Pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi bencana alam. Ketika sekolah rusak dan sistem pembelajaran formal terhenti, risiko hilangnya kesinambungan cara berpikir yang sulit dipulihkan. Oleh karena itu, perlu ada pendekatan kurikulum yang berbasis intuisi untuk menjaga penilaian Test Kemampuan Akademik (TKA) dan meningkatkan capaian PISA RI.
Kurikulum yang berbasis intuisi ini tidak hanya mengajarkan hafalan, melainkan membantu anak memahami konsep dan menalar situasi. Dengan demikian, kemampuan memahami dan menalar menjadi fondasi agar standar akademik tetap tercapai. Perlu ditegaskan bahwa TKA tetap dijalankan dan capaian PISA ditargetkan meningkat.
Pendekatan berbasis intuisi ini dirancang berbeda sesuai kelompok usia dan dapat langsung dijalankan di wilayah terdampak bencana. Untuk anak usia dasar, kurikulum difokuskan pada numerasi dan literasi kontekstual. Anak anak di pengungsian dapat diajak menghitung kebutuhan air minum, membagi makanan secara adil, atau memperkirakan waktu tempuh menuju tempat aman.
Sains diperkenalkan melalui pengamatan sederhana, seperti mengapa air menjadi keruh atau mengapa hujan deras dapat menyebabkan banjir. Materi disampaikan melalui tayangan video singkat 3-5 menit, diskusi kelompok kecil, atau bahan ajar sederhana yang dapat diakses tanpa jaringan internet.
Untuk usia menengah, kurikulum diarahkan pada penalaran kritis, pengolahan data, dan tanggung jawab sosial. Remaja dilibatkan dalam simulasi nyata, seperti menghitung kebutuhan logistik pengungsian, membaca data curah hujan, membandingkan beberapa skenario mitigasi bencana, serta menelaah berita dan informasi keliru yang beredar.
Kurikulum ini tetap terstruktur dan terukur. Indikator pembelajaran disusun jelas untuk setiap kelompok usia, bahan ajar dirancang ringkas, dan penilaian formatif dilakukan secara berkala. TKA tidak dihapus, melainkan digunakan sebagai alat ukur dari pemahaman yang dibangun secara berkelanjutan.
Jika negara mampu bergerak cepat menyelamatkan fisik warganya saat bencana, maka negara juga harus bergerak cepat menyelamatkan masa depan intelektual anak-anaknya. Di tengah krisis, keputusan ini akan menentukan apakah Indonesia sekadar pulih, atau benar-benar melompat menuju Indonesia Emas dengan capaian TKA dan PISA yang tinggi.
Kurikulum yang berbasis intuisi ini tidak hanya mengajarkan hafalan, melainkan membantu anak memahami konsep dan menalar situasi. Dengan demikian, kemampuan memahami dan menalar menjadi fondasi agar standar akademik tetap tercapai. Perlu ditegaskan bahwa TKA tetap dijalankan dan capaian PISA ditargetkan meningkat.
Pendekatan berbasis intuisi ini dirancang berbeda sesuai kelompok usia dan dapat langsung dijalankan di wilayah terdampak bencana. Untuk anak usia dasar, kurikulum difokuskan pada numerasi dan literasi kontekstual. Anak anak di pengungsian dapat diajak menghitung kebutuhan air minum, membagi makanan secara adil, atau memperkirakan waktu tempuh menuju tempat aman.
Sains diperkenalkan melalui pengamatan sederhana, seperti mengapa air menjadi keruh atau mengapa hujan deras dapat menyebabkan banjir. Materi disampaikan melalui tayangan video singkat 3-5 menit, diskusi kelompok kecil, atau bahan ajar sederhana yang dapat diakses tanpa jaringan internet.
Untuk usia menengah, kurikulum diarahkan pada penalaran kritis, pengolahan data, dan tanggung jawab sosial. Remaja dilibatkan dalam simulasi nyata, seperti menghitung kebutuhan logistik pengungsian, membaca data curah hujan, membandingkan beberapa skenario mitigasi bencana, serta menelaah berita dan informasi keliru yang beredar.
Kurikulum ini tetap terstruktur dan terukur. Indikator pembelajaran disusun jelas untuk setiap kelompok usia, bahan ajar dirancang ringkas, dan penilaian formatif dilakukan secara berkala. TKA tidak dihapus, melainkan digunakan sebagai alat ukur dari pemahaman yang dibangun secara berkelanjutan.
Jika negara mampu bergerak cepat menyelamatkan fisik warganya saat bencana, maka negara juga harus bergerak cepat menyelamatkan masa depan intelektual anak-anaknya. Di tengah krisis, keputusan ini akan menentukan apakah Indonesia sekadar pulih, atau benar-benar melompat menuju Indonesia Emas dengan capaian TKA dan PISA yang tinggi.