Menprin Ungkap Penyebab RI Bergantung pada Impor Patu Ubi Kayu

Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Indonesia masih membutuhkan impor pati ubi kayu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meskipun produksi domestik sudah menguasai 79 persen pasar, namun ada masalah kualitas dan spesifikasi produk yang harus diselesaikan.

Pati ubi kayu adalah komoditas strategis digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, mulai dari pangan hingga non-pangan. Namun, industri dalam negeri masih tidak bisa bersaing dengan produk impor. Menurut Agus, terdapat beberapa industri pengguna yang membutuhkan bahan baku dengan spesifikasi yang hanya bisa didapatkan dari pati ubi kayu asal impor.

Data perdagangan menunjukkan nilai impor pati ubi kayu Indonesia mencapai 73,8 juta dolar AS. Angka ini naik 58,34 persen dibanding periode sebelumnya. Sementara itu, ekspor komoditas ini turun signifikan 54,59 persen menjadi 18,7 juta dolar AS.

Untuk mengatasi ketergantungan impor, pemerintah mendorong sinergi lebih erat antara produsen dan industri pengguna. Salah satu upayanya adalah melalui mekanisme Neraca Komoditas (NK) dan kegiatan Business Matching. Dengan demikian, industri pengguna mendapat jaminan pasokan bahan baku dengan kualitas yang sesuai langsung dari produsen lokal.

Dengan ini, harapan Agus bahwa industri pati ubi kayu dalam negeri dapat melakukan diversifikasi atas spesifikasi yang diperlukan oleh industri pengguna. Tujuannya agar industri pengguna mendapat jaminan pasokan bahan baku dengan kualitas yang sesuai langsung dari produsen lokal, sehingga ketergantungan pada impor dapat ditekan sekaligus meningkatkan utilisasi dan daya saing industri pati ubi kayu nasional.
 
Kalau gini kita harus terus impornya pati ubi kayu, kan? Mau buat apa lagi? πŸ€”

Aku pikir pemerintah harus membuat sistem yang lebih baik agaknya, biar produksi lokal bisa naik. Mungkin bikin sistem monitoring yang lebih baik agar industri lokal bisa bersaing dengan impor.

Kita lihat ini apa? [www.republika.co.id/online/artikel/21/08/13/192/1462357/jumlah-impornya-pati-ubi-kayu-taik-79-persen](http://www.republika.co.id/online/artikel/21/08/13/192/1462357/jumlah-impornya-pati-ubi-kayu-taik-79-persen) πŸ“Š

Gak bisa dipernah, kalau kita tidak mau berinovasi juga. Mari kita nantikan bagaimana cara pemerintah akan mengatasi masalah ini! πŸ’ͺ
 
Makasih ngebahas hal ini, tapi aku pikir produksi ubi kayu lokal sudah cukup oke juga, kayaknya nggak butuh impor lagi. 79 persen produksi domestik udah menguasai pasar, kok masih masalah kualitas? Kalau kualitas udah agak lebih baik, kenapa masih butuh impor? Aku rasa pemerintah harus fokus pada hal ini, lama-langelo banget. Jangan cuma ngebahas aksi-aksi yang kayaknya tidak berdampak sama sekali.
 
Wahhhh 😊, kalau pemerintah sudah banget ngatur program Business Matching buat memudahkan pasokan pati ubi kayu dari produsen lokal ke industri pengguna, itu pasti akan membantu banget 🀩! Dengan demikian, kita bisa mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan daya saing industri pati ubi kayu nasional. Saya harap pemerintah juga bisa menambah promosi produk ini agar banyak orang terkenal dengan pati ubi kayu yang berkualitas 🌟!
 
Pati ubi kayu, kan seperti itu seperti kue kering yang tidak pernah habis di rumah 🍰πŸ€ͺ. Impor pati ubi kayu sebenarnya nggak masalah, asalkan kita bisa mendapatkan kualitasnya yang pas dan spesifikasinya juga sesuai dengan kebutuhan industri pengguna. Saya harap pemerintah bisa membuat jaminan pasokan bahan baku yang berkualitas untuk produsen lokal, agar mereka bisa bersaing dengan impor 🀝🌟. Tapi, siapa tahu kalau pati ubi kayu itu seperti yang bilang Ibu Halimun, 'ini ada di kota, bukan disampingnya' πŸ˜‚.
 
