usus.
4. **Susu Rendah Lemak Selalu Lebih Sehat**: Penelitian menunjukkan bahwa susu full cream tidak berkaitan dengan kenaikan berat badan. Sedangkan anak-anak yang minum susu full-fat justru cenderung memiliki risiko obesitas lebih rendah dibanding yang minum susu rendah lemak.
5. **Semua Lemak Itu Buruk**: Jika tidak, justru lemak sehat sangat dibutuhkan tubuh. Minyak zaitun, kacang-kacangan, alpukat, dan produk susu alami berhubungan dengan risiko penyakit yang lebih rendah.
6. **Olahraga Bisa Menghapus Dosa Makan**: Berat badan dan metabolisme lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang dimakan dibanding seberapa keras seseorang berolahraga.