Ledakan Besar di Bandar Abbas, Iran, Menghancurkan Bangunan Tempat Tinggal, Bukannya Serangan AS?
Sabtu (31/1/2026) siang itu terjadi ledakan besar di Bandar Abbas, Iran. Insiden ini menyebabkan dua orang tewas dan sedikitnya 13 orang lainnya terluka. Lokasi ledakan berada di sekitar Selat Hormuz yang dikenal sangat strategis sebagai jalur transportasi minyak dunia.
Menurut pejabat dan media setempat, penyebab ledakan Bandar Abbas adalah kebocoran gas. Kepala pemadam kebakaran, Mohammad Amin Lyaghat, menyebut gas tersebut lantas menumpuk di sebuah tempat hingga menimbulkan ledakan besar.
Dalam beberapa saat sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam melakukan serangan ke arah Teheran karena alasan tindakan keras kepada peserta demonstrasi anti-pemerintah dan belum tercapainya kesepakatan pembatasan program nuklir Iran. Namun, Pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, mengatakan di media sosial X bahwa penyusunan kerangka kerja untuk negosiasi dengan AS berjalan lancar.
Trump meyakini Iran ingin membuat kesepakatan ketimbang berhadapan dengan AS melalui operasi militer. "Iran sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu; jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi… kita memiliki armada besar yang menuju ke sana," kata Trump kepada Fox News.
Sementara itu, ledakan di Bandar Abbas bukan karena serangan AS melalui militernya yang saat ini berkumpul di perairan Timur Tengah. Kekhawatiran perang Iran vs Amerika Serikat tetap sebagai ancaman, namun pihak Iran tidak memberikan tanda-tandanya bahwa ledakan tersebut adalah akibat serangan AS.
Ledakan di Bandar Abbas menimbulkan kerusakan para pada dua lantai bangunan tersebut serta merusak beberapa kendaraan dan toko di sekitarnya. Sementara itu, kepala manajemen krisis Provinsi Hormozgan, Mehrdad Hassanzadeh, mengatakan bahwa dua orang dilaporkan tewas. Sudah ada 13 orang lainnya yang saat ini berada dalam perawatan medis.
Sabtu (31/1/2026) siang itu terjadi ledakan besar di Bandar Abbas, Iran. Insiden ini menyebabkan dua orang tewas dan sedikitnya 13 orang lainnya terluka. Lokasi ledakan berada di sekitar Selat Hormuz yang dikenal sangat strategis sebagai jalur transportasi minyak dunia.
Menurut pejabat dan media setempat, penyebab ledakan Bandar Abbas adalah kebocoran gas. Kepala pemadam kebakaran, Mohammad Amin Lyaghat, menyebut gas tersebut lantas menumpuk di sebuah tempat hingga menimbulkan ledakan besar.
Dalam beberapa saat sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam melakukan serangan ke arah Teheran karena alasan tindakan keras kepada peserta demonstrasi anti-pemerintah dan belum tercapainya kesepakatan pembatasan program nuklir Iran. Namun, Pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, mengatakan di media sosial X bahwa penyusunan kerangka kerja untuk negosiasi dengan AS berjalan lancar.
Trump meyakini Iran ingin membuat kesepakatan ketimbang berhadapan dengan AS melalui operasi militer. "Iran sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu; jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi… kita memiliki armada besar yang menuju ke sana," kata Trump kepada Fox News.
Sementara itu, ledakan di Bandar Abbas bukan karena serangan AS melalui militernya yang saat ini berkumpul di perairan Timur Tengah. Kekhawatiran perang Iran vs Amerika Serikat tetap sebagai ancaman, namun pihak Iran tidak memberikan tanda-tandanya bahwa ledakan tersebut adalah akibat serangan AS.
Ledakan di Bandar Abbas menimbulkan kerusakan para pada dua lantai bangunan tersebut serta merusak beberapa kendaraan dan toko di sekitarnya. Sementara itu, kepala manajemen krisis Provinsi Hormozgan, Mehrdad Hassanzadeh, mengatakan bahwa dua orang dilaporkan tewas. Sudah ada 13 orang lainnya yang saat ini berada dalam perawatan medis.