Konsep New Gaza diumumkan ke publik sebagai bagian dari rencana perdamaian ala AS di Gaza. Rencana ini berfokus pada pembangunan kembali Kota Gaza menjadi kota modern dengan deretan gedung pencakar langit futuristik. Bisnis pariwisata dan investasi asing diharapkan dapat menarik turis dan meningkatkan ekonomi wilayah.
Namun, proyek ini telah menimbulkan kekhawatiran mengenai reduksi hak warga Gaza dan penyalahgunaan sumber daya negara tersebut. Hamas menolak untuk mendukung rencana ini karena tidak ada perubahan signifikan dalam status politik Gaza.
Proyek ini juga dianggap sebagai upaya AS untuk memperoleh kontrol lebih besar atas wilayah Mediterania dan mengamankan akses ke industri mineral di Teluk. Selain itu, proyek ini juga dipercaya dapat meningkatkan pendapatan AS dengan memberikan subsidi kepada warga Gaza yang meninggalkan tanah mereka.
Di sisi lain, warga Gaza telah mengecam rencana ini karena mengabaikan kebutuhan dan hak-hak mereka. Mereka percaya bahwa rencana ini hanya akan memperkaya elit Zionis dan tidak memiliki dampak positif bagi komunitas lokal.
Menurut Sultan Barakat, Profesor Kebijakan Publik di Hamad Bin Khalifa University, tanpa kepemilikan Palestina, legitimasi akan runtuh. Proyek ini juga menimbulkan ketidakstabilan kekuasaan dan perlu mempertimbangkan penanganan akar penyebab konflik.
Sementara itu, Rafeef Ziadah, Dosen Politik dan Kebijakan Publik di King's College London, mengatakan bahwa proyek ini sesungguhnya menguraikan keuntungan besar bagi AS. Ia percaya bahwa rencana ini hanya akan memperkaya investor asing dan tidak memiliki dampak positif bagi warga Gaza.
Dalam keseluruhan, konsep New Gaza diumumkan sebagai bagian dari rencana perdamaian ala AS di Gaza, namun telah menimbulkan kekhawatiran mengenai reduksi hak warga Gaza dan penyalahgunaan sumber daya negara tersebut.
Namun, proyek ini telah menimbulkan kekhawatiran mengenai reduksi hak warga Gaza dan penyalahgunaan sumber daya negara tersebut. Hamas menolak untuk mendukung rencana ini karena tidak ada perubahan signifikan dalam status politik Gaza.
Proyek ini juga dianggap sebagai upaya AS untuk memperoleh kontrol lebih besar atas wilayah Mediterania dan mengamankan akses ke industri mineral di Teluk. Selain itu, proyek ini juga dipercaya dapat meningkatkan pendapatan AS dengan memberikan subsidi kepada warga Gaza yang meninggalkan tanah mereka.
Di sisi lain, warga Gaza telah mengecam rencana ini karena mengabaikan kebutuhan dan hak-hak mereka. Mereka percaya bahwa rencana ini hanya akan memperkaya elit Zionis dan tidak memiliki dampak positif bagi komunitas lokal.
Menurut Sultan Barakat, Profesor Kebijakan Publik di Hamad Bin Khalifa University, tanpa kepemilikan Palestina, legitimasi akan runtuh. Proyek ini juga menimbulkan ketidakstabilan kekuasaan dan perlu mempertimbangkan penanganan akar penyebab konflik.
Sementara itu, Rafeef Ziadah, Dosen Politik dan Kebijakan Publik di King's College London, mengatakan bahwa proyek ini sesungguhnya menguraikan keuntungan besar bagi AS. Ia percaya bahwa rencana ini hanya akan memperkaya investor asing dan tidak memiliki dampak positif bagi warga Gaza.
Dalam keseluruhan, konsep New Gaza diumumkan sebagai bagian dari rencana perdamaian ala AS di Gaza, namun telah menimbulkan kekhawatiran mengenai reduksi hak warga Gaza dan penyalahgunaan sumber daya negara tersebut.