BMKG Menyatakan Siklon Tropis Senyar Punah, Warga Diminta Tetap Waspada
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menyatakan bahwa siklon tropis senar yang menyebabkan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Sumatra telah punah. Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, hal ini diumumkan setelah rapat koordinasi di gedung Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) di Jakarta Timur.
“Syukur alhamdulillah hari ini dia [Siklon Tropis Senyar] sudah punah tadi siang. Artinya, dia sudah tidak menjadi ancaman,” kata Guswanto. Ia menjelaskan bahwa siklon tersebut memicu rangkaian banjir dan tanah longsor di beberapa hari terakhir.
Siklon tropis senar ini berkembang dari bibit siklon tropis 95B di Semenanjung Malaya sejak 21 November lalu. Guswanto menyebut bahwa dampak yang ditimbulkan oleh siklon tersebut terasa lebih kuat karena tidak langsung melemah saat memasuki daratan Sumatra, khususnya wilayah Aceh.
“Kenapa dampaknya itu lebih dahsyat? Karena, dia begitu menginjak daratan Sumatra, artinya di wilayah Aceh, itu tidak langsung punah. Dia masih berputar dari Aceh Timur, kemudian keluarnya ke Aceh Tamiang,” jelasnya.
Meskipun siklon telah punah, Guswanto menyebut peringatan kewaspadaan tetap dikeluarkan menyusul hujan lebat dan banjir yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatra Utara. Pihak BMKG meminta masyarakat untuk berhati-hati dan mengambil langkah-langkah keamanan yang tepat.
“Kami masih melihat adanya MCC, Mesoscale Convective Complex, yang ada di Samudera Hindia. Nah, ini yang perlu untuk tanggap darurat. Perlu berhati-hati untuk wilayah Mandailing Natal dan Sumatera Barat karena masih ada hujan yang perlu diperhatikan,” katanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menyatakan bahwa siklon tropis senar yang menyebabkan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Sumatra telah punah. Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, hal ini diumumkan setelah rapat koordinasi di gedung Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) di Jakarta Timur.
“Syukur alhamdulillah hari ini dia [Siklon Tropis Senyar] sudah punah tadi siang. Artinya, dia sudah tidak menjadi ancaman,” kata Guswanto. Ia menjelaskan bahwa siklon tersebut memicu rangkaian banjir dan tanah longsor di beberapa hari terakhir.
Siklon tropis senar ini berkembang dari bibit siklon tropis 95B di Semenanjung Malaya sejak 21 November lalu. Guswanto menyebut bahwa dampak yang ditimbulkan oleh siklon tersebut terasa lebih kuat karena tidak langsung melemah saat memasuki daratan Sumatra, khususnya wilayah Aceh.
“Kenapa dampaknya itu lebih dahsyat? Karena, dia begitu menginjak daratan Sumatra, artinya di wilayah Aceh, itu tidak langsung punah. Dia masih berputar dari Aceh Timur, kemudian keluarnya ke Aceh Tamiang,” jelasnya.
Meskipun siklon telah punah, Guswanto menyebut peringatan kewaspadaan tetap dikeluarkan menyusul hujan lebat dan banjir yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatra Utara. Pihak BMKG meminta masyarakat untuk berhati-hati dan mengambil langkah-langkah keamanan yang tepat.
“Kami masih melihat adanya MCC, Mesoscale Convective Complex, yang ada di Samudera Hindia. Nah, ini yang perlu untuk tanggap darurat. Perlu berhati-hati untuk wilayah Mandailing Natal dan Sumatera Barat karena masih ada hujan yang perlu diperhatikan,” katanya.