Gak sabar banget sih kalau bisa mengejar penggunaan lebih banyak pati ubi kayu lokal! Masih tergantung terlalu berat pada impor aja, padahal potensinya ada di sini sendiri πŸ€”. Kalau produsen dan industri pengguna bisa bekerja sama dengan baik, pasti bisa menciptakan produk yang lebih berkualitas dan murah untuk konsumen. Kita harus bisa membuat produk ini semakin baik dan efisien, bukan hanya memikirkan harga jual yang murah aja! 🏭
 
aku pikir kayaknya pemerintah harus fokus pada meningkatkan produksi pati ubi kayu di dalam negeri, tapi aku juga mengerti bahwa ada masalah kualitas dan spesifikasi produk yang membutuhkan perhatian lebih dari giliran. tapi apa kita bisa membantu industri pati ubi kayu dengan cara belajar dari negara-negara lain yang sudah sukses dalam produksi pati ubi kayu, seperti Brasil atau Thailand? aku rasa kita harus fokus pada hal-hal yang paling penting yaitu meningkatkan kesadaran akan pentingnya makanan sehat dan konsumsi pati ubi kayu yang berkualitas. πŸ₯—πŸ’š
 
Pati ubi kayu, komoditas strategis banget! Saya pikir pemerintah harus makin serius dalam mengatasi ketergantungan impor ini. Jika Indonesia ingin meningkatkan daya saing di pasar domestik dan internasional, maka kita harus bisa bersaing dengan produk impor. Saya ragu-ragu kalau punya industri lokal yang bisa menghasilkan pati ubi kayu dengan kualitas yang kompeten. Maka dari itu, pemerintah harus makin serius dalam meningkatkan infrastruktur dan teknologi di bidang pertanian dan industri ini.
 
Kalau mau tahu rahasia suksesnya impor pati ubi kayu, pasti kita harus sadar bahwa tidak semua sesuatu yang mudah diperoleh pasti baik. Industri ini memang butuh seseorang yang hati-hati dan bijak dalam menentukan apakah itu benar atau salah. Kita jangan terburu-buru dalam memutuskan, karena itu bisa membuat kita kesal dan tidak efektif. Mari kita ambil contoh dari industri ini, kita harus mencari solusi yang tepat untuk meningkatkan produksi pati ubi kayu di dalam negeri, agar kita tidak tergantung pada impor yang mahal. Jadi, kita jangan takut untuk belajar dari kesalahan, tapi lebih fokus pada menemukan solusi yang tepat πŸ’‘πŸ”
 
Gue pikir kalau pemerintah jangan cuma fokus pada membuat atap yang bagus saja, tapi juga harus buat infrastruktur di dalam negeri gue laki-laki. Jadi, biar produksi pati ubi kayu domestik bisa berkembang, menteri itu harus buat fasilitas produksi yang lengkap dan modern di daerah-daerah yang ada potensi besar untuk menghasilkan komoditas ini. Gue juga rasa perlu ada kemampuan kerja sambil belajar (SKM) agar para petani ubi kayu bisa terus meningkatkan kualitas produce-nya. πŸ€”πŸ’‘

πŸ“ˆπŸ“Š
Apa yang dibutuhkan lagi oleh menteri Agus? Gue rasa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Fasilitas produksi yang lengkap dan modern.
- Kemampuan kerja sambil belajar (SKM) untuk para petani ubi kayu.
- Diversifikasi spesifikasi pati ubi kayu yang diperlukan oleh industri pengguna. πŸ“πŸ‘
 
Pati ubi kayu memang komoditas strategis, tapi kalau gini sih importnya nggak bisa disangsikan πŸ™„. Kalau produksi domestik sudah banyak banget, tapi masih kualitas dan spesifikasinya yang salah kayak apa? Maka dari itu, pemerintah harus fokus pada hal ini, bukan hanya terus menerus memperbanyak impor. Sementara itu, exportnya nggak bisa turun ya? Indonesia harus berani meningkatkan export-nya, bukan hanya import. Nah, kalau pemerintah bisa menyelesaikan masalah ini, maka pati ubi kayu local pasti bisa bersaing dengan impor 🀞.
 
