BMKG Melihat Musim Hujan Sampai Maret 2026
Musim hujan di Indonesia diperkirakan masih berlangsung hingga Maret 2026, menurut analisis dan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Puncak musim hujan terjadi pada Januari 2026, terutama di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, dan sebagian Sulawesi Selatan.
Selama periode ini, wilayah tersebut diperkirakan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Pada Februari 2026, hujan diperkirakan mulai berangsur berkurang di beberapa wilayah. Wilayah Jawa dan Nusa Tenggara umumnya masih mengalami hujan, namun intensitasnya cenderung menurun dan musim hujan diperkirakan berakhir pada Maret hingga awal April 2026.
BMKG juga mencatat bahwa di sejumlah wilayah Maluku dan Papua, musim hujan dapat berlangsung lebih panjang bahkan sepanjang tahun. Meskipun intensitas hujan diprediksi menurun setelah Januari 2026, risiko bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor masih perlu diwaspadai hingga setidaknya Maret 2026.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026. Peningkatan ini terutama ditandai dengan hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, yang berisiko menimbulkan banjir, tanah longsor, serta gangguan transportasi.
Peningkatan cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh beberapa faktor alam yang terjadi secara bersamaan. Salah satunya adalah bibit siklon tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia yang memicu perubahan pola angin dan meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah selatan Indonesia.
BMKG juga memprakirakan potensi cuaca ekstrem akan terjadi secara bergantian di berbagai daerah. Pada 21β23 Januari 2026, hujan lebat berpotensi melanda Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
Musim hujan di Indonesia diperkirakan masih berlangsung hingga Maret 2026, menurut analisis dan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Puncak musim hujan terjadi pada Januari 2026, terutama di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, dan sebagian Sulawesi Selatan.
Selama periode ini, wilayah tersebut diperkirakan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Pada Februari 2026, hujan diperkirakan mulai berangsur berkurang di beberapa wilayah. Wilayah Jawa dan Nusa Tenggara umumnya masih mengalami hujan, namun intensitasnya cenderung menurun dan musim hujan diperkirakan berakhir pada Maret hingga awal April 2026.
BMKG juga mencatat bahwa di sejumlah wilayah Maluku dan Papua, musim hujan dapat berlangsung lebih panjang bahkan sepanjang tahun. Meskipun intensitas hujan diprediksi menurun setelah Januari 2026, risiko bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor masih perlu diwaspadai hingga setidaknya Maret 2026.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026. Peningkatan ini terutama ditandai dengan hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, yang berisiko menimbulkan banjir, tanah longsor, serta gangguan transportasi.
Peningkatan cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh beberapa faktor alam yang terjadi secara bersamaan. Salah satunya adalah bibit siklon tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia yang memicu perubahan pola angin dan meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah selatan Indonesia.
BMKG juga memprakirakan potensi cuaca ekstrem akan terjadi secara bergantian di berbagai daerah. Pada 21β23 Januari 2026, hujan lebat berpotensi melanda Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.