Tren menikah tanpa anak semakin kuat di kalangan generasi muda. Pernikahan, yang dulu selalu identik dengan kelahiran anak, kini menjadi pilihan yang tidak berlompar bagi pasangan urban dengan pendidikan yang tinggi. Mereka memilih untuk menikah tanpa memiliki anak, karena ingin lebih fokus pada karier dan biaya hidup yang meningkat.
Fenomena ini dikenal sebagai "DINK" atau pasangan dengan dua penghasilan tanpa anak. Tren ini tidak hanya muncul di negara maju seperti Amerika Serikat, tetapi juga semakin terlihat di Asia, termasuk China. Pemerintah China bahkan menghapus kebijakan satu anak dan menerapkan kebijakan dua anak pada tahun 2016, namun populasi China masih menyusut.
Pasangan yang memilih menjadi DINK memiliki alasan yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya karena tingginya biaya membesarkan anak, sementara yang lain karena pertimbangan karier. Mereka lebih ingin fokus pada kehidupan profesional dan tidak ingin gangguan dari kelahiran anak.
Tren ini juga semakin populer di media sosial China, dengan istilah "DINK" telah ditonton lebih dari 731 juta kali di Xiaohongshu. Istilah ini sebelumnya viral di media sosial, tetapi sekarang sudah menjadi pilihan yang tidak berlompar bagi pasangan muda.
Sementara itu, di Indonesia, tren DINK juga semakin kuat. Pasangan urban dengan pendidikan yang tinggi memilih untuk menikah tanpa memiliki anak karena ingin lebih fokus pada karier dan biaya hidup yang meningkat. Mereka lebih ingin memiliki kehidupan yang stabil dan tidak terganggu oleh kelahiran anak.
Namun, tren ini juga membuat beberapa orang khawatir tentang masa depan generasi muda di Indonesia. Apakah mereka akan memiliki anak jika tidak diperlukan? Bagaimana caranya untuk memiliki anak yang sehat dan masuk akal dalam era teknologi yang semakin canggih?
Tren DINK memang menunjukkan bahwa pasangan muda memiliki pilihan yang lebih luas dalam membuat keputusan tentang keluarga mereka. Namun, harus diingat juga bahwa ada konsekuensi sosial dan ekonomi yang perlu dipertimbangkan dalam memilih untuk tidak memiliki anak.
Fenomena ini dikenal sebagai "DINK" atau pasangan dengan dua penghasilan tanpa anak. Tren ini tidak hanya muncul di negara maju seperti Amerika Serikat, tetapi juga semakin terlihat di Asia, termasuk China. Pemerintah China bahkan menghapus kebijakan satu anak dan menerapkan kebijakan dua anak pada tahun 2016, namun populasi China masih menyusut.
Pasangan yang memilih menjadi DINK memiliki alasan yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya karena tingginya biaya membesarkan anak, sementara yang lain karena pertimbangan karier. Mereka lebih ingin fokus pada kehidupan profesional dan tidak ingin gangguan dari kelahiran anak.
Tren ini juga semakin populer di media sosial China, dengan istilah "DINK" telah ditonton lebih dari 731 juta kali di Xiaohongshu. Istilah ini sebelumnya viral di media sosial, tetapi sekarang sudah menjadi pilihan yang tidak berlompar bagi pasangan muda.
Sementara itu, di Indonesia, tren DINK juga semakin kuat. Pasangan urban dengan pendidikan yang tinggi memilih untuk menikah tanpa memiliki anak karena ingin lebih fokus pada karier dan biaya hidup yang meningkat. Mereka lebih ingin memiliki kehidupan yang stabil dan tidak terganggu oleh kelahiran anak.
Namun, tren ini juga membuat beberapa orang khawatir tentang masa depan generasi muda di Indonesia. Apakah mereka akan memiliki anak jika tidak diperlukan? Bagaimana caranya untuk memiliki anak yang sehat dan masuk akal dalam era teknologi yang semakin canggih?
Tren DINK memang menunjukkan bahwa pasangan muda memiliki pilihan yang lebih luas dalam membuat keputusan tentang keluarga mereka. Namun, harus diingat juga bahwa ada konsekuensi sosial dan ekonomi yang perlu dipertimbangkan dalam memilih untuk tidak memiliki anak.