Saya prihatin dengan kasus korban bunuh diri sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur. Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menyatakan bahwa tim Kemensos sedang berada di Ngada untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban.
Kasus ini menjadi kenangan penting mengenai pentingnya data yang akurat. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat memberikan perlindungan dan dukungan yang tepat kepada keluarga korban. Gus Ipul menyatakan bahwa dengan data yang akurat, semuanya bisa diberi perlindungan dan diberikan dukungan yang tepat.
Penguatan data menjadi dasar berbagai program perlindungan sosial, termasuk Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi keluarga kurang mampu. Salah satu contohnya adalah Inpres Nomor 5/2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Tim Kemensos masih melakukan asesmen di lapangan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi keluarga korban. Pemerintah juga membuka peluang dukungan pendidikan bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.
Kemensos telah memberikan santunan dan bantuan kepada keluarga korban, termasuk Rp9 juta untuk membantu mereka menghadapi kesulitan kehidupan. Bantuan tersebut mencakup Rp5 juta untuk biaya hidup, Rp1,5 juta untuk sembako dan nutrisi, serta Rp2,5 juta untuk dukungan sandang.
Dua kakak korban akan diberikan bantuan dukungan belajar keterampilan dan diupayakan untuk dapat bersekolah kembali. Saya harap ini menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya data yang akurat dan perlindungan sosial.
Kasus ini menjadi kenangan penting mengenai pentingnya data yang akurat. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat memberikan perlindungan dan dukungan yang tepat kepada keluarga korban. Gus Ipul menyatakan bahwa dengan data yang akurat, semuanya bisa diberi perlindungan dan diberikan dukungan yang tepat.
Penguatan data menjadi dasar berbagai program perlindungan sosial, termasuk Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi keluarga kurang mampu. Salah satu contohnya adalah Inpres Nomor 5/2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Tim Kemensos masih melakukan asesmen di lapangan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi keluarga korban. Pemerintah juga membuka peluang dukungan pendidikan bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.
Kemensos telah memberikan santunan dan bantuan kepada keluarga korban, termasuk Rp9 juta untuk membantu mereka menghadapi kesulitan kehidupan. Bantuan tersebut mencakup Rp5 juta untuk biaya hidup, Rp1,5 juta untuk sembako dan nutrisi, serta Rp2,5 juta untuk dukungan sandang.
Dua kakak korban akan diberikan bantuan dukungan belajar keterampilan dan diupayakan untuk dapat bersekolah kembali. Saya harap ini menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya data yang akurat dan perlindungan sosial.