Nicolau dos Reis Lobato, sosok yang terpaksa melawan tiga tahun lama sebagai buruan utama militer Indonesia masih belum pernah ditemukan. Ia dilahirkan pada 24 Mei 1946 di Soibada, wilayah pedalaman Timor Leste. Ayahnya, Narciso Lobato, dan ibunya, Felismina Alves, membesarkannya dalam lingkungan yang sarat nilai Katolik.
Lobato kemudian melanjutkan pendidikan ke Seminari Nossa Senhora de Fatima di Dare. Di sana, ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang kelak berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Timor Leste seperti Francisco Xavier do Amaral, Presiden pertama Timor Leste, dan Alberto Ricardo da Silva, Uskup Dili.
Pada 1966, setelah meninggalkan seminari, Lobato menjalani wajib militer di angkatan bersenjata Portugis. Ia mempelajari taktik perang, struktur komando, disiplin tempur, dan penggunaan senjata. Keahlian yang kelak dipakai untuk melawan tentara Indonesia, bahkan jika perlu menentang kekuasaan kolonial Portugis.
Pada 1974, lobato mendirikan ASDT/Fretilin bersama tokoh-tokoh lainnya seperti Francisco Xavier do Amaral dan Jose Ramos-Horta. Lobata dipilih sebagai Wakil Presiden ASDT dan kemudian menjadi Presiden Fretilin setelah transformasi partai menjadi Fretilin.
Kemudian, pada akhir 1978, pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Jenderal M. Jusuf melakukan Operasi Seroja untuk menangkap Lobato. Kontak senjata pecah pada pagi 31 Desember. Pasukan Indonesia yang unggul dalam logistik, fisik, dan persenjataan melakukan penyergapan terkoordinasi. Kelompok Lobato terjepit di ceruk Gunung Mindelo.
Pertempuran berlangsung sengit namun tak seimbang. Menurut laporan Kompas edisi 2 Januari 1979 yang bertajuk “Hadiah Tahun Baru: Presiden Fretilin Tertangkap dan Tewas”, Lobato yang bersenjatakan AR-15 terkena tembakan fatal di kaki dan pahanya. Beberapa kesaksian menyebut setelah tertembak ia masih berusaha melawan, menolak menyerah hidup-hidup kepada pasukan yang ia lawan selama tiga tahun.
Tidak ada bendera putih dikibarkan. Pasukan Nanggala 28 mendekati sasaran untuk memastikan identitas. Tubuh kaku yang terbaring itu dikonfirmasi sebagai Nicolau dos Reis Lobato, target utama Operasi Seroja. Berita ini segera dilaporkan lewat radio ke markas komando di Dili dan diteruskan ke Jakarta sebagai hadiah tahun baru bagi pemerintahan Orde Baru.
Jenazah Lobato kemudian diangkut dengan helikopter, meninggalkan para pengikutnya yang tewas dan melarikan diri ke hutan dengan sisa pasukan arahan Xanana Gusmão. Setibanya di Dili, jenazah Lobato tidak langsung dimakamkan. Tubuhnya dijadikan tontonan pers dan dokumentasi militer.
Lobato kemudian melanjutkan pendidikan ke Seminari Nossa Senhora de Fatima di Dare. Di sana, ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang kelak berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Timor Leste seperti Francisco Xavier do Amaral, Presiden pertama Timor Leste, dan Alberto Ricardo da Silva, Uskup Dili.
Pada 1966, setelah meninggalkan seminari, Lobato menjalani wajib militer di angkatan bersenjata Portugis. Ia mempelajari taktik perang, struktur komando, disiplin tempur, dan penggunaan senjata. Keahlian yang kelak dipakai untuk melawan tentara Indonesia, bahkan jika perlu menentang kekuasaan kolonial Portugis.
Pada 1974, lobato mendirikan ASDT/Fretilin bersama tokoh-tokoh lainnya seperti Francisco Xavier do Amaral dan Jose Ramos-Horta. Lobata dipilih sebagai Wakil Presiden ASDT dan kemudian menjadi Presiden Fretilin setelah transformasi partai menjadi Fretilin.
Kemudian, pada akhir 1978, pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Jenderal M. Jusuf melakukan Operasi Seroja untuk menangkap Lobato. Kontak senjata pecah pada pagi 31 Desember. Pasukan Indonesia yang unggul dalam logistik, fisik, dan persenjataan melakukan penyergapan terkoordinasi. Kelompok Lobato terjepit di ceruk Gunung Mindelo.
Pertempuran berlangsung sengit namun tak seimbang. Menurut laporan Kompas edisi 2 Januari 1979 yang bertajuk “Hadiah Tahun Baru: Presiden Fretilin Tertangkap dan Tewas”, Lobato yang bersenjatakan AR-15 terkena tembakan fatal di kaki dan pahanya. Beberapa kesaksian menyebut setelah tertembak ia masih berusaha melawan, menolak menyerah hidup-hidup kepada pasukan yang ia lawan selama tiga tahun.
Tidak ada bendera putih dikibarkan. Pasukan Nanggala 28 mendekati sasaran untuk memastikan identitas. Tubuh kaku yang terbaring itu dikonfirmasi sebagai Nicolau dos Reis Lobato, target utama Operasi Seroja. Berita ini segera dilaporkan lewat radio ke markas komando di Dili dan diteruskan ke Jakarta sebagai hadiah tahun baru bagi pemerintahan Orde Baru.
Jenazah Lobato kemudian diangkut dengan helikopter, meninggalkan para pengikutnya yang tewas dan melarikan diri ke hutan dengan sisa pasukan arahan Xanana Gusmão. Setibanya di Dili, jenazah Lobato tidak langsung dimakamkan. Tubuhnya dijadikan tontonan pers dan dokumentasi militer.