Maaf, aku pikir kalau Indonesia bisa jadi tidak perlu impor pati ubi kayu lagi nih πŸ€”. Aku lihat produksi domestik sudah bisa menguasai 79 persen pasar, tapi masih ada masalah kualitas dan spesifikasi produk. Aku rasa pemerintah harus fokus memperbaiki hal itu dulu sebelum naikkan target impor lagi πŸ“ˆ.

Aku pikir jika industri dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor, tidak perlu terlalu banyak impor lagi. Tapi, aku juga sadar bahwa ada beberapa industri pengguna yang membutuhkan bahan baku dengan spesifikasi yang hanya bisa didapatkan dari pati ubi kayu asal impor πŸ€·β€β™‚οΈ. Aku rasa pemerintah harus mencari solusi yang bisa menyeimbangkan kebutuhan industri dan memperbaiki kualitas produk domestiknya πŸ’‘.

Aku harap pemerintah bisa meningkatkan sinergi antara produsen dan industri pengguna, sehingga industri pati ubi kayu dalam negeri bisa lebih berdaya saing πŸš€. Dengan demikian, kita bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan utilisasi dan daya saing industri pati ubi kayu nasional 🌟.
 
okee kan, ga percaya lagi kalau kita bisa buat sendiri di negara ini. pati ubi kayu itu penting banget khasnya untuk industri yang menggunakan bahan kimia. tapi kayaknya masih banyak sekali yang harus berubah, misalnya dari produksi domestik yang udah 79 persen sekarang masih ada masalah kualitas dan spesifikasi. gak bisa dipungut uang karena tidak sesuai standar. menteri itu salah satu upayanya adalah membuat sinergi antara produsen dan industri pengguna, yaitu dengan mekanisme neraca komoditas dan business matching. gimana kalau kita dapat mengatasi ketergantungan impor dan meningkatkan utilisasi pati ubi kayu nasional? [https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-aims-reduce-imports-ubi-kayu-2023-07-11/ ]
 
Aku pikir pemerintah harus fokus lebih pada mengembangkan infrastruktur pertanian kita, bukan cuma memaksa produsen lokal untuk meningkatkan kualitas produksinya. Impor masih menjadi pilihan utama karena kualitasnya pasti lebih jelas dan terjamin. Jika kita ingin meningkatkan daya saing industri pati ubi kayu nasional, maka perlu ada investasi yang cukup pada pengembangan teknologi dan sistem pengelolaan produksi yang baik. Tapi apa kebijakan ini akan menguntungkan produsen lokal? Atau lagi, bagaimana caranya kita bisa memastikan bahwa kualitas impor tidak hanya sama dengan kualitas lokal? πŸ€”
 
Ughhh, kenapa lagi nggak bisa pasirin banget ya?! 🀯 Minta-minta pemerintah mau berinvestasi di bidang pati ubi kayu sendiri, nggak butuh impor! πŸ™„ Masih justru ketergantungan terhadap impor. Saya rasa kalau ada lebih banyak industri yang bisa memanfaatkan pati ubi kayu lokal, tentu bisa meningkatkan nilai jualnya dan meningkatkan daya saing di pasar nasional! πŸš€ Tapi ya ga bisa, masih harus bergantung pada impor. Saya harap pemerintah mau berubah caranya dan fokus pada membangun industri pati ubi kayu sendiri. Mau nyanggup! 😎
 
Gampang banget pemerintahnya nih πŸ€·β€β™€οΈ. Kita udh mencobanya keras kayaknya, tapi masih gak bisa bersaing dengan impor. Mau apa lagi? πŸ€” Industri kita harus berinventar lebih kayak gini... πŸ˜…
 
kembali
Top