Pulau Nauru, yang dikenal sebagai negara demokrasi independen terkecil dan terkaya di dunia, kini menghadapi kebangkrutan ekonomi. Kenyataannya, pulau ini pernah menjadi salah satu negara terkaya di dunia, namun sekarang hanya memiliki sedikit aksen kekayaan.
Pada tahun 1907, pemerintah Inggris, Australia, dan Selandia Baru mulai eksploitasi sumber daya fosfat di Nauru. Hal ini menyebabkan ledakan ekonomi di pulau itu. Namun, setelah kekuatan asing meninggalkan Nauru pada tahun 1990-an, negara ini kembali menghadapi kesulitan ekonomi.
Pada suatu saat, Nauru menjadi surga pajak dengan menjual lisensi perbankan dan paspor. Namun, hal ini hanya memungkinkan oknum-oknum untuk menghasilkan uang, sementara rakyat biasa terus menderita. Bahkan, uang mafia Rusia senilai sekitar 55 miliar pound mengalir melalui bank-bank Nauru dalam satu tahun.
Kenyataannya, Nauru kini menjadi tempat pencucian uang karena kegilaan konsumsi di pulau itu. Penduduk Nauru membeli mobil-mobil mewah yang kemudian hanya berfungsi sebagai pengingat berkarat akan kejayaan Nauru pada masa lalu.
Namun, di balik kekayaan yang sebenarnya tidak ada, terdapat masalah lain seperti obesitas dan perokok. 70% penduduk Nauru tergolong obesitas yang dapat dikaitkan dengan terbatasnya akses negara itu terhadap makanan bergizi.
Dengan demikian, kita harus belajar dari kisah Nauru, yaitu bahwa kekayaan tidak selalu sama dengan kemakmuran. Kita juga harus waspada terhadap keserakahan segelintir oknum yang dapat menyebabkan negara runtuh karena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Pada tahun 1907, pemerintah Inggris, Australia, dan Selandia Baru mulai eksploitasi sumber daya fosfat di Nauru. Hal ini menyebabkan ledakan ekonomi di pulau itu. Namun, setelah kekuatan asing meninggalkan Nauru pada tahun 1990-an, negara ini kembali menghadapi kesulitan ekonomi.
Pada suatu saat, Nauru menjadi surga pajak dengan menjual lisensi perbankan dan paspor. Namun, hal ini hanya memungkinkan oknum-oknum untuk menghasilkan uang, sementara rakyat biasa terus menderita. Bahkan, uang mafia Rusia senilai sekitar 55 miliar pound mengalir melalui bank-bank Nauru dalam satu tahun.
Kenyataannya, Nauru kini menjadi tempat pencucian uang karena kegilaan konsumsi di pulau itu. Penduduk Nauru membeli mobil-mobil mewah yang kemudian hanya berfungsi sebagai pengingat berkarat akan kejayaan Nauru pada masa lalu.
Namun, di balik kekayaan yang sebenarnya tidak ada, terdapat masalah lain seperti obesitas dan perokok. 70% penduduk Nauru tergolong obesitas yang dapat dikaitkan dengan terbatasnya akses negara itu terhadap makanan bergizi.
Dengan demikian, kita harus belajar dari kisah Nauru, yaitu bahwa kekayaan tidak selalu sama dengan kemakmuran. Kita juga harus waspada terhadap keserakahan segelintir oknum yang dapat menyebabkan negara runtuh karena